Bu Paryatun Dengan Lumut Kolonjono Mampu Sekolahkan Anak Ke Jenjang Sarjana.

Bu Paryatun setia melayani lumut pemancing 
KLATEN MATTANEWS,COM Bagi para pemancing di Klaten, khususnyaa para strek mania Rowo Jombor tentu tidak akan asing dengan sosok perempuan paruh baya ini. Karena hampir setiap hari dengan ramah beliau selalu setia melayani para pemacing yang ingin mencari ikan di waduk Rowo jombor.

Ibu Paryatun atau akrab dipanggil bu Atun, memang hampir setiap hari datang ke Rowo Jombor untuk menjual lumut untuk umpan mancing ikan Nila di Rowo. Namun siapa sangka ketekunan menjual lumut ini dia mampu menyekolahkan dua anaknya hingga ke perguruan tinggi. Bahkan anak pertamanya sebentar lagi akan merampungkan S1nya sebagai sarjana kesehatan di STIKES Klaten.

Ditemui disela-sela melayani para pembeli ibu dua anak ini mengaku menekuni usaha jual lumut sejak 6 tahun lalu. Dirinya tidak menyangka usaha yang dirintis dari nol ternyata mampu menjadi tiang ekonomi keluarga hingga dirinya mampu menyekolahkan kedua anaknya yakni Anisa anak pertama hingga ke perguruan tinggi dan Syahrul anak kedua yang kini masih duduk di bangku SMP.   

Sekitar tahun 2012 usaha menjual lumut mulai dirintisnya. Awal pertama dirinya tidak tahu mana lumut yang bagus atau jelek atau lumut kasar atau halus. Yang penting dagangannya laku terjual habis. Namun seiring berjalannya waktu dirinya mengaku sudah dapat membedakan mana lumut halus dan mana lumut kasar. Omsetpun meningkat dari satu karung sehari menjadi 2 hingga 6 karung sehari.

“Semula saya jual lumut apa adanya mas. Pokoke adol lumut payu alhamdulillah. Tapi sekarang sudah bisa membedakan mana lumut halus, mana lumut kasar dan mana lumut mati yang tidak laku dijual karena tidak disukai ikan. Tapi sekarang saya sudah tahu apa yang diinginkan pemancing”, ujar istri Murtado warga dukuh Kregan, Karangnongko, Klaten Jawa Tengah ini.
Kolam budidaya lumut
Kwalitas lumut bu Atun memang sudah diakui oleh para pemancing di Rowo Jombor. Bahkan keunggulan lumut hasil budidaya sendiri ini pasarannya sampai ke Wonogiri, Solotigo bahkan ke Wadas Lintang. Umumnya mereka pesen lumut dengan julah besar saat musim makan ikan Nila. Biasanya itu terjadi sekitar bulan Desember hingga Maret atau musim penghujan.

Harga lumut memang tidak ada patokannya. Namun dengan ramah dan sabar Bu Atun siap melayani pembeli mulai dari harga Rp 3000 hingga partai besar hingga 50.000. Namun umumnya pelanggannya membeli dengan harga Rp 10.000 untuk sekali mancing.
Dalam sehari Bu Atun mampu menghabiskan 2 karung sak lumut. Untuk lumut halus harganya Rp 350 ribu/sak dan lumut kasar Rp 250 ribu/sak. Setiap hari dirinya berangkat pagi dari rumah, mulai dasar membebuka dagangannya sekitar pukul 09.00, pulang sekitar pukul 2.30 sore.    

Lain halnya dengan Bu Atun, ternyata sang suami dirumah juga memiliki usaha yang tak kalah hebatnya yakni sebagai petani rumput Kolonjono. Murtado sang suami telah menyewa tanah kas desa yang kurang produktif untuk budidaya rumput kolonjono dan kolam pemijahan lumut.

“Kami wong ndeso mas. Yen ora obah ora mamah. Maka dengan bekal nekad dan yakin saya merintis usaha ini dari Nol. Dan Alhamdullillah kini sudah bisa menikmati pannen, walau belum seperti yang diharapkan”, ujarnya saat ditemui ditengah kesibukannya memanen rumput kolonjono disawah.

Saat ini lanjut Murtado dirinya justru kekurangan lahan untuk menanam rumput kolonjono. Banyaknya permintaan, maka dirinya harus pandai-pandai mensiasati pola tanam agar dapat panen terus. Rumput kolonjono lanjut Murtado dapat dipanen setelah umur 3 minggu dari tanam. Maka agar produksi panen tidak mandek, dirinya melakukan pola tanam berjenjang, sehingga stiap hari bisa panen.

Menurut Bapak dua anak ini sekali panen dirinya mampu mengumpulkan 40 hingga 60 ikat rumput kolonjono dengan harga berkisar Rp 20.000 hingga Rp 25.000/ikat. Rumput dijual ke wilayah Klaten hingga ke Kaliadem Yogyakarta dan Boyolali. Umumnya rumput kolonjono untuk pakan ternak sapi mereka. Harga tersebut kadang bisa naik jika musim kemarau.
 
Pak Murtado saat panen Kolonjono
Sosok lelaki ulet ini memang layak kita acungi jempol. Karena dengan sistim tumpang sari dia mampu memanfaatkan lahan yang ia sewa menjadi lahan produktif tanpa sisa. 6 kolam pembenihan lumut sekitaranya ditanami rumput kolonjono dengan fungsi melindungi kolam sekaligus dapat dipanen. Selain kolam pembenihan lumut dirinya juga membuat beberapa kolam untuk budidaya ikan. Sehingga tak ada sedikitpun tanah tersisa nganggur.

Untuk memelihara suket kolonjono, lumut serta budidaya ikan dapat tumbuh subur dan berkembang baik Murtado mengaku selalu memakai pupuk kompos atau pupuk teletong. Dirinya jarang bahkan tak pernah menggunakan pupuk kimia seperti urea atau ZA. Menurutnya pupuk kompos dan pupuk alami, hasilnya justru lebih baik dan tidak merusak tanah.

“Kita sudah bagi tugas mas. Ibuk ngurusi lumutnya dan saya ngurusi suket kolonjononya. Alhamdullillah semua dapat berjalan dengan baik dan cukup untuk menghidupi keluarga dan menyekolahkan kedua anak saya”, ujarnya.(batavia)


Share on Google Plus

Salam mattanews com

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...