Warga Bawukan Klaten Kembali Demo Tolak Stone Cruser Beroprasi.

Petugas berjaga jaga disekitar lokasi demo
Mattanews.com Klaten  – Ratusan warga dukuh Mbutuh, Desa Bawukan, Kecamatan Kemalang Klaten Jawa Tengah, kembali melakukan aksi demo menuntut penutupan usaha stone cruser (pemecah baru) yang ada di wilayahnya. Mereka meminta agar stone cruser ditutup karena  mengganggu warga. Sementara Bambang pemilik usaha nekad akan tetap membuka usahanya karena sudah mendapat “ijin restu” dari menteri BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal) Prof. Bahlil Lahadalia.  Rabu (8/7).

Dalam aksi yang berlangsung panas dan tegang, puluhan aparat TNI  dan Polri tampak berjaga- jaga di lokasi kejadian. Sementara dalam dialaog mediasi yang dipimpin langsung asisten II Setda Klaten Wahyu Prasetyo, didampingi kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu satu Pintu (DPMPTSP) Klaten,  Agus Suprato serta camat Manisrenggo Rahardjo Budi Setiyono MSi berjalan alot dan tidak membuahkan hasil.

Beberapa warga Bawukan kepaka wartawan menjelaskan usaha pemecah bantu (stone cruser) milik Bambang warga Sleman tersebut sebenarnya sudah ditolak warga sejak 2 tahun silam. Karena selain berada dilokasi padat penduduk, polusi suara bising dari mesin pemecah batu  dan debu sangat mengganggu warga. Sehinggaa warga sepakat meminta ketegasan aparat untuk secepatnya menutup usaha tersebut.

“Kami  minta kepada dinas terkait dan aparat keamanan secepatnya menutup stone cruser., Kami warga sekitar lokasi sangat  terganggu oleh debu dan bisingnya suara mesin pemecah batu. Jika aparat tidak segera menutup maka warga akan menggelar demo lebih besar lagi dan menutup paksa usaha tersebut”, ujar salah satu warga.

Bambang pemilik usaha stone cruser, saat ditemui mengatakan alasan warga yang menghendaki penutupan usahanya tersebut mengada-ada. Karena selain zona yang dipergunakan tidak menyalahi aturan, usahanya sudah mendapat persetujuan warga Bawukan, Kemalang, Klaten.
Asisten II Setda saat audensi dg warga dan pemilik usaha
“Saya sudah mengantongi surat perjanjian dengan warga Bawukan dan dari pemerintah desa Bawukan waktu pertama kali saya akan mendirikan usaha ini, sedangkan yang menolak keberadaan usaha saya ini merupakan warga dari luar daerah” ujar Bambang pemilik usaha stone cruser.

Selain itu lanjut Bambang dirinya sudah berkoordinasi dengan beberapa koleganya di Jakarta. Bahkan menteri Menteri BKPM sempat datang kesini dan menyatakan usaha ini boleh asal produksinya tidak lebih dari 160 m3. “ Saya akan terus beroprasi klarena sudahj mendapat ijin dari pak Menteri”, ujarnya.

Sementara beberapa sumber mengatakan ijin usaha yang dimiliki Bambang diduga banyak kejangagalan dan rekayasa. Misalnya masalah skala usaha dan besaran modal, termasuk tanda tangin warga. Sehingga dengan keluarnya ijin tersebut warga dan beberapa instansi banyak yang merasa kecolongan.

Camat Manisrenggo  Rahardjo Budi Setiyono saat diditemui menjelakan kasus tersebut saat ini sudah ditangani tim dari Kabupaten. Namun tampakanya hasil dialog saat ini juga belum mencapai titik temu. Sehingga jika masalah yang sudah ada sejak 2 tahun lalu tersebut tidak bisa selesai, maka jalan satu satunya membawa kasus ini ke Pengadilan.

“Jika tidak bisa diselesaikan lewat musyawarah, kita akan membawa masalah ini ke Pengadilan. Biar pengadilan yang memutuskan”, tegasnya. (lal)

Share on Google Plus

Salam mattanes

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...