Pelabuhan Getek Rowo Jombor Klaten Rusak. Mangkrak Lama Tak Berfungsi.

Keramaian pelabuhan Rowo Jombor tinggal cerita
KLATEN MATTANEWS.COMSemakin suramnya obyek wisata waduk Rowo Jombor di desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Klaten Jawa Tengah dalam sepuluh tahun terakhir ini membuat banyak fasilitas wisata di komplek ini rusak tak terawat. Salah satunya keberadaan pelabuhan Rowo Jombor yang dulu dijadikan tempat berlabuhnya puluhan getek dan ferry getek yang menyebrangkan wisatawan dari pelabuhan menuju pintu air yang berjarak sekitar 3 kilometer tepatnya di ujung desa Kerakitan.


Selain rusaknya pelabuhan, bangunan yang kini juga tampak tak terawat ialah rumah karcis didekat pintu masuk obyek wisata Rowo Jombor yang ada di dukuh ngembel, termasuk tiga rumah pos pintu masuk yak juga tak terawat.



Pelabuhan waduk Rowo Jombor kini kondisinya sangat merana. Selain tak terawat, beberapa bangunan didalamanya juga dalam kondisi sangat memperihatinkan. Misalnya bangunan rumah karcis yang rusak  banyak genteng yang dan pintu jendela yang hilang karena tak terawat. Demikian pula tugu stum atau wales yang dulu dijadikan hiasan utama kini mulai karatan dan banyak onderdil yang hilang entah kemana. Sementara tulisan di gapuro pintu masuk pelabuhan juga tak ada lagi. Kondisi diperparah lingkungan sekitar pelabuhan yang kumuh penuh dengan sampah dan kerambah ikan nelayan.    



Pelabuhan ini sempat “hidup” beberapa saat ketika wisata kuliner warung apung di waduk Rowo Jombor ramai dikunjungi wisatawan. Namun kini kondisi kembali sepi seiring dengan sepinya warung apung karena jarangnya  wisatawan atau pengunjung yang datang.
Rowo jombor Klaten kini tampak kumuh, kotor dan sepi pengunjung

Sekretaris Desa Krakitan Rahmanto membenarkan jika kondisi pelabuhan waduk Rowo Jombor kini mangkrak dan rusak berat. Namun demikian pihak desa tidak bisa berbuat banyak karena memang selama ini desa tak pernah dilibatkan dalam hal tersebut. Termasuk masalah penataan warung apung.



“Selama ini desa tak punya kewenangan apa apa terkait penataan rowo jombor, apalagi masalah warung apung. Sehingga sejak dulu hingga kini tidak pernah ada kontribusi yang masuk ke desa sepeserpun dari para pengusaha warung apung. Maka jika sekarang kondisinya sepi, dan beberapa bangunan di rowo jombor rusak kami tidak bisa berbuat apa apa, karena memang bukan tanggung jawab desa”, ujarnya.



Dulu pelabuhan rowo jombor sangat ramai sebagai tempat bersandarnya perahu getek dan ferry bambu yang menyeberangkan wisatawan dari pelabuhan menuju pintu air diujung timur waduk. Puluhan getek silih berganti  berlayar, apalagi jika puncak peringatan syawalan. Namun suasana tersebut berubah dratis seiring makin banyaknya warga yang membuat karamabah ikan ditengah waduk, sehingga waduk tampak kumuh dan indah lagi. Kondisi semakin parah setelah munculnya warung apung yang dibangun tanpa ada penataan, sehingga Rowo Jombor tidak semakin rapi dan indah malah justru semakin kotor, jorok, kumuh dan semrawut.(mt1/red) 



Share on Google Plus

Salam mattanews com

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...