Warga Kristiani dan Muslim Wedi Lakukan Sadranan Bersama.

KLATEN MATTANEWS.COM - Ratusan umat Katolik di tiga lingkungan di Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi, Kabupaten Klaten Jawa Tengah menggelar Ibadat Sabda (sembahyangan) Sadranan pada Minggu malam (21/5). Sadranan yang merupakan tradisi masyarakat Jawa untuk mendoakan arwah para leluhur yang dilakukan pada bulan Ruwah. digelar pada malam menjelang Sadranan yang dilakukan di makam setempat.
 
Umat Kristiani Wedi saat lakukan sadranan
Ibadat Sabda Sadranan di Lingkungan Santa Clara Ceporan dilakukan di komplek Makam Dukuh Kulungan dan Makam Dukuh Gamelan, Desa Ceporan, Kecamatan Gantiwarno, dipimpin oleh Prodiakon Paroki Wedi Antonius Supriyadi. Sekitar 60 umat dari anak-anak, remaja, dewasa, sampai orangtua menghadiri ibadat ini, termasuk para ahli waris dari luar kota.

Sebelum ibadat, dibacakan ujud (intensi) doa untuk mendoakan arwah yang dimakamkan di tempat itu. Dalam ibadat ini juga dilakukan Doa Rosario dan pembacaan renungan Bulan Katekese Liturgi. Sedang Ibadat Sabda Sadranan di Lingkungan Santo Ignatius Ceporan dilakukan di Bangsal Makam Wismo Eko Ronggo Bantolo Dukuh Gatak Jarakan, Desa Ceporan. Ibadat Sabda dipimpin oleh Prodiakon Paroki Wedi Yohanes Suparji. Dalam ibadat itu, kolekte terkumpul Rp 129 ribu. Kolekte tersebut kemudian diserahkan kepada pengurus Pangrukti Laya makam setempat.   

Sementara itu, Ibadat Sabda Sadranan di Lingkungan Santa Monica Ceporan dilakukan di rumah FX Sukardi di Dukuh Kebon Agung, Desa Ceporan. Ibadat Sabda dipimpin oleh Prodiakon Paroki Wedi Christian Komang Luky Nilamdana. Sekitar 50 umat hadir memenuhi rumah mantan Kepala SD Kanisius Murukan Wedi itu. Hadir juga, para ahli waris dari luar Desa Ceporan.

Dalam kotbahnya, Prodiakon Antonius Supriyadi menyampaikan, Ibadat Sabda Sadranan ini diadakan untuk mendoakan arwah yang dimakamkan di tempat tersebut, dan juga di makam-makam yang lain. “Sadranan adalah tradisi yang baik, maka perlu dilestarikan. Karena dalam sadranan ini, kita (umat) bisa mendoakan para arwah, kita bisa berkumpul, guyub, dan bisa bertemu dengan saudara-saudari yang lain,” katanya.

Menurutnya Antonius Supriyadi, sadranan merupakan tradisi leluhur yang patut dilestarikan. Dalam ajaran umat kristiani lanjut Antonius, penggunaan unsur budaya sejauh mendukung penghayatana iman Kristiani dan tidak bertentangan dengan norma susila dari Gereja serta tidak terikat dalam satu ajaran sesat atau sesuatu yang  betrsifat takhayul memang diperkenankan.

Yang menarik dalam Sadranan di komplek ini ialah usai Ibadat Sabda yang dilakaukan umat Kristiani setempat dilanjutkan dengan acara tahlilan yang dilakukan oleh warga Muslim di sekitar makam. Mereka melakukan tahlilan di tempat yang sama secara bergantian. Setelah tahlilan, warga dan para ahli waris mengadakan tirakatan. Suasana tampak begitu harmonis, guyup rukun berbaur tanpa sekat walau mereka berbeda keyakinan.(laurent)

Share on Google Plus

Salam mattanes

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...