Delman Cantik Semarakkan Car Free Day Klaten.

Andong di car free day Klaten
KLATEN MATTANEWS.COMAndong atau delman memang nyaris punah dari dunia transportasi umum yang dulu lazim digunakan masyarakat untuk berbagai keperluan. Bahkan sejak jaman dulu dan jaman penjajahan kendaraan andong atau delman sudah digunakan oleh para raja untuk melakukan perjalanan dengan kereta kencananya yang tak beda dengan sebuah andong. Namun sayang kendaraan yang ditarik dengan tenaga kuda ini kini mulai hilang atau bahkan nyaris punah.

Di Klaten kejayaan adong pernah dialami ditahun 1960 hingga akhir tahun 1980. Ada empat tempat yang dulu pernah menjadi terminal mangkalnya andong di Klaten yakni di pertigaan Karanganom, di depan stasiun Klaten yang hingga kini terkenal dengan sebutan kokplakan andong serta di samping pasar kota Klaten. Sayang tempat tempat tersebut kini telah berubah fungsi seiring punahnya kendaraan kebanggan dijaman tempo dulu ini.

Seiring berkembangnya sarana tranportasi, kini andong alias dokarpun tampaknya tak mau kalah dalam berkompetisi. Dibawah naungan paguyuban bendi Klaten yang dipimpin Warsito Warok, keberadaan andong di Klaten dimodifikasi sedemikian rupa agar tetap mampu bersaing ditengah transportasi modern.

Bendi atau andong hias kini dapat kita jumpai disetiap minggu pagi dijalan raya Pemuda Klaten saat berlangsungnya Car Free Day. Disini warga bisa melihat sekaligus menikmati asyiknya naik kendaraan tempo doeloe menyusuri jalan pemuda tengah yang membelah kota Klaten.  

Hanya dengan tarif yang relatif murah yakni Rp 20 ribu sekali naik, kita dapat menyusuri jalan dikeramaian acara car free day sejauh 1 kilometer. Anda tak perlu takut karena andong atau bendi yang disediakan dikusiri oleh mereka yang telah mahir dalam merawat endi dan kuda. Tak hanya itu andongpun dimodifikasi sedemikian rupa, sehingga lebih layak disebut sebagai kendaraan wisata yang nyaman dan aman.
Wisatawan dari Gunung Kidul saat naik andong di car free day 
Ketua paguyuban bendi hias (andong) Waristo Warok kepada wartawan mengatakan paguyuban andong atau bendi sengaja didirikan dalam rangka menyelamatkan andong dari kepunahan. Selain itu juga untuk semakin menyemarakkan dunia wisata Klaten, karena keberadaan bendi nantinya tidak hanya ada di acara car free day namun di tempat tempat wisata lainnya.

“ Selain untuk menjaga dan melestarikan andong dari kepunahan, paguyuban ini didirikan untuk menampung para pemilik andong atau bendi agar mampu bertahan dan tetap eksis ditengah majunya alat transportasi. Untuk itu kami semua sepakat memuat andong atau endi hias untuk kita tampilkan disetiap acara car free day atau di tempat wisata guna menarik wisatawan”, ujarnya.

Saat ini lanjut Warsito paguyuban bendi atau andong memiliki sekitar 90 anggota. Guna menjaga parsatuan, keakraban antar anggota serta melestarikan andong, tiap bulan diadakan pertemuan serta arisan anggota yang bertujuan untuk saling bertukar pikiran serta membahas rencana kerja selanjutnya.  

“Dulu pernah ada wacana dokar atau andong memiliki tempat di terminal bus Ir Soekarno Klaten. Namun hingga kini belum ada tanda-tanda itu akan terlaksana. Mudah mudahan rencana ini dapat segera terealisasi agar dokar atau andong tidak hilang di Klaten”, harapnya.(neo)


Share on Google Plus

Salam mattanews com

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...