Bupati Hj Sri Mulyani Buka Festival Gejok Lesung Ke 4 Tahun 2018.

KLATEN MATTANEW.COM -  Festival Gejog Lesung (FGL) ke 4 tahun 2018 tingkat Kabupaten Klaten digelar di Lapangan Desa Barepan, Kecamatan Cawas pada Sabtu (21/7/2018). FGL diikuti oleh 31 tim, terdiri dari 25 tim dari kecamatan dan 5 tim dari desa di Kecamatan Cawas. Festifal dibuka resmi oleh Bupati Klaten Hj Sri Mulyani ditandai dengan pemukulan lesung.

Panitia FGL yang juga Camat Cawas Moh Nasir melaporkan, Festival Gejog Lesung digelar sebagai rangkaian peringatan Hari Jadi ke 214 Kabupaten Klaten dan HUT ke 73 Republik Indonesia. Dan kali ini diikuti oleh hampir semua perwakilan dari wilayah se Kabupaten Klaten.
Bupati saat resmikan festival gejok lesung (ft ist)
“Festival Gejog Lesung bertujuan untuk melestarikan budaya Jawa, menjaga harmonisasi antara alam, lingkungan, dan manusia, serta sebagai media pendidikan karakter melalui seni musik tradisional. Panitia menyediakan hadiah uang pembinaan dan piagam bagi para juara,” katanya.
Moh Nasir menjelaskan, setiap tim diberi kesempatan tampil 10 menit. Tim membawakan lagu wajib Lesung Jumengglung dan lagu pilihan, yaitu Gugur Gunung, Ronda Kampung, Ronda Malam, dan lainnya. Adapun penilaian meliputi harmonisasi, koreografi, kostum, serta kreativitas
Bertindak sebagai dewan yuri para akademisi, yaitu dari ISI (Institut Seni Indonesia) Yogyakarta, ISI Surakarta, dan Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT).  Dengan penunjukan yuri dari luar diharapkan penilaian murni karena kualitas seni yang disuguhkan.
Bupati Klaten Sri Mulyani dalam sambutan mengapresiasi Festival Gejog Lesung ini. “Melalui Festival Gejog Lesung ini secara tidak langsung akan menumbuhkan kecintaan kepada budaya sendiri. Bila generasi muda sudah cinta pada budaya sendiri, maka dengan sendirinya akan melestarikannya dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Sri Mulyani berharap, FGL bisa digelar rutin setiap tahun. Selain itu  bupati berharap panitia dan masyarakat terus melakukan kreatif dan inovatif. Karena lanjut Bupati selain memberi hiburan pada masyarakat, gejok lensung merupakan budaya tradisional peninggalan nenek moyang yang harus dilestarikan dan pertahankan.
“Festival Gejog Lesung ini jangan (digelar) monoton. Ngene-ngene wae. Mengko ndak jenuh. Kalau sudah jenuh, (keberadaan) gejog lesung tidak lestari lagi. Bisa punah. Maka, kita harus kreatif dan inovatif,” ujarnya.
Sementara pengamat dan pelaku seni Klaten Haryo Jimbling Notokusumo mendukung penuh kegiatan seni yang dilakukan oleh warga Klaten, termasuk kesenian gejok lesung. Menurutnya Gejok lesung tradisi nenek moyang yang dilakukan sebagai ungkapan rasa terima kasih para petani atas hasil panen yang melimpah.
"Keseenian ini menggambarkan rasa syukur dan terima kasih masyarakat khususnya petani kepada Sang Maha Kuasa atas hasil panen yang melimpah. (kam/get)

Share on Google Plus

Salam mattanews com

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...