Watu Sepur Jotangan Obyek Wisata Alam Edukasi Religi.

Puncak Watu Sepur Jotangan Bayat Klaten
KLATEN MATTANEWS.COMWilayah kecamatan Bayat dengan alam geografis yang didominasi pegunungan dan hutan dan tegalan, memang memiliki daya tersendiri jika semua potensi alamanya digali secara maksimal. Dan kini warga tampakanya mulai sadar dan berinovasi. Buktinya hanya dalam waktu tidak kuraang dari setahun di wilayah kecamatan Bayat sudah banyak bermunculan obyek wisata dengan sajiaan keindahan dan keelokan alam pegunungannya.

Sebut saja obyek wisata Gunung Cinta dan watu perahu di desa Gunung Gajah, obyek wisata Watu Sepur didesa Jotangan, Obyek wisata alam Kawah Putih di desa Talang, obyek wisata Potorium Bukit Patrom yang satu paket dengan obyek wista lengendaris bukit Toris di desa Kampak, Kraakitan, serta Obyek wisata Pertapan di desa Kebon dan kini masih dalam proses penggarapan obyek wisata alam di dukuh Karangasem. Krakitan serta obyek wisata Sapit Urang di Dukuh, dimana dari kesemua obyek tersebut mengekplor habis tentang keindahan alam Bayat yang indah asri dan masih perawan.

Salah satu dari sekian obyek wisata tersebut kini masih terus berbenah ialah obyek wisata Watu Sepur yang ada di desa Jotangan Kecamatan Bayat berbatasan dengan dua desa yakni Desa Wiro, Desa Krakitan. Sama dengan obyek wisata alam lain di Bayat,  Watu sepur tetap mengandalkan exsotisme tumpukan batu memanjang yang menyerupai kereta api serta peninggalan bebatuan bersejarah yang berada diketinggan 150 meter dari permukaan laut.
Pintu masuk menuju obyek watu sepur
Memanjang mulai dari Desa ngalas bersambung masuk wilayah Jimbung dan Ngemplak Kalikotes pegunungan batu kapur tersebut memang memiliki keindahan dan panorama indah. Keindahan semakin mempesona sambungan pegunungan tersebut masuk wilayah Desa Jotangan yang nantinya akan berakhir di komplek makam Syeh Domba Bayat.

Obyek Watu sepur sendiri barada dalam gugusan pegunungan Kembang Sari yang membentang dari utara keselatan persis berada di timur obyek wisata Rowo Jombor. Selain obyek utama berupa watu sepur yang konon adalah serombongan pasukan kerajaan, diatas pegunungan Kembang sari masih terdapat peninggalan batu –batuan bersejarah yang kini masih menjadi misteri. Sebut saja Watu Galar, Watu Payung, Watu jaran, Watu Lawang dan masih banyak lagi.  

Untuk menjangkau obyek wisata Watu sepur tidak terlalu sulit, selain jalan menuju lokasi yang semua sudah beraspal, letaknya tidak terlalu jauh dengan ibu kota Kaabupaten. Ada 3 jalan alternatif untuk menuju kesana, jika dari arah Selatan pengunjung bisa melalui jalan depan Makam Ki Ageng pandaran Bayat lewat Krikilan terus keutara. Sedang bagi wisatawan yang kebetulan tengah berada di waduk Rowo Jombor langsung bisa menuju kearah timur melewati jalan Gunung Pegat dengan panorama hutannya yang indah. Sedang jika dari utara pengunjung bisa melalaui jalan Kalikebo kearah Desa wiro dan sampai dilokasi.  
 
Jalan menanjak menuju watu sepur
Memasuki kawasan wisata Watu Sepur kita akan dimanjakan dengan suasana alam dan pegunungan yang indah menjulang cukup tinggi. Dengan berjalan sekitar 150 meter kita sudah bisa mencapai puncak watu sepur. Dan jika kita ingin melihat keindahan alam kota Klaten atau terbenamnya matahari kita bisa naik lagi menuju puncak watu galar. Disini kita bisa melihat ke indahan waduk Rowo Jobor, kota Solo dan Klaten di sore hari, dengan panorama alam yang indah dan cantik.

Walau masih perawan dan belum digarap secara optimal, namun tempat ini sangat cocok untuk wisata keluarga. Karena beberapa fasilitas penunjang seperti lahan parkir, Gasebo, MCK, Mushola serta tempat-tempat istirahat sudah mulai dibangun pengelola. Dengan hanya merogoh kocek Rp 2000 sekali masuk, kita bisa menikmati keindahan alam disekitar Watu Sepur.

Watu sepur sendiri adalah bongkahan batu padas berwarna putih yang memanjang dari utara keselatan dengan panjang sekitar 240 meter dengan ketinggian permukaan bervariatif mulai 1 hingga 3 meter dengan lebar sekitar 3 meter. Konon menurut cerita Watu sepur terjadi karena adanya sabda dari salah satu punggawa atau senopati kerajaan saat pasukan musuh akan menyerang. Menurut Cerita dari arah Barat muncul rombongan prajurit yang dipimpin oleh seorang senopati akan menyerang sebuah desa yang ada disebelah timur.

Ketakutan kedatangan rombongan prajurit ini disampaikan pada sang panglima perang dan punggawa kerajaan. Oleh sang punggawa kerajaan ketakutan itu hanya dijawab dengan kata kata itu bukan rombongan prajurit tapi tumpukan batu yang menyerupai sepur. Maka seketika itu pula rombongan pasukan musuh berubah menjadi batu termasuk sang panglima perangnya yang asih ada diatas kudanya.

Kini batu Kuda yang konon dijadikan kendaraan sang senopati masih ada di puncak pegunungan Kumbang Sari bersama dengan keberadaan watu Galar, watau payung dan watu Jarum. Namun sayang untuk batu jaran, bagian kepalanya sudah terputus karena pernah terkena sambaran petir. Sedang watu lawang dan Watu Payung masih dapat kita lihat. Menurut Cerita adalah payung dan  umbul umbul dari peninggalan para prajurit yang ikut terkena sumpah menjadi batu. Hingga kini di tepat-tempat tersebut masih cukup wingit, dimana kita tidak boleh sembrangan bertutur kata dan berbuat. Diwaktu waktu tertentu tempat tersebut masih dikunjungi oleh orang-orang keperluan tertentu.  

Keindahan alam sekitar serta lokasi yang mudah dijangkau, kedepan tampaknya obyek wisata Watu Sepur akan dijadikan obyek wisata alam regili edukasi. Hal ini disampaikan oleh salah satu anggota pengelola mas TW yang sempat bincang-bincang dengan MATTTANEWS. Menurutnya saat ini pengelolaan obyek wisata Watu Sepur sepenuhnya dikelola oleh komunitas Bogoran Peduli, yakni komunitas anak muda dan warga Jotangan yang peduli akan keselamatan kelestarian lingkungan serta sosial.  

“Kedepan watu sepur akan kita jadikan obyek wisata alam edukasi religi, dimana tempat ini akan kita tata menjadi kawasan wisata outbond, camping, bumi perkemahan, lintas alam serta taman edukasi lain yang bermanfaat bagi pengunjung, terutama anak anak sekolah”, ujarnya.

Karena arahnya sudah pada wisata alam yang sifatnya mendidik dan mencetak kemandirian tanggung jawab dan kecerdasan anak, maka kedepan ditempat ini tidak akan ada pertunjukan musik seperti ndangdut, sebagai media promosi menggaet pengunjung.” Kitaa akan pyur menjadi wisata alam yang mampu menggugah pengunjung lebih mencintai alam, setelah berkunjung kesini. Sehingga suasa hingar bingar sangat kita hindari, termasuk pertunjukan musik di area ini”, tegasnya.

Menurut TW saat ini dia dan temen-teman masih berusaha secara mandiri, tanpa antuan dari pihak manapun juga termasuk dari desa. Namun semangat dan dedkasi temen-temen yang tergabung dalam komunitas Bogoran Peduli mampu menyulap lahan hutan jati tersebut menjadi lebih tertata rapi.

Masuk ke area Watu Sepur, suasana alami memang masih terasa kuat. Masih belum banyak stand orang jualan atau menjajakan souvenir. Walau sudah mulai ditata, namun keberadaan tempat tempat istirahat seperti Mushola, gasebo dan rumah istirahat masih sangat kurang. Termasuk baru ada dua buah toilet.” Kita memang masih dalam proses pembenahan berjalana mas, sehingga semua fasilitas akan terus kita tambah agar tempat ini lebih nyaman untuk diku njungi”, ujarnya.
Deretan batu cadas putih menyerupai rangkaian kereta api
Menurut TW, kedepan obyek wisata Watu Sepur akan dilengkapi lahan untuk bumi perkemahan, lintas alam, lokasi outond anak sekolah berikut instruktur dan peralatannya, lapangan kecil terbuka untuk kegiatan pengunjung yang memerlukan tempat luas, penambahan beberapa joglo untuk tempat pertemuan, toilet Mushola, serta keberadaan kolam renang untuk anak.

Walau masih baru lanjut TW keberadaan obyek wisata Watu Sepur sudah cukup dikenal warga Klaten. Terukyi dihari-hari libur, Sabtu dan Minggu tempat ini ramai dikunjungi wisatawan. Mereka datang dari berbagai daerah di Klaten. Bahkan Watu Sepur sering digunakan oleh dinas instansi atau perusahaan untuk kegiataan-kegiatan tertentu yang memerlukan suasana tenang dan nyaman. Terakhir di Watu sepur juga sukses menyelenggarakan lomba lukis dan gambar tingkat TK dan SD.

Apapun yang dilakukan mas TW dan temen-temennya sungguh luar biasa. Dengan keterbatasan dan semangat maju yang tinggi mereka tanpa lelah mencoba menggeliat mengoptimalkan potensi yang ada didesanya. Belum ada satupun bantuan datang dari luar yang masuk untuk pengelolaan Watu Sepur. Selaa ini mereka hanya mengandalkan pendapatan dari karcis masuk Rp 2000/orang untuk membiayai operasional dan perawatan  fasilitas wisata.(advetorial)




Share on Google Plus

Salam mattanews com

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...