Jaya Ditahun 70an Gamping Kampak Jimbung Klaten, Kini Tinggal Kenangan.

Sisa sisa kejayaan tobong gamping di dusun Kampak
KLATEN MATTANEWS.COMJaya dan mengalami masa keemasan di era tahun 1960 hingga 1980an, keberadaan usaha batu kapur (gamping) kini tinggal kenangan. Kemajuan teknologi dan murahnya harga semen, membuat usaha batu kapur di Klaten satu persatu gulung tikar. Salah satunya pusat pembuatan dan penjualan batu kapur di dukuh Kampak, Desa Jimbung, Kecamatan Kalikotes Klaten Jawa Tengah ini. Puluhan tobong (rumah untuk pembakaran batu kapur) kini mulai rusak dan tak beroprasi karena gamping tak laku lagi.

Dulu hampir seluruh warga Kampak dan sekitarnya mengais rejeki dengan membuka usaha pembuatan kapur (gamping). Selain di Kampak, usaha pembuatan gamping juga ada hampir  menyebar di seluruh wilayah Klaten, seperti di Prambanan, Wedi, Glodokan, Buntalan dan lainnya. Puluhan rumah tobong yang hingga kini masih berdiri dengan latar belakang gunung kapur Kampak, adalah bukti sisa sisa kejayaan jika dukuh Kampak dulu memang merupakan pusat pembuatan gampir terbesar di Klaten.

Produksi gamping asal dukuh Kampak saat itu memang dikenal memiliki kualitas yang baik. Seminggu dua kali mereka membakar gamping dengan kayu atau minyak solar dengan jumlah besar dan selalu habis terjual dalam waktu singkat. Pemandangan aktivitas warga yang bekerja menambang batu kapur bisa kita lihat sehari hari. Hanya dengan alat sederhana yakni sebuah linggis dan tatah yang terbuat dari baja, mereka membelah gunung kapur menjadi bagian bagian kecil untuk dibakar menjadi kapur (gamping). Selain untuk membuat gamping, batu yang kurang baik bisa dijual digunakan untuk bangunan seperti memasang pondasi rumah bahkan tembok rumah.
Tobong gamping berdiri tahun 1970 mulai rusak tak terawat
Tahun 1960 hingga akhir tahun 1980 adalah masa kejayaan para pengerajin dan pengusaha batu kapur di Klaten khsusunya di dukuh Kampak, Jimbung. Hampir setiap pagi kita bisa melihat rombongan gerobak yang digeret sapi atau dengan kuda berjalan beriringan  mengantar semua pesanan gamping ke toko toko matrial atau perorangan ke berbagai pelosok wilayah Klaten.

Seiring kemajuan jaman dan munculnya semen gresik dengan harga murah, membuat usaha pembakaran gamping berangsur surut. Satu demi satu pengusaha batu kampur di Klaten gulung tikar. Tobong gamping besar seperti yang ada di Pandansimping, Wedi dan Gelodoganpun terpaksa tutup karena gamping tak laku lagi. Mereka tak mampu bertahan karena beaya produksi yang semakin mahal tak sebanding dengan harga jual gamping yeng relatif murah, ditambah sepinya pembeli karena beralih menggunakan semen gresik.

Kini dari puluhan tobong gamping di Kampak hanya tinggal 4 tobong gamping yang masih bertahan. Tempat dan bahan baku yang dekat adalah satu alasan mereka tetap bertahan hingga kini. Walau jumlah produksi tidak seperti dulu lagi, namun mereka mencoba untuk tetap bertahan dan berusaha demi menghidupi keluarga. Kini mereka hanya mampu produksi sebulan sekali itupun tak pasti.   

Usaha tobong gamping di dusun Kampak kini memang tidak lagi menjadi usaha yang menjanjikan. Mereka yang tetap nekad bertahan saat inipun tidak sekedar ingin meraih keuntungan, namun lebih didasari ingin tetap mempertahankan citra Kampak, sebagai desa penghasil Gamping yang pernah besar di masanya.
Mbok tentrem dan mbah Marto tetap bertahan
Salah satu yang hingga kini masih tetap bertahan dan terus bekerja sebagai buruh di tobong gamping adalah sosok ibu Tentrem dan Ibu Marto. Menurut ibu Tentrem dan ibu Marto dirinya sudah lebih dari 30 tahun bekerja di tobong gamping. Ketika ditanya tentang produksi gamping menurut nenek dari 6 cucu ini, pesanan gamping saat ini sangat sepi. Bisa bertahan hidup saja sudah baik, dan bisa membakar batu kapur sebulan sekali saja sudah sangat bagus.

Untuk sekali bakar menurut ibu Tentrem satu tobong gamping mampu menampung 15 colt batu kapur, dengan harga Rp 100.000/satu rit. Untuk jumlah sekian minimal dibutuhkan 5 rit bahan bakar kayu seharga kurang lebih Rp 800.000,-. Dalam sekali pembakaran mampu dihasilkan sekitar 2800 kantong gamping siap jual dengan harga satu kantong besar Rp 9000 dan yang kecil Rp 5000,-

“ Jika dihitung dengan harga jual yang murah serta ongkos produksi yang mahal, sebenarnya usaha ini sudah tak mampu bertahan mas. Namun demi menyambung hidup dan nguri-uri keberadaan tobong gamping di kampak”, kita mencoba bertahan hingga saat ini, ujar mbok Tentrem.     
 
Gunung kapur kampak penyedia bahan baku kapur gamping

Kemajuan teknologi yang serba canggih memang tidak bisa dibendung. Kita harus pandai memanfaatkan dan mengkolaborasikan yang moderen dengan yang konvensional untuk menghasilkan sesuatu yang tetap bisa dinikmati orang banyak. Tak bisa kita menyalahkan kemajuan teknologi. Kemajuan teknologi akan terus berinovasi dan berkembang tanpa batas. Tinggal mampukah kita menggunakannya.

Sama halnya dengan keberadaan batu kapur(gamping) dari Kampak. Sudah saatnya warga atau pengusaha yang kini masih bertahan, untuk berinovasi dengan produk yang dihasilkan. Bagaimana caranya mengolah gamping atau batu kapur tidak sekedar menjadi bahan bangunan seperti dilakukan selama ini.(adv)
Share on Google Plus

Salam mattanews com

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...