Dibalik Sukses Ketoprak "TIONGHOA" Mereka Bangga Dan Ketagihan Pingin Main Lagi.

Pasukan preman Tilung&Bambang ompong cs
KLATEN MATTANEWS.COMKesuksesan pagelaran ketoprak pengusaha keturunan (Tionghoa) yang diselenggarakan keluarga besar Perkumpulan Darma Bakti Klaten Sabtu malam (10/3) di aula SD Kristen III Klaten, Jawa Tengah, membelalakkan mata kita semua yang nonton pada saat itu. Walau mata mereka sipit, kultur budaya nenek moyang berbeda namun, mampu memainkan sebuah kesenian ketoprak yang utuh, apik nyaris sempurna dengan dialeg logat dan aksen bahasa Jawa yang medok dan halus.

Bondan Prakoso sutradara sekaligus penulis naskah ketoprak salah satu orang dibalik sukses mereka. Sutradara ketoprak kondang yang sudah punya nama tingkat nasional ini mampu menanamkan sebuah karakter penjiwaan yang baik pada setiap pemain. Sehingga saat diatas panggung mereka mampu memainkan perannya dengan baik nyaris tanpa ada kesalahan.
Edi Amigo Sulistyanto
Selain itu tangan dingin bapak ketoprak Klaten Edy Amigo Sulistyanto tokoh yang tidak bisa dipisahkan dengan bangkitnya Ketoprak di Klaten. Bapak tiga anak yang masa kecilnya akrab dipanggil Ho-Ho ini memang sejak masih duduk dibangku SD sudah gila akan kesenian Jawa, khususnya wayang kulit dan ketoprak. Maka jika saat itu sebagian besar orang Indonesia senang baca novel Kho Ping Ho, Hoo-Ho yang warga keturunan malah jadi kutu buku sastra jawa dan kitab Mahabarata, dimana hampir setiap malam blusukan nonton wayang kulit dan ketoprak.

Dan ternyata kesuksesan yang mereka tampilkan malam itu, membuat hampir semua pemain “ketagihan” untuk main dan mengadakan pentas lagi. Mereka merasa bangga puas dan senang bisa memainkan sekaligus mementaskan kesenian ketoprak yang sebelumnya mereka sama sekali tidak pernah tahu.
 
Preman pasar Djunaedi Naga Mas Motor
Djunaedi pengusaha muda yang juga pemilik Naga Mas Motor menyatakan senang, puas dan tertantang untuk main lagi jika ada kesempatan.” Jika ada moment yang tepat saya siap main lagi dan terus terang bangga bisa main ketoprak walau hanya berperan jadi preman”, ujaranya.

Hal sama disampaikan Tilung pengusaha sukses dibidang makanan dari Sari Utama Klaten. Dirinya merasa bersyukur diberi kepercayaan main ketoprak. Walau perannya hanya sebagai preman pasar namun lelaki yang punya hobi mancing ini bangga dan senang karena bisa ikut melestarikan dan nguri-uri budaya jawa.
 
Babahe Heri KONDAN & pasukan Kubilai Khan
“ Walau mata kita sipit dan warga keturunan Tionghoa , namun saya dan temen-temen asli orang Indonesia. Saya lahir, besar, hidup dan mati di Klaten. Maka saya punya kuwajiban ikut melestarikan budaya kita sendiri, khususnya ketoprak”, ujarnya bersemangat.  

Pernyataan tak kalah heroiknya disampaikan mantan juara dunia bulu tangkis wanita asal Cina Huang Hua. Istri pengusaha properti dan pertokoan Taman Anggrek Kota Baru ini mengaku senang dapat kesempatan main ketoprak di Indonesia, khususnya Klaten.
 
Huang-Huang setia merias sang suami Yung Yung Taman Anggrek
“Walau balu petama kali main, tapi saya senang, kalena bisa tahu budaya olang lain. Dan saya cinta banget sama ketopak dan kalo boleh saya mau main lagi”, ujar Huang Hua dengan aksen bahasa Indonesianya yang khas saat ditemui sebelum pertunjukan.

Ungkapan serupa juga diamini sang suami Yung Yung yang juga puas dan senang bisa terlibat ikut main ketoprak walau dirinya tidak memiliki kemampuan akting dan pengetahuan tentang ketoprak. Namun diakui setelah ikut latihan beberapa kali dirinya merasa terpanggil karena banyak ilmu dan manfaat yang dapat dipelajari. Maka dirinya merasa tertantang dan siap main lagi jika ada pagelaran ketoprak di Klaten.
Penari dari putri Tionghoa tak mau kalah. 
“Walau sebelumnya saya tidak begitu mengenal ketoprak. Namun setelah ikut dan terjun langsung terliat didalamnaya, keseniana ini sangat kaya akan filasaft dan ajaran hidup yang adiluhung. Maka saya dan istri merasa terpanggil ikut melestarikan serta nguri-uri Ketoprak dan jika ada kesempatan kita siap tampil lagi”, ujarnya.

Hal sama disampaikan Heri toko Kondang yang dalam episode ini kebagian tampil sebagai salah satu panglima Kubilai Khan. Menurut lelaki yang akbrab dipanggil babahe ini, ketoprak merupakan seni budaya nenek moyang yang harus dilestarikan dan dipelihara, karena banyak mengandung pendidikan dan edukasi, bagaimana kita hidup rukun dalam bernegara dan berbangsa.(batavia)

Share on Google Plus

Salam mattanews com

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...