Kisruh Pengisian Perangkat Desa 3 Peserta Dapat Nilai 0 (NOL)


KLATEN Mattanews.ComDi tenggah sanjungan masyarakat terkait suksesnya pelaksanaan ujian pengisian perangkat desa di Klaten, oleh beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di nilai masih jauh dari kata profesional dan obyektif dalam pelaksanaannya. Penilaian kurang profesionalnya perguruan tinggi dalam melaksanakan ujian pengisian perangkat desa, menurut beberapa Lembaga Swadaya MAsyarakat (LSM) dapat di lihat dengan molornya pengumumkan hasil ujian, terjadinya kekeliruan dalam memasukan nilai hasil ujian dan adanya protes dari peserta ujian yang merasa dicurangi  atas hasil akhir dari ujian tersebut.

Seperti yang di ungkapkan oleh Abdul Muslih pengiat anti korupsi dari Aliansi Masyarakat Anti Korupsi Klaten (ARRAK). Dirinya menilai pelaksanaan ujian dan kesiapan dari perguruan tinggi yang melaksanakan ujian jauh dari kata professional.

“Sesuai dengan jadwal pelaksanaan ujian perangkat desa, seharusnya hasil akhir dari ujian bisa di ketahui oleh peserta ujian pada pukul 16.00 WIB, namun kenyataannya pengkoreksian hasil ujian molor dengan alasan kurangnya personil yang mengoreksi hasil ujian” ujar Abdul Muslih.

Seharusnya, lanjut Abdul Muslih kurangnya  personil dalam mengoreksi hasil ujian tidak terjadi  apabila institusi yang di tunjuk tersebut profesional, karena Mou sudah di tanda tangani jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan ujian, dari sini seharusnya perguruan tinggi sudah mempersiapkan semua kebutuhan dan perangkat yang di perlukan dalam melaksanakan ujian tersebut, bukan malah beralasan kurang personil.

Terlebih lagi adanya temuan beberapa peserta yang tidak mendapat nilai dalam mengerjakan soal-soal praktek ujian computer di desa Kwaren, Ngawen, Klaten semakin menambah kecurigaan Abdul Muslih adanya dugaan tidak obyektifnya penilaian hasil ujian pengisian Perangkat desa.

Dari tiga ujian praktek computer berbasis MS. Word, Excel dan Power point, peserta merasa mengerjakan soal-soal tersebut namun dalam pengumuman hasil ujian tidak mendapat nilainya alias nol.

“Logikanya, peserta ujian akan mengerjakan soal ujian berbasis Ms. Word terlebih dahulu dari pada mengerjakan Excel atau Power point, lha kok ini Excel dan Power poinnya ada nilainya malah Wordnya tidak dapat nilai” imbuh Abdul Muslih.

Dengan temuan ini, Abdul muslih meminta Unwida (Universitas Widya Darma) Klaten selaku pelaksana ujian perangkat desa di Desa Kwaren, Ngawen, Klaten untuk melaksanakan ujian ulang. Dan apabila tidak mau melaksanakan ujian ulang maka hal ini akan di bawa ke ranah hukum.

Senada dengan apa yang di ungkapkan oleh Abdul Muslih, Salah satu perta ujian pengisian perangkat desa Kwaren, Nagawen, Teja Permana juga menghendaki adanya ujian ulang atau kaijan ulang atas hasil koreksi hasil ujian di desa Kwaren. “Kami meminta di laksanakan ujian ulang, karena kami menilai ada kejanggalan dalam pengoreksian hasil ujian di desa kami” ujar Teja Permana.(alf)

Share on Google Plus

Salam mattanews com

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...