Manjung Cikal Bakal Desa Soun Di Klaten Yang Melegenda

Suasana penjemuran soun setelah dicetak
KLATEN MATTANEWS.COMMelihat atau mendengar kata Soun (mie putih) terbuat dari bahan pati onggok, ingatan kita pasti akan langsung tertuju pada sebuah nama desa Manjung. Ya karena dari desa inilah usaha rumahan makanan jenis soun pertama kali di produksi di Klaten. Sejak dulu Manjung memang dikenal sebagai desa penghasil soun terbaik. Kini usaha soun telah menjadi industri usaha utama warga Manjung dengan jangkauan pemasaran hampir keseluruh pelosok kota di tanah Jawa bahkan Sumatara.

Menurut beberapa sumber awal produk usaha makanan jenis soun ini sudah ada mulai pertengahan tahun 1960. Saat hanya ada beberapa warga yang membuka usaha dengan peralatan sangat sederhana. Bahkan saat itu tempat untuk menjemur soun basah hanya memakai pelepah bambu yang dikeringkan. Namun seiring perkembangan jaman inovasi peralatan terus dilakukan guna peningkatan hasil produksi.


Era keemasan soun Manjung Klaten terjadi sekitar tahun 1980 hingga akhir tahun 2000. Dimasa-masa  itu soun produk Manjung mampu merabah semua pasar tradisional dan modern hampir di semua kota-kota besar seperti Medan, Lampung, Jakarta, Surabaya, Malang, Semarang, Jogya, Bandung, Bogor dan kota kota lain di pulau Jawa. Kualitas yang baik dan cita rasa serta membuat soun produk Manjung mampu mengalahkan soun dari produk lain.


Diera modern dan banyaknya aneka pilihan sajian makanan cepat saji saat ini, ternyata produk soun Manjung Klaten tidak mengalami perubahan. Soun sebagai salah satu produk makanan kering untuk perlengkapan sayur dan soto ini tetap menjadi salah satu menu pilihan utama masyarakat Indonesia. Bahkan dibanding tahun-tahun lalu jumlah pengusaha soun justru mengalami peningkatan. Saat ini di Manjung ada sekitar 95 pengusaha soun, dengan jumlah produksi sekitar 5,6 ton/sebulan soun siap dikirim kepasaran.

Ekwan Sutanto salah satu pengusaha soun sukses saat ditemui MATTANEWS dikediamannya menuturkan dirinya terpaksa droup out kuliah dan terjun menekuni dunia soun karena memang memiliki prospek dan harapan baik untuk meningkatkan ekonomi keluarga. Dan perhitunganya benar, merintis dari Nol sekaligus meneruskan usaha sang ayah dirinya kini mampu mandiri menjadi seorang pengusaha sukses.
Soun yang sudah jadi dipecking siap dikirim
”Saya dulu sempat kuliah dan terpaksa milih drop out karena melihat usaha membuat soun lebih bisa memberi harapan hidup. Maka dengan bimbingan sang ayah saya merintis memulai usaha membuat soun dari nol hingga sekarang”, ujarnya.

Untuk bahan baku pembuatan soun menurut Tanto, para pengerajin mendapatkan dari para pedagang tepung pati onggok dari desa Bendo, Kecamatan Tulung, Klaten. Namun jika permintaan banyak, tak sedikit pengerajin langsung mendatangkan pati onggok dari Ciamis atau Tasikmalaya, dengan harga Rp 4300/kg. Sementara kebutuhan pengerajin setiap mengambil minimal sebanyak 7 ton tepung pati onggok setengah jadi.

Menurut lelaki yang punya hobi mancing ini, hingga saat ini para pengerajin soun di wilayahnya tetap mampu bertahan dan eksis walau persaingan usaha semakin ketat dan kompetitif. Selain banyaknya daerah lain yang juga membuat soun, di Klaten sendiri kini juga ada daerah sentra pembuat soun yakni Desa Bendo Tulung. Padahal dulu desa ini hanya sebatas pemasok bahan baku soun. Namun karena membuat soun merela lihat cukup menjanjikan akhirnya selain pembuat pati onggok warga desa Bendo ikut membuat soun.

“Pengerajin disini sudah sangat mapan dana kompak mas. Selain semua sudah masuk wadah Koperasi, kami semua sudah tahan banting dan banyak makan asam garam tentang luki-liku membuat soun berikut kendalanya. Sehingga kita semua tahu harus bagaimana jika menghadapi masa sulit dan kapan harus menggenjot pruduksi”, ujarnya.
Tempat pengolahan tepung tapioka sebelum dicetak
Jangkauan pemasaran soun produk Manjung memang sudah tersebar hampir disemua kota besar di Indonesia. Hal itu diakui Tanto, karena hingga saat ini dia dan para pengerajin lainya sering mengirim produk keluar Jawa. Para pedagang kadang datang langsung ke Manjung namun tak sedikit yang minta dikirim lewat angkutan darat atau lau. Namun diakui sebagian besar pemasaran soun Manjung dikirim ke wilayah Jawa Timur dan Sumatera.

Sebagai desa sentra industri, masyarakat Desa Manjung kini memang boleh dibilang hidup diatas rata – rata sejahtera. Pendapatan ekonomi yang baik dan banyaknya tenaga kerja yang terserap membuat ekonomi warga Manjung semakin baik. Pembangunan sarana dan prasarana desapun berkembang dengan pesat. Kesadaran warga untuk berswasembada dan bergotong royong karena menyuskuri limpahan rejeki, membuat pembangunan desa Manjung maju disegala sektor. Hal ini tak lepas dari hasil Produksi soun mereka yang terus meningkat.
 
Soun siap dikirim kepasaran 
Saat ini banyak aneka menu makanan cepat saji dan modern. Banjir masakan dari luar negeripun terjadi merambah hingga pelosok desa. Mulai dari menu Italia, makanan khas Jepang, atau pitzza ala Amerika dan aneka makanan lainya sangat mudah kita dapatkan disekitar kita. Namun Soun masakan tradisional khas  Jawa ini, hingga kini masih digemari dan memiliki pelanggan tersendiri. Soun masih menjadi salah satu menu masakan favorite sebagian besar masyarakat Klaten.

Hingga sat ini Soun juga masih menjadi pilihan para ibu rumah tangga untuk membuat sayuran dan menu makanan sehari- hari. Mulai untuk bahan campuran kue, atau makanan lainnya. Hambar dan kurang lengkap dan kurang mak nyus apabila menu bakso, membuat Sosis, atau makan soto yang tersaji didepan kita tanpa ada sounnya.

Dan soun produk Manjung, Klaten Jawa Tengah akan tetap dan terus berproduksi tentunya dengan kualitas yang semakin baik dan higenis. Dan sudah menjadi komitmen semua warga dan pengerajin soun di Manjung untuk tetap melestarikan dan mempertahankan produksi Soun dan tetap menjadikan Manjung sebagai cikal bakalnya pembuat dan penghasil Soun di Klaten.(advetorial)  



Share on Google Plus

Salam mattanews com

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...