Empat Bakal Calon Kepala Desa Ceporan Tempuh Jalur Hukum,Gugat Palona.

KLATEN MATTANEWS.COM - Empat pendaftar bakal calon kepala desa Ceporan, Gantiwarno, Klaten bakal menempuh jalur hukum menyusul tidak lolosnya mereka sebagai bakal calon kepala desa. Dari 8 pendaftar calon kepala desa, Palona Desa Ceporan pada Jum’at pagi hanya meloloskan 3 calon yang berhak manggung dan menggugurkan 5 balon lainnya. Karena merasa "dijegal oleh oknum Palona" maka empat bakal Kepala Desa terpaksa menempuh jalur hukum.

Guna untuk megawal proses hukum tersebut, empat bakal calon telah mempercayakan permasalahan tersebut kepada pengacara dari Yogyakarta. Langkah hukum itu diambil karena, kelimanya merasa dijegal dan di rampas haknya untuk ikut berpartisipasi dalam Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) di Ceporan,  Gantiwarno,  Klaten. 

"Kami merasa ini merupakan upaya penjegalan terhadap hak kami sehingga kami berinisiatif membawa permasalah ini keranah hukum" TerangTri Winarni salah satu pendaftar yang tidak lolos. 
Kantor Desa Ceporan Klaten

Dari keterangan Tri Winarni,  Kelima pendaftar bakal calon kepala desa Ceporan, Gantiwarno, Klaten telah sepakat untuk membawa permasalah itu ke ranah hukum.
Kegagalan ke lima peserta tersebut menurut Informasi yang berkembang dilapangan, kelimanya terlambat mengembalikan formulir pendaftaran di atas jam yang telah di tetapkan panitia. 

Namun hal tersebut dibantah Tri Winarni, mereka mengembalikan formulir pendaftaran ke panitia sebelum ditutupnya jam pendaftaran. 
"Kami mengembalikan formulir pendaftaran sebagai bakal calon peserta pilkades sebelum batas akhir pendaftaran yang ditetapkan oleh panitia yaitu sebelum jam 15.30" Ujar Tri Winarni.

Senada dengan apa yang disampaikan oleh Tri Winarni, Ketua panitia pemilihan kepala desa Ceporan M.Sunarto (Sebelum di ganti) menyatakan penutupan pendaftaran pada jam 15.30 WIB. Pernyataan tersebut dinyatakan kepada salah satu media  cetak Jawa Tengah. 
Adanya kegaduhan tersebut menurut salah satu tokoh masayarakat Ceporan, Gantiwarno, Totok mencurigai adanya ketidak netralan panitia dalam pemilihan saat ini. Hal ini di buktikan adanya perubahan susunan panitia pemilihan. 

"Ada yang tidak beres dengan panitia pelaksana pemilihan saat ini,  sehingga keputusan yang diambil oleh panitia seakan berpihak pada salah satu calon "Ujar Totok tegas. 
ada informasi yang sampai ke saya  Panitia yang dulu diduga diintimidasi dan mendapat tekanan sehingga mengundurkan diri sebagai ketua. Untuk mengungkap hal tersebut, Totok mendukung langkah hukum yang diambil oleh ke empat pendaftar yang dinyatakan tidak lolos. 

"Tidak salah apabila keempat pendaftar mengambil langkah hukum karena panitia yang sekarang terlihat kasat mata berpihak pada salah satu peserta" Imbuh Totok.

Dari keterangan beberapa sumber dijelaskan sebelum pendaftaran pihak Palona desa Ceporan telah melakukan sosialisasi ke dukuh-dukuh yang menjelaskan jika pelaksanaan pendaftaran pilkades ditutup hingga pukul 15.30 sesuai hari kerja. Pengumuman yang disampaikan tersebut diperkuat dengan pengumuman tertulis yang tertempel di kantor balai desa.

Hal inilah yang memicu kegaduhan dan akhirnya keempat bakal calon terpaksa menempuh jalur hukum, karena tidak adaa ketegasan Palona dalam menetukan jam batas akhir pendaftaran.

“jika memang batas akhir pendaftaran pukul 14.00 atau jam 2 siang, kita yang daftar pada pukul 14.30 seharusnya sudah ditolak sejak awal dan jangan diterima. Lha ini kita daftar jam 14.30 masih diterima, dan diberi surat tanda pendaftaran berikut berkas persyaratan yang harus dilengkapi. Artinya kita masih diterima. Tapi kenapa koq tiba-tiba Palona merubah kebijakan kita dinyatakan gugur dengan alasan batas akhir pendaftaran jam 2 siang.Jelas ini ada permainan yang tidak fair”, ujar salah satu Balon yang gagal manggung.(hil)


Share on Google Plus

Salam mattanes

1 komentar:

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...