Juara Dunia Bulu Tangkis Huang-Hua "NGETOPRAK" Pukau Ratusan Penonton. "Tilung Ngamuk".

Ki Jagak Warak (Yung Yung ) dan Nyi Jagak Warak (Huang Hua) 
KLATEN MATTANEWS.COMLuar biasa.. bagus..meriah hebat jos dan mengagumkan. Itulah kata-kata yang terlontar dari lebih seribu penonton yang menyaksikan ketoprak pengusaha warga keturunan (Tionghoa) yang digelar di aula SD Kristen III Klaten Sabtu malam (10/3). Dari awal hingga akhir pertunjukan nyaris tak ada satupun penonton yang beranjak dari tempat duduknya untuk pulang awal. Kemampuaan warga keturunan yang dikomandani Edy Amigo Sulistiyanto dalam pementasan ketoprak mampu menghipnotis semua pengunjung mereka termasuk Bupati Klaten Hj Sri Mulyani dan Agus Riyanto ketua DPRD Klaten yang terkesima dengan penampilan mereka. 

Tak ada yang menyangka dan seribu lebih penonton terbelalak kagum, ketika lakon “REBUT KUWOSO” mulai dibeber. Mata sipit serta latar belakang kultur budaya nenek moyang yang berbeda ternyata bukan penghalang bagi mereka dalam berseni. Yang terjadi justru diluar dugaan, karena mereka mampu memainkan peraan serta adegan ketoprak dengan baik dan sempurna, dengan logat dan dialeg bahasa jawa yang medok. Penontonpun seakan tak percaya jika pertunjukan ketoprak tersebut dimainkan oleh saudara kita para pengusaha warga keturunan Klaten.
Tilung Dan Junaedi sebagai preman pasar
Pertunjukan ketoprak pengusaha yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Darma Bakti Klaten, malam itu memang berjalan lancar dan luar biasa sukses. Dihadiri dan dibuka oleh Bupati Klaten Hj Sri Mulyani yang didampingi ketua DPRD Klaten Agus Riyanto serta sejumlah pejabat, ruang pertunjukan berkapasitas 980 penonton mengalami over load, mbludak melebihi perhitungan panitia.

Berdurasi sekitar 120 menit hampir setiap adegan pertunjukan selalu mendapat apluse meriah dari penonton. Karena mereka mampu bermain dengan penuh karakter dan penjiwaan yang luar biasa. Baik mulai dara rakyat para emban, prajurit, demang, senopati serta sang raja dan ratu  permaesuri.


Dan harus diakui Best Seller dalam ketoprak malam itu layak diberikan pada sang legendaris juara dunia bulu tangkis putri dari Cina HUANG HUA. Berperan sebagai istri Ki Demang Jagal Warak yang diperankan Yung Yung suaminya sendiri dari Taman Anggrek Property Kota Baru, sosok ibu dari tiga anak ini mampu menghidupkan suasana karena.
 
Suasana di Kasenopaten
Setiap kata kata yang keluar dari Huang Hua saat berdialog dengan sang suami selalu membuat penonton ketawa dan bertepuk tangan. Karena dialeg bahasa jawanya terkesan aneh dan lucu. Demikian pula disaat dia kesal dengan sang suami, dan spontan bicara dengan bahasa mandarin. Padahal hampir semua penonton yang hadir tidak ada yang bisa bahasa mandarin walau mereka warga keturunan (Tionghoa).

Sedang adegan lain seperti simbok simbok yang berjualan dipasar dan bakul wedang yang diperankan Nindya toko 17 Jaya, serta para preman yang dimainkan Djunaedi Naga Mas Motor dan Tilung Sari Utama, tak kalah menarik. Walau mereka bermata sipit ternyata mampu menggunakan bahasa jawa alus yang medok. Sementara tokoh premannya serta kata-kata kasar mirip preman pasar beneran.

Secara keseluruhan jalannya pertunjukan ketoprak pengusaha warga keturunan (Tionghoa) Klaten berjalan lancar dan sukses. Apalagi didukung dengan tata panggung dekorasi dan lampu yang canggih. Sebuah apresiasi positip dan acungan jempol layak kita berikan karena walau warga keturunan mereka mampu bermain ketoprak sangat baik melebihi kita orang Jawa sebagai pemilik budaya tersebut.
 
Duel antara preman dan senopati kerajaan
Melihat kemampuan dan kebolehan para pemain ketoprak pengusaha warga keturuanan (Tionghoa) Klaten malam itu, maka tidak berlebihan jika banyak pejabat dan penonton yang menginginkan mereka tampil ditempat terbuka memeberi hiburan pada masyarakat Klaten. Karena selain layak tampil dan tak kalah dengan group ketoprak lainnya, masyarakat umum bisa melihat memampuan mereka memainkan budaya jawa dan tidak terkesan eklusif hanya untuk kalangan tertentu.

“Saya berharap mereka bisa tampil dipanggung terbuka seperti di alon-alon atau di Pendopo Pemda Klaten, agar masyarakat umum bisa melihat dan menikmati karya mereka. Jika hanya di gedung seperti ini, kesannya terlalu ekslusif hanya untuk kalangan tertentu”, ujar salah satu pejabat.(batavia) 
  

Share on Google Plus

Salam mattanews com

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...