Sadranan Di Sobrah gedhe Buntalan Meriah. Dilemahireng Diwarnai Sebar Duit.

Sadranan di Sobrah gede Buntalan Klaten meriah
KLATEN MATTANEWS.COMSadranan, tradisi budaya warisan nenek moyang yang sudah ada sejak jaman dahulu. Tradisi ini dilakukan ditiap  bulan Ruwah, dimana dalam kesempatan tersebut banyak keluarga perantauan pulang kampung untuk nyekar di makam keluarga guna mendoakan keluarga yang telah tiada. Walau disebagian wlaiah di Klaten budaya ini mulai dihapus dan ditinggalkan namun di beberapa tempat tradisi ini masih dipegang kuat warga dan dilestarikan hingga kini.

Di Kelurahan Buntalan, Kecamatan Klaten Tengah, Klaten, Jawa Tengah tradisi sadaranan masih berlangsung meriah. Ribuan warga dan para ahli waris dari berbagai kota tumplek blek ke komplek makam Sobrah Gede untuk melakukan tradisi kenduri sadranan sekaligus mendoakan para almarhum keluarga. Sementara di Lemah Ireng kelurahan Buntalan kegiatan sadranan diwarnai dengan acara sebar duit, sebagi ungkapan rasa syukur atas melimpahnya rejeki pada Tuhan Yang Maha Esa.

Senin (22/5) sejak pukul 15.00 sore suasana makam Sobrah gedhe yang letaknya persis disamping RSUD Bagas Waras Klaten sudah mulai didatangi warga dan para ahli waris. Sementara suasana makam tampak bersih dan rapi, karena seminggu sebelumnya warga setempat dan para ahli waris serentak melakukan gerakan gotong royong. Sehingga saat digunakan untuk melangsungkan kegiatan sadranan warga tampak nyaman dan senang.
Joko Prawoto (berdiri tenegah) ketua panitia sadaranan Sobrah Gede
Sama seperti sadranan di wilayah lain, Sadranan di Sobrah Gedhe juga diwaranai dengan acara tukar menukar makanan  kenduri yang dlanjut dengan makan berama di dalam makam. Sebelum acara dimulai terlebih dahulu modin atau kaum yang dituakan membacakan doa bagi para leluhur agar diampuni atas semua dosanya semasa hidupnya dan mereka yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan.

Ketua RW Sobrah Gedhe Joko Prawoto selaku panitia Sadranan mengatakan tradisi budaya di wilayahnya akan terus dilestarikan dan dipertahankan. Bahkan warga sepakat untuk tahun tahun berikutnya tradisi ini bisa lebih dikembangkan, sehingga tidak menutup kemungkinan bisa dijadikan aset wisata religi tahunan.

“Kami bangga dan bersyukur dengan warga Sobrah Gedhe dan sekitarnya serta para ahli waris yang masih peduli dan mau melestarikan budaya sadranan. Alhamdullilah warga Sobrah gedhe yang selama ini dikenal sebagai desa santri atau desa hijau, ternyata mampu bisa membedakan antara tradisi budaya dan agama, sehingga tradisi ini dapat berjalan terus hingga sekarang”, ujarnya.

Sementara itu camat Klaten Tengah Widiyatna didampingi camat Trucuk Bambang Harjoko yang kebetulan juga tengah nyekar dimakam tersebut mengapresiasi warga Sobrah Gedhe dan sekitarnya yang masih mau dan peduli pada tradisi sadranan. Menurut Widiyatna tradisi Sadranan memiliki makna yang luas dan perlu dimengerti oleh para generasi muda karena penuh dengan ajaran dan filosofi hidup yang berbudaya dan berbudi pekerti.
 
Camat Klaten tengah dan Trucuk saat nyekar leluhurnya
“Dengan tradisi Sadranan yang diadakan dikomplek makam mengadung maksud, agar kita semua yang masih hidup bisa berintropeksi dan mawas diri, karena kelak kita akan seperti mereka, mati dan meninggalkan semua hingar bingar dunia, sehingga menjadi kuwajiban kita semua untuk selalu beribadah dan berbuat baik selama hidup didunia. Sedang tradisi kenduri dan makan bersama adalah ungkapan rasa sykur atas nikmat dan karunia Tuhan atas segala limpahan rahmat dimana kita telah diberi banyak rejeki dan hasil panen yang melimpah, selama kita selalu hidup dalam kerukunan dan kebersamaan”, tegasnya.

Sementara dari 12 RW yang ada di Kelurahan Buntalan tradisi Sadranan kini tinggal dilakukan oleh warga Sobrah Gedhe dan sebagian warga Lemahireng.(neoramadhan)
Share on Google Plus

Salam mattanes

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...