Petani Delanggu Uri-Uri Tradisi Miwit Dan Nyajeni.

KLATEN MATTANEWS.COMTradisi wiwit atau nyajeni dulu masih dilakukan para petani padi di Klaten Jawa Tengah usai menanam padi dan akan memanen adi. Tradisi leluhur nenek moyang ini berupa menyanjikan berbagai aneka buah buahan atau jajan pasar serta nasi ingkung dengan bumbu khas sambel dele yang dicampur dengan gereh petek bakar. Tradisi ini masih sempat ada sekitar tahun 1976 dan mulai hilang memasuki tahun 1980an.
 
Tradisi miwit sebelum panen padi dilakukan
Disaat banyak orang mulai meninggalkan budaya leluhur dan “mengadopsi” budaya asing untuk dipaksakanan masuk dan menjadi budaya kita yang baru, di Deelanggu, Klaten Jawa Tengah, petani kembali mencoba melestarikan dan nguri nguri budaya tersebut. Tradisi wiwit dan nyajeni yang dipadu dengan ritual gunungan digelar sebagai ungkapan rasa syukur pada Tuhan Yang Maha Kuasa atas limpahan rejeki dan hasil panen yang baik.

Dengan membawa gunungan yang terbuat dari aneka jbuah jajan pasar serta nasi berikut ingkung ayam dan perlenegkapan lainnya, para petani mengarak gunungan dan sejaji ketengah sawah yang mulai menguning dan siap dipanen. Dipimpin salah satu sesepuh atau orang yang dituakan ritualpun dilakukan sebagau ungkapan syukur atas hasil tanam yang baik.

Usai berdoa sajenpun dibagi dan ditata rapi diatas daun pisang untuk selanjutnya diletakkan disetiap pojok sawah, sedang beberapa buah disebar ditengah sawah atau istilahnya “mbuangi”.  Tradisi ini merupakan simbol penghormatan pada Dewi Sri atau Dewa Padi yang diyakini sangat membantu dalam keberhasilan mereka dalam mengolah sawah. Sementara nasi dan buah-buahan lainnya langsung dibagikan pada semua orang yang datang tanpa terkecuali.

Nikmat, lezat dan alami itulah yang kita rasakan saat menikmati sego wiwit lawuh gereh petek dan gudangan kanagkung dan kacang panjang mentah. Kita seakan kembali diajak bernostaligia di era atahun 1970an.

Sesepuh desa Delanggu Miyoto Suwarno menjelaskan tradisi wiwit dan nyajeni sudah ada sejak jaman nenek moyang sebagai ungkapan rasa sykur petani atas keberhasilan mengolah sawah dengan hasil panen yang baik. Namun diakui tradisi tersebut kini sudah banyak ditinggalkan para petani khsusunya metreka yang ada di sekitar perkotaan.

“Ini aset budaya dan tradisi leluhur sayang jika hilang begitu saja. Maka apa yang dilakukan para petani di Delanggu dengan menghidupkan lagi budaya wiwit atau nyajeni yang dipadu dengan arakan gunungan, kita semua berharap tradisi leluhur asli bangsa Indonesia tidak hilang atau diganti oleh budaya asing”, ujarnya. (ajipamungkas)


Share on Google Plus

Salam mattanews com

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...