Angka Stunting Di Klaten Tinggi. Capai 27 Persen.

Mattanews.com Klaten –  Angka penderita Stunting (kekerdilan akibat kekurangan giszi) di Kabupaten Klaten Jawa Tengah saat ini ternyata tergolong tinggi. Dari data yang kami himpun jumlah bayi di Klaten yang mengalami Stunting mencapai 27 persen dari total jumlah balita yang ada di Klaten sekitar 16 ribu anak balita.  Dari jumlah tersebut di wilayah Kecamatan Bayat jumlah penderita Stunting menempati rangking pertama.

Plt Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan dr Anggit Budiartho M.MR saat dikonfirmasi tidak mengelak dengan adanya temuan angka tersebut. Diakui masalah Stunting memang bukan masalah yang dapat diselesaikan begitu saja karena memerlukan penanganan yang komplek berkesinambungan dan terpadu. Dan saat ini pihaknya trus melakukan upaya medis dan non medis guna menekan angka tersebut.
dr Anggit Budiarto MMR.

“Saat ini kita terus berupaya melakukan berbagai langkah inovatif guna menekan terjadinya angka Stunting di Klaten yang memang pada per akhir November ini mencapai angka 27 persen dari jumlah total balita yang ada di Klaten. Harapan kita tahun depan angka tersebut akan menurun secara signifikan”, demikian dijelaskan dr Anggit saat ditemui diruang kerjanya.

Menurut dr Anggit saat ini Dinas Kesehatan Klaten menetapkan ada 8 langkah kongkrit menuju bayi sehat. Kegiatan tersebut sudah mulai dijalankan dan disosialisasikan diseluruh pelosok wilayah Klaten dengan ujung tombak, semua tenaga kesehatan yang ada, hingga ditingkat Puskesmas, dibantu, kelompok kesehatan yang ada di desa seperti, Posyandu, Germas, atau PKK.

8 langkah tepat menuju keluarga sehat tersebut antara lain, pemberian tablet tambah darah bagi kaum remaja putri seminggu 1X mulai dari siswa SMP hingga SMA, ditambah aksi Jum’at bergizi bagi siswi SMA, dimana saat ini di Klaten sudah ada 63 sekolah yang melakukan hal tersebut.

Kegiatan lain yang ada di desa meliputi, diadakan Posyandu remaja, mengadakan kelas ibu hamil, pemberian bayi exclusive selama 6 bulan pada bayi, diawali dengan ibu wajib melakukan aksi menyusui dini dengan cara meletakkan bayi didada sang ibu begitu anak baru saja dilahirkan.

Selanjutkan para ibu muda diberi penyuluhan dengan nama kegiatan PMBA (pembinaan Makan Bayi dan Anak) disini para ibu muda diajarkan dan diberi pengertian bagaimana cara memberi makan atau memilih makan yang benar dan baik pada balita. Terakhir Dinkes Klaten juga mengadakan kelas BGM (Balita Dibawah Garis Merah).   

Terkait Stunting sendiri, Anggit menjelaskan Stunting adalah masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu atau jangka tertentu. Sementara banyak factor kenapa Balita bisa terkena Stunting. Bisa terjadi kekurangan gizi sejak dalam kandungan dimana sang ibu tidak memperhatikan pola makan saat hamil, atau pola makan yang salah pada bayi, atau faktor lain yang terkait dengan pola merawat bayi yang benar.

Sedang gejala Stunting dapat dilihat dari beberapa hal antara lain, Anak berbadan lebih pendek untuk anak seusianya, Proporsi tubuh cenderung normal tetapi anak tampak lebih muda/kecil untuk usianya, Berat badan rendah untuk anak seusianya serta  Pertumbuhan tulang tertunda (tev)


Share on Google Plus

Salam mattanes

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...