Jomboran Menuju Desa Wisata Pertanian Klaten, Akan Diresmikan Oleh Menteri Desa.



Gubub ditepi jalan identik dengan persawan jaman dulu
KLATEN MATTANEWS.COMSejak tahun 1970 Klaten dikenal sebagi  kota pertanian dengan sebutan kota peyangga pangan nasional dan lumbungnya Jawa Tengah. Namun seiring kemajuan jaman sebutan tersebut semakin memudar menyusul semakin menyempitnya lahan pertanian di kabupaten berpenduduk sekitar 1,4 juta jiwa ini.

Penyusutan lahan pertanian subur terus terjadi terus terjadi sepanjang tahun. Puluhan bahkan ratusan lahan subur di Klaten ini telah berubah menjadi kawas pabrik, perumahan atau industri. Tidak sedikit bangunan berdiri diatas lahan subur bersetatus tanah basah tanpa disertai IMB. Bahkan Delanggu yang dulu dikenal sebagai pusat penghasil beras berkwalitas Rojolelepun kini tinggal kenangan.

Namun disaat daerah lain berlomba melakukan pengeringan lahan untuk dijadikan kawasan industri atau perumahan, sebuah pemikiraan terbalik justru muncul dari sosok Agung Widodo M Pd, kepala desa Jomboran, kecamatan Klaten Tengah, Jawa Tengah. Desa yang masuk wilayah Klaten Kota ini sepakat dijadikan sebagai desa wisata pertanian pertama di Klaten.
Lahan yang subur dengan 3 kali panen dalam setahun
“ Setelah melalui berbagai rembug desa serta kajian ilmiah menggandeng pihak UGM Yogyakarta, maka kita sepakat menjadikan desa Jomboran yang justru berada di lingkungan perkotaan ini menjadi desa wisata pertanian dengan mengandalkan luas lahan sawah yang subur seta sistim pengairan yang baik”, demikian ditegaskan Agung Widodo MPd kepala desa Jomboran saat ditemui wartawan diruang kerjanya.

Peresmian Jomboran sebagai desa wisata pertanian sendiri menurut Agung akan dilakukan pada tanggal 28 Oktober mendatang bertepatan dengan hari sumpah Pemuda, oleh menteri desa serta gubernur Jawa Tengah  Ganjar Pranowo. Kini berbagai persiapan telah termasuk pembuatan 17 gubuk dipinggir sawah sepanjang tepi jalan.

Pembuatan gubug dan gardu pandang Joglo sendiri menurut Agung ingin menghidupkan kembali budaya serta tradisi sawah tradisional, dimana jaman dulu setiap sawah punya gubug yang ada ditengah sawah atau pinggir sawah. Fungsi gubug sendiri selain untuk tempat melepas lelah para petani juga digunakan mereka saat bekerja disawah menghalau hama burung saat menguning.
 
Sistim pengairan ala SUBAK Bali
“Jaman dulu hampir setiap sawah memiliki gubug sendiri-sendiri. Disamping gubuk ada tumpukan jerami,dimana jika sudah lama akan tumbuh jamur jerami bisa dipanen untuk dimasak. Namun saai itu pemandangan seperti itu sudah nyaris tidak ada. Maka kami berniat menghidupkan budaya itu kembali agar anak cucu kita tahu dengan budaya kehidupan petani jaman dulu”, ujarnya.

Menurut Agung kedepan, selain wisata pertanian berupa hamparan sawah, Jomboran juga akan membangun kawasan pertamanan sebagai area hijau yang bisa digunakan untuk rekreasi warga sekitar. Selain itu juga akan dibangun kawasan wisata pertanian dan perkebunan serta perikanan. Ditempat ini warga atau siswa sekolah khususnya dari perkotaan bisa melakukan kegiatan sekolah alam dengan praktek langsung cara bercocok tanam baik, tanaman padi, buah-buahan, sayur-sayuran hingga berternak ikan atau hewan.

Digabung dalam dalam paket tiga desa wisata yakni Jomboran, Jimbung dan desa Krakitan, pilihan desa Jomboran dijadikan destinasi wisata pertanian memang merupakan pilihan jitu yang tepat. Lahan pertanian subur seluas 110 hektar yang berada dikawasan pinggiran kota memiliki daya tarik tersendiri untuk dikunjungi.

Sejak dulu Pertanian di desa Jomboran memang dikenal subur dan produktif. Mengandalkan aliran air dari tiga bendung yakni bendung Bugelan, bendung Grenjeng dan bendung Jomboran, para petani bisa panen 3 kali dalam setahun. Disaat musim kemarau sulit air petanipun tetap bisa panen dengan pola 2 kali panen padi dan 1 kali panen polowijo. Hal ini karena sistim pengairan yanag dikelola oleh paguyuban Dharma Tirta meniru pengairan Subak di bali berjalan baik dan lancar. Sehingga tidak ada pertengkaran petani karena rebutan air dimusim kemarau.     
Agung Widodo MPd Kepala Desa Jomboran
Panen para petanipun selama ini nyaris tak pernah jelek. Dengan mengandalkan pola tanam Tabela, Legowo dan Tapi, tiap panen, satu hektar sawah mampu menghasilkan gabah sekitar 6,5 ton. Umumnya petani menggunakan pupuk organik dipadu dengan pupuk orea,ZA atau Ponzka.

Dengan pola tanam yang baik dan kekompakan 3 kelompok tani yang ada antara lain, Kelompok Tani Dewi Sri, Dewi Ratih dan Tani Wijaya, para petani rutin menlakukan pertemuan dibalai sawah guna “ngerembuk” permasalahan yang dihadapi, termasuk adanya serangan hawa, menentukan musim tanam, jenis padi yang ditanam hingga harga jual gabah. Sehingga jarang tanaman padi mereka puso karena terserang hama tanaman seperti wereng atau penggerek.

Gebrakan yang dilakukan Pemerintah desa Jomboran ini tentunya perlu mendapat dukungan semua pihak, khsusunya para petani sendiri agar tetap kompak, rukun dan tidak meninggalkan budaya gugur gunung gootorng royong dalam kesehariannya. Peran serta pemerintah, khususnya dinas terkait seperti Pertanian, Bapeda serta pariwisata sangat dibutuhkan.

Pilihan Jomboran menjadi desa wisata pertanian adalah langkah yang tepat. Alamnya yang masih hijau dengan sungai ditepi sawah yang masih rimbun sangat mendukung menjadi desa wisata pertanian. Selain itu apa yang dilakukan pemerintah desa Jomboran saat ini, adalah langkah nyata menyelamatkan lahan subur dari gerusan derasnya pembangunan. Pemandangan indah dan alam hijau di Jomboran yang tak jauh dari kota juga berfungsi sebagai paru-paru kota, disaat udara perkotaan mulai kotor dan rusak. Selamat pak lurah semoga Jomboran bisa menjadi destinasi wisata pertanian dan perkebunan di Klaten.(adv/red)   
Share on Google Plus

Salam mattanews com

1 komentar:

  1. Semoga Jomboran makin maju.Aku suka indahnya, aku suka keramahtamahan warganya, aku suka kedamaiannya. ada gubug di sawah mengingatkanku di tahun 80-an dimana aku ikut bapak sama simbok ke sawah. Aku paling suka duduk di gubug sambil makan bekal. Berangkat sekolah sebelum matahari terbit saat sampai di pinggiran sawah disebelah utara kelurahan aku bisa menikmati sun-rise dipagi hari.jadi kangen pulang.

    ReplyDelete

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...