Warga Bendo Kembali "Hidupkan" Puspo Rinonce

Suasana latihan
KLATEN MATTANEWS.COMPara sesepuh dan tokoh masyarakat kampung Bendo, Kelurahan Buntalan Klaten Tengah kembali “Gumregah” menghidupkan kesenian krawitan yang selama ini tertidur cukup lama. Gagasan ini diwujudkan dengan membeli seperangkat peralatan gamelan guna melestarikan sekaligus mengajari anak anak generasi muda agar tetap kenal dan selalu mencintai budaya leluhur yang merupakan kesenian tradisional nenek moyang yang memiliki nilai luhur yang tinggi.

Ketua paguyuban kesenian kerawitan M.Johan Katung,SE, didampingi Edy Padmono SH selaku sekretaris menjelaskan keingin warga untuk menghidupkan kesenian gamelaan sudah ada sejak lama. Namun karena terbentur beberapa hal dan masalah teknis baru dapat terlaksana sekitar satu bulan lalu.

Menurut Johan kesenian kerawitan dengan nama sanggar Puspo Rinonce sudah ada di wilayahnya sejak tahun 1980an, dengan para pendiri seperti almarhum Sudiyono, S.Hadiwiyono, Suwito, Harsomijan yang kala itu memang merupakan tokoh seni dibidang krawitan. Sehingga lanjut Johan jika sekarang Puspo Rinonce dihidupkan kembali memiliki tujuan melestarikan budaya leluhur dan mengajari generasi muda sekarang agar tidak lupa dengan keseneian asli daerahnya. 
Puspo Rinonce
“Harus kita akui saat ini banyaka budaya asli Inddonesia yang musnah dan para generasi mudanya tak mengenal lagi budaya asli Indonesia. Budaya kita banyak tergerus oleh budaya luar, terutama budaya eropa atau arab. Hal ini tentunya tidak boleh terjadi. Untuk itu kami bermaksud mengenalkan dan mengajari anaka muda di wilayah ini untuk mengenal kembali budaya Indonesia yang dikenal adiluhung dan berkarya tinggi”, ujarnya.

Sementara itu Sekretaris sanggar Puspo Rinonce Edy Padmono, SH, menegaskan berdirinya Pusporinone murni kemauan warga yang ingin kembali menghidupakn budaya dan ajaran jawa yang telah hilang di wilayahnya. Pendirian Pusporinonce sendiri mendapat apresiasi dari para tokoh muda dan tokoh sepuh di Bendo yang cinta akan keseniaan khususnya budaya Jawa.

“Semua kami lakukan secara swadayaa karena cinta kesenian dan cinta budaya leluhur, disini kami tidak melibatkan pemerintah baik dari tingkat kabupaten hingga tingkat RW. Semua keperluan dan kebutuhan kamai sengkuyung secara gotong royong sukarela”, tegasnya. Dan ternyata antusias warga sangat luar biasa hampir semua mendukungnya.
 
Pagelaran sekaligus nyadaran dikampung Bendo
Acara  nabuh bareng atau latihan sendiri berjalan rutin 3 kali dalam seminggu. Selain para bapak-bapak kegiatan ini juga melibatkan para ibu-ibu, remaja serta anak-anak. Sementara pembina kerawitan langsung didatangkan dari ISI Surakaarta serta salaah satu tokoh kerawitan Klaten yang juga mantan juara bowo se Jawa Tengah yakni Bagus Patut Wicaksono.(tev) 

Share on Google Plus

Salam mattanes

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...