Ekwan Sutanto Jawara Mancing Yang Ternyata Sosok Pengusaha Soun Sukses.

Tanto bersama Isticomah sang istri tercinta
KLATEN MATTANEWS.COMBagi para pemancing di era tahun 1990 mereka mungkin tak pangling lagi dengan sosok yang satu ini. Karena dulu dia memang dikenal salah satu dari sekian banyak master dan jawara mancing yang handal di Klaten. Namun siapa sangka jika dibalik kehalusanya tangannya saat menarik senar dan mengangkat joran dikalom, dia adalah sosok pengerajin Soun yang ulet dan sukses.

Dialah Ekwan Sutanto pria berusia 41 tahun warga dukuh Tegalrejo, Desa Manjung, Kecamatan Ngawen, Klaten Jawa Tengah. Bapak dari 3 anak ini kini sukses meneruskan usaha orang tuanya menjadi pengerajin soun (mie putih) dengan produksi hampir 1 ton soun siap kirim dalam sebulan. Alahasil dengan profesinya tersebut, suami dari istri yang bernama Isticomah mampu mengangkat ekonomi keluarga lebih baik, serta menyekolahkan ke tiga putra putrinya.


Sempat merasakan bangku kuliah dan memilih drop out, Ekwan yang punya hobi mancing ini lebih sreg meneruskan usaha sang ayah sebagai pengusaha soun, ketimbang kuliah. Dan kini berkat keuletan dan pilihan jalan hidupnya usahanya berkembang dengan pesat. Dengan merekrut 5 tenaga kerja tiap hari hasil produksinya bisa mencapai 2-3 kwintal soun siap jual.
Soun usai dipaking untuk segera dikirim
Ditemui dirumahnya di desa Manjung, Kecamatan Ngawen Klaten, mantan jawara mancing di era tahun 1990an ini mengaku semua keberhasilan yang diraihnya berangkat dari nol dan hanya bermodalan  nekad dan semangat. Awalnya semua pekerjaan dilakukannya sendiri. Mulai dari mencari bahan baku, mengolah pati onggok hingga menjadi soun sampai proses menjemur dan menjualnya. Namun dirinya tak pernah menyerah. Bimbingan dan gemblengan orang tua membuat dirinya tetap semangat dan bangkit hingga akhirnya kini menuai panen. 


“Saya dulu sempat kuliah mas. Namun karena pilihan hidup saya keluar dan lebih memilih meneruskan usaha bapak. Alhamdullillah pilihan saya tepat. Saat ini saya bisa mencukupi kebutuhan hidup istri dan ketiga anak saya dan menyekolahkan hingga perguruan tinggi. Biar anak-anak yang kuliah dan menjadi orang pintar saya hanya mendukung dan membiayai”, ujarnya.

Merintis usaha dari nol sejak 18 tahun silam tepatnya diawal tahun 2000 Tanto kini memiliki 5 karyawan dibantu satu tenaga sopir dan pemasaran tetap, dengan gaji diatas UMR plus kesejahteraan lainnya seperti seperti, makan dan  kesehatan. Ditangan kelima karyawan ini proses pembuatan tepung pati onggok tiap hari diolah mulai dari bahan setengah jadi hingga menjadi soun siap jual.

Untuk proses pembuatan soun lanjut dirinya memerlukan waktu sekitar 3 sampai 4 hari. Bahan baku pati onggok setengah jadi selama 3 hari tiga malam direndam air sambil dibilas hingga bersih. Setelah benar-benar bersih dan higenis baru dimasak dengan cara direbus untuk dibuat soun. Soun yang baru keluar dari cetakan dan masih basah langsung ditempatkan pada nampan seng untuk dikeringkan dengan proses penjemuran sekitar 3 jam atau tergantung cuaca. Sehingga kendala utama para pengerajin soun menutur tanto ada pada factor cuaca.”Jika musim hujan produk kita sedikit menurun mas, karena sulit mendapat panas matahari”, ujarnya. 
 
Suasana penjemuran soun
Dengan merek produk soun *RAJAWALI M NARI* setiap hari Tanto mampu memproduksi soun siap jual sekitar 2-3 kwintal. Sementara harga perkilo soun dipasaran bisa mencapai Rp 19.000/kg dan Rp 14.000/kg masih lanjaran (belum diiket). Sedang untuk ukuran Bal dengan isi 20 iket harga jualnya mencapai Rp 99 ribu.

Untuk bahan baku menurut lelaki bertubuh kecil ini, bahan baku pati onggok dipasok dari daerah Bendo Kecamatan Tulung Klaten. Namun jika pengiriman sulit dirinya langsung mendatangkan pati ongok dari Tasimalaya atau Ciamis Jawa Barat.

Dalam sekali pengiriman dirinya mampu menampung 7 ton pati onggok setengah jadi dengan harga Rp 4300/kg. Bahan sebanyak itu jika diolah yang menjadi pati hanya sekitar 75 persen dan sisanya 25 persen menjadi ampas. Hanya dalam 10 hari bahan tersebut akan habis dan menjadi soun siap jual. Untuk pemasaran menurutnya tak begitu sulit karena selain sudah punya langganan tetap hasil produksinya kadang diburu pedagang dari luar kota yang langsung datang kerumah. “Pasar saya wilayah Jogya - Magelang, Semarang Purwokerta hingga Jawa Barat mas. Kadang kita kirim kesana tapi lebih banyak pedagang dating kesini untuk ambil dagangan”, tuturnya.
Soun siap kirim kepelanggan
Ketika disinggung penghasilan setiap bulannya Bapak dari anak pertama Diva, anak kedua Rifat dan si bungsu Isfa ini enggan mengaku terus terang. Yang jelas menurutnya cukup untuk bertahan hidup, membiayai anak anak sekolah Insya Allah sampai perguruan tinggi dan menabung.”Pokoke cukup lan ono turahane mas iso nggo mancing opo nebas mlinjo” tandasnya.

Hidup adalah pilihan dan Mas Ekwan Sutanto telah memilih jalan hidupnya sendiri, dan kini menjadi seorang pengerajin atau pengusaha Soun yang sukses. Kunci dari seua itu lanjut Tanto ialah kejujuran, keuletan, kerja keras serta kemauan yaang disertai doa. Semangat ini hendaknya hendaknya bisa menjadi inspirator generasi muda saat ini yang terkadang lebih mementingkan gensi dari pada sebuah kerja nyata. Selamat Mas Tanto ditunggu kapan nebas mlinjone (advetorial)



Share on Google Plus

Salam mattanews com

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...