Bayat Menuju Kota Destinasi Wisata Alam Edukasi Religi.

Masjid Golo Bayat peninggalan Walisongo
KLATEN MATTANEWS.COMBayat, sebuah daerah dengan luas wilayah sekitar 39.43 kilometer persegi dengan jumlah penduduk mencapai kuraang leih 80 ribu jiwa. Dengan ibukota kecamatan Bayat yang letakanya sekitara 12 kilometer tenggara ibu kota Klaten, wilayah ini memang dikenal sebagai daerah pegunungan kapur yang tandus.

Berbatasan dengan pegunungan Kapur (kendeng) Gunung Kidul Yogyakarta, Bayat memang dikenal sebagai daerah rendah namun tandus. Geografis tanah yang 85 persen pegunungan kapur dan tanah padas serta tegalan, membuat daerah ini di era tahun 1980 hingga tahun 1990an dikenal sebagai daerah merah (miskin atau desa tertiggal). Tak adanya lahan pertanian yang memadai, membubat warga Bayat lebih senang hidup Boro (merantau) ke Jakarta hidup sebagai tenaga buruh bangunan atau kerja di pabrik. Maka tak heran jika waktu itu Bayat dikenal sebagai Daerah Boro karena hampir 80 persen warganya baik lelaki perempuan hidup di perantauan.

Namun kini stigma atau stempel Bayat yang identik dengan kemiskinan rumah gedek jalan tanah, sulit air, hidup susah,makan Gaplek dan tiwul, kini telah pudar dan nyaris hilang. Bayat yang sekarang telah berubah 190 derajat dari kondisi dulu, dimana hampir disemua sektor pembangunan dan kemajuan berjalan bersamaan dengan pesat. Jika dulu 18  desa yang ada hampir semuanya masuk desa merah (IDT) atau pra sejahatera, kini hanya tinggal 2 desa yang masuk katagori zona merah yakni, desa Banyuripan dan Jarum.
Edy Purnomo Camat Bayat Klaten
“ Menurut cerita wilayah Bayat memang terkenal sebagai daerah miskin yang gersang, dimana produktivitas perekonomian masyarakatnya sangat rendah. Maka tak heran jika Bayat sempat masuk dalam zone merah, karena hampir semua desanya masuk dalam katagori desa tertinggal dengan masyarakatnya yang pra sejahtera. Namun itu masa lalu, kini Bayat telah berbenah sejak sekitar tahun 2000 Bayat mulai bergeliat untuk maju”, demikian dituturkan Edy Purnomo Camat Bayat saat bincang-bincang dengan MATTANEWS.     

Menurut Edy, sebenarnya Bayat bukan daerah miskin yang minim potensi kekayaan yang tidak bisa digali. Hanya saja saat itu memang belum ada warga atau tokoh yang mampu atauaa tergerak hatinya memanfaatkan potensi dan kekayaan alam Bayat secara maksimal. Warga baru terbagun dan tergerak hatinya dari tidur panjangnya, sekitar tahun 2000an. Saat itu warga mulai gumregah dan cancut taliwondo untuk bekerja membangun desanya dan belajar hidup mandiri dan berwirausaha.Hal itu seiring dengan ditandai munculnya trend jajanan ala Bayat yakni warung HIK (Hidangan Istimewa Klaten) dari Desa Ngerangan yang mampu menjadi Booming hingga dikenal diseluruh wilayah Indonesia. Sejak itu Bayatpun dikenal sebagai cikal bakal lahirnya warung HIK jajanan rakyat kecil yang begitu fenomenal.

Kini dibawah kepemimpinannya sebagai kepala wilayah Edy Berjanji akan al out bekerja untuk rakyat Bayat dan akan menjadikan Bayat sebagai destinasi wisata alam yang akan mampu menggeret wisatawan lokal dan manca negara datang ke Bayat.” Sebagai pimpinan wilayah saya telah mendapat ijin serta dukungan sepenuhnya dari ibu Bupati Klaten Hj Sri Mulyani untuk menggarap semua potensi kekayaan alam di Bayat. Dukungan penuh ini menjadi salah satu penyemangat saya untuk bekerja siang malam menjadikan Bayat sebagai salah satu daerah wisata alam dan religi atu-satunya di Klaten”, ujar Edy.

Jika dulu Bayat hanya mengandalkan waduk Rowo Jombor di desa Krakitan untuk obyek wisata, saat ini lanjut Edy banyak potensi wisata alam di Bayat yang sudah mulai digarap. Kondisi geografis alam dan tanah pegunungan menjadi pendukung utama Bayat menggarap potensi wisata alam yang bersifat religi dan edukasi. Dulu alam pegunungan, hutan dan tempat-tempat situs sejarah terbengkelai begitu saja. Warga hanya menggunakan untuk keperluan sehari-hari seperti diamabil tanahnya atau dijadikan tegalan tanaman singkong. Padahal disitu terdapat potensi kekayaan lam yang luar biasa.
 
Obyek wisata mancing embung Krikilan
Dan kini sedikitnya sudah ada 10 destinasi wisata alam di Bayat yang layak dikunjungi dan mampu menghasilkan pendapatan yang luar biasa. Sebut saja obyek wisata Bukit Cinta Watu Perahu di Gunung Gajah, obyek wisata Kawah Putih di desa Talang, Watu Sepur di desa Jotangan, obyek wisata alam dan edukasi Bukit pertapan di desa Kebon, Fotorium bukit patrom di desa Krakitan, wisata air Embung Krikilan di desa Krikilan, ditambah obyek wisata yang sudah ada sebelumnya seperti keberadaan Masjid Golo, peninggalan para Wali Songo yang berdampingan dengan makam Sunan Pandanaran Bayat, kampung Batik yang ada hampir disemua desa, kampung gerabah atau keramik, keberadaan makam Wiring Kiled di desa Tegalrejo, serta obyek wisata legendaris waduk Rowo Jombor.

Dengan menggeliatnya semua potensi kekayaan alam yang ada serta kemandirian berwirausaha warganya yang mulai tumbuh, maka tak heran Bayat yang sekarang sangat jauh berbeda dengan Bayat di era tahun 1980an. Semua pembangunan Infrastruktur mulai dari jalan jembatan dan bangunan berjalan baik. Jalan beraspal hotmik atau cor sudah masuk hingga pelosok kampung. Tingkat pertumbuhan ekonomi warganyapun meningkat pesat dengan tingkat kesejahteraan yang memadai, termasuk jenjang pendidikan bagi anak anak usia sekolah hingga bangku kuliah. Nyaris tak ada lagi warga Bayat yang hidup dalam katagori pra sejahatera. (advetorial bersambung)


 

Share on Google Plus

Salam mattanews com

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...