Edy AMIGO Sulistiyanto Sosok Dibalik Bangkitnya Ketoprak Di Klaten

Edi AMIGO Sulistiyanto
KLATEN MATTANEWS.COMKesenian ketoprak kembali marak dipentaskan diberbagai tempat di Klaten. Kesenian yang sempat “punah atau mati suri” puluhan tahun ini, kini berangsur hidup dan kembali diminati warga Klaten. Bahkan berbagai festival ketoprakpun hampir tiap diadakan, baik ditingkat pelajar, karyawan, pegawai dan masyarakat umum.

Group ketoprak pelajar mulai dari TK, SD, SLTA hingga ketoprak remaja, dewasa umum kini hampir dimiliki oleh semua sekolah di Klaten. Bahkan tak sedikit sekolah yang memasukkan kegiaatan ini sebagai extra kulikuler sekolah bidang seni dan budaya. Maka tak heran jika sering kali group ketoprak pelajar dari Klaten menjuari berbagai event kejuaran baik tingkat regional dan nasional.

Animo dan gandrung ketoprak di Klaten dalam beberapa tahun terakhir ini memang tak dapat dipungkiri. Hampir disetiap kegiatan perayaan, baik di desa hingga kota pagelaran ketoprak selalu ditampilkan sebagai salah satu kesenian yang dipertunjukkan. Alhasil kini banyak perkumpulan ketoprak bersifat konterporer muncul di Klaten. Seperti ketoprak pejabat, ketoprak karyawan, ketoprak pelajar, ketoprak anak-anak dan lainnya. Perkumpulan ini walau belum memiliki wadah group resmi namun siap tampil kapan saja dan dimana saja.

Bangkitnya ketoprak di Klaten tak bisa lepas dari peraan sosok dingin Edy Sulistiyanto yang semasa kecilnya akrab dipanggil dengan sebutan Ho-ho. Dari kecintaan beliau akan seni budaya jawa, khususnya ketoprak, maka sejak kecil dirinya serius mempelajari sekaligus menekuni seni ketoprak secara utuh, baik peran, watak, cerita hingga sejarah tentang ketoprak.

“Maaf saya orang Indonesia warga keturunan (Tionghoa). Namun karena lahir besar dan hidup di Klaten dan orang tua saya juga lahir di Klaten, maka sejak kecil kami sekeluarga selalu diajari semua kebudayaan Jawa, mulai dari wayang kulit, tari, gamelan, ketoprak hingga wayang orang. Bahkan saking cintanya pada budaya Jawa, dalam keseharian di rumah kami selalu menggunakan bahasa jowo alus dan itu kita terapkan di perusahaan saya. Dan sampai sekirang saya malah nggak bisa ngomong pakai bahasa cina. Maka sejak itu saya cinta banget dengan budaya jawa yang namanya ketoprak”, ujar Edy Sulistiyanto yang juga owner AMIG GROUP ini.

Kecintaan dirinya terhadap ketoprak tidak sebatas menggerakkan, membiayai dan menjadi sponsor. Menurutnya sejak kecil dirinya sudah mulai terjun ikut main ketoprak di beberapa group ketoprak dan pentas dibeberapa kota, seperti Jakarta bahkan sempat masuk TV. Berawal dari situlah pemilik nama asli Djie Long Houw ini memiliki obsesi menjadi penulis, sutradara sekaligus produser ketoprak.

Dan kini perjuangan anak ke eempat dari tujuh bersaudara kelahiran 26 Agustus 1945 ini ternyata tidak sia-sia. Semua jerih payah dan kecintaanya pada budaya Jawa khususnya ketoprak  membuahkan hasil yang membanggakan. Virus ketoprak saat ini sudah mulai tumbuh dan menjalar hampir disetiap jiwa anak anak dan masyarakat Klaten. Munculnya gropu dan festival ketoprak anak, ketoprak remaja, ketoprak sekolah mulai dari PAUD hingga SLA yang digelar hampir setiap tahun. Bahkan belum lama digelar pula ketoprak pejabat dan ketoprak gabungan yang diprakarsai oleh bagian Humas pemka Klaten. Ini semua adalah bukti kerja kerasnya selama ini tidak seia sia..

Obsesi bapak tiga anak ini sebenarnya tidak berlebihan. Dirinya hanya ingin menunjukkan jika Klaten sebagai kota Ketoprak bukan sekedar slogan. Dirinya berharap kedepan akan muncul group dan pemain ketoprak handal dari Klaten yang mampu mengangkat kesenian ketoprak Klaten dikancah budaya Nasional bahkan internasional.
 
Adegan kotoprak pelajar Klaten
Kenapa Ketoprak harus tetap hidup dan ada di Klaten, menurut Edi hal ini bukan tanpa alasan. Karena kesenian ketoprak pertama kali muncul di Klaten yang pada masa itu lazim disebut dengan nama ketoprak Tobong. Dengan gedung pertunjukkan seadanya hanya terbuat dari gedek, beratap  anyaman daun aren, atau Rapak (daun tebu) serta bambu, ketoprak telah menjadi kesenian yang mampu menjadi magnet bagi masyarakat dari segala lapisan. Tobong ketoprak dialun-alun Klaten tak pernah sepi penonton.

Sejak itu munculah nama nama group ketoprak mulai dari Sari Budoyo, Ngesti Budoyo hingga Wahyu Budoyo dan lainnya. Dan pada sekitar tahun 1970 adalah masa masa kejayaan dunia ketoprak di Klaten. “Saya ingin Klaten dengan segala potensinya yang ada mampu mengulang kembali masa kejayaan itu. Dan melihat potensi yang ada saat ini saya yakin bisa. Saya ingin Klaten sebagai kota ketoprak dapat dinikmati dan dikenang oleh anak cucu kita nanti”, harapnya.

Kini hampir disetiap kegiatan perayaan entah yang bersifat nasional atau kedaerahan, ketoprak mulai dipentaskan. Baik di desa desa, dikota mulai dari sekolah, instansi hingga masyarakat umum. Dan semua itu tak lepas dari peran dan sentuhan tangan dingin sosok Edy Sulistyanto. Maka tak berlebihan jika beliau disebut sebagai bapak ketoprak klaten. (btv)


Share on Google Plus

Salam mattanews com

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...