Tempe Klaten Sudah Ada Sejak Tahun 1700 Masehi

Plt Bupati saat tinjau rumah tempe
KLATEN MATTANEWS.COM - Tahun 2017 Pemerintah desa Geneng kecamatan Prambanan kebupaten Klaten mengelola Anggaran Pendapatan belanja Desa (APBDes) sebesar Rp. 1,545 milyar lebih untuk pelaksanan pemerintahan dan pembangunan daerah. Angaran tersebut berasal dari Pendapatan Asli Desa (PAD) sebesar Rp. 49,695 juta, Bengkok Rp. 92,9 juta, Dana Desa Rp. 743,5 juta, Alokasi Dana Desa (ADD) Rp. 337,535 juta, BHP 36,729 juta, Bantuan Keuangan propinsi Rp 35 juta bantuan Keuangan kabupaten 195 juta, sumber lain Rp. 15 juta.

Kepala Desa Geneng , Agung Saputra mengemukakan hal itu kepada Pelaksana tugas (Plt) Bupati Klaten Hajah Sri Mulyani dan rombongan pada acara Sambang warga di balai desa setempat, Kamis lalu, sekaligus meresmikan kegiatan rumah tempe.

Menurut Agung untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat pemerintah desa mengajak pihak ketiga untuk membuat usaha industri rumah tangga khususnya pembuatan tempe.kedele yang dilakukan oleh anggota Pemberdayaan kesejahteraan keluarga (PKK) Desa. Untuk mengawali kegiatan tersebut telah dikirim enam kader untuk mengikuti pelatihan selama 4 hari di Bogor.

Mereka kini telah mampu bekerja secara professional membuat tempe standar higineis tinggi dengan menggunakan dua set peralatan produksi berkapasitas 160 Kg dengan hasil produk kwalitas premium.

Plt bupati Klaten Hajah Sri Mulyani mengatakan, tempe dibuat dengan proses unik oleh nenek moyang bangsa Indonesia sejak beberapa abad yang lalu. Bukti sejarah menunjukkan bahwa tempe bahan dasar kedelai merupakan produk fermentasi yang pertama kali dibuat oleh masyarakat Klaten Jawa Tengah dan sudah biasa dikonsumsi sejak tahun 1700 Masehi. ‘’ Dalam Serat Centhini jilid 3 terdapat seorang pepajabat dari Prambanan menuju Pajang, mampir di dusun Tembayat Klaten dijamu oleh Pengaran Bayat dengan lauk Tempe berbahan dasar kdele ‘’ ujarnya.

Pemkab Klaten sendiri akan terus mengapresiasi berdirinya rumah tempe desa Geneng yang diprakarsasi oleh anggota PKK desa untuk memenuhi asupan gizi keluarga yang murah, yang lainnya bisa dipasarkan pada yang lain. Hal ini sejalan dengan visi misi Pemkab Klaten Mengangkat Produk Unggulan Potensi daerah.   

Sementara beberapa pihak mengatakan berkembangnya usaha tempe di Prambanan sangat ironis dengan keberadaan Kopti Pedan Klaten. Dimana koperasi   tahu tempe terbesar se Indonesia dengan ribuan pengerajin tempe kini mati dan tinggal beberapa pengerajin.(dehan/masaan)
Share on Google Plus

Salam mattanews com

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...