Ribuan Warga Mendak Delanggu Rayakan Sadranan. Kenduri Dan Makan Bersama Di Makam.

KLATEN MATTANEWS.COMSadranan, tradisi budaya warisan nenek moyang kita yang selalu diadakan di bulan Ruwah jelang memasuki bolan suci Rhomadon ini memang sudah banyak “dihapus” dan ditinggalkan oleh sebagian masyarakat karena dianggap sesuatu perbuatan yang musrik dan menyimpang dari ajaran Agama.  Padahal Sadranan memang bukan bagian dari ajaran agama tapi sebuah budaya.
 
Rayahan makanan salah satu tradisi sadranan
Namun disaat ada sebagaian warga yang “mengharamkan” budaya Sadranan untuk dilakukan, lain halnya yang terjadi di desa Mendak, Kecamatan Delanggu, Klaten Jawa Tengah. Di desa ini Minggu sore (14/5) ribuan warga dari Desa Mendak dan sekitarnya berkumpul  bersama di komplek pemakaman untuk melakukan ritual kenduri dan mendoakan para leluhur.

Berbondong-bondong warga desa Mendak dan sekitarnya dengan membawa tenong yang berisikan aneka makanan dan jajanan tampak ceria menuju makam. Nasi tumpeng, ingkung jajan pasar, aneka makanan dan buah-buahan meraka bawa dari rumah masing masing. untuk didoakan dan kemudian diperebutkan dan dimakan bersama.

Acara kenduri sendiri dilakukan oleh salah satu tokoh masyarakat yang dituakan atau lazim disebuh mbah Kaum atau modin untuk memimpin doa. Selain mendoakan sesaji berupa makanan lauk pauk dan buah buahan agar berkah saat dimakan, mereka juga mendoakan para leluhur mereka yang telah meninggal.

Selesai berdoa, tanpa dikomando para peserta kenduri yang terdiri dari semua lapisan, tua, muda, lelaki perempuan anak anak hingga orang dewasa, langsung saling bertukar makanan atau berebut makanan. Setelah selesai merekapun lalu makan bersama-sama, sebelum pulang kerumah masing-masing.

Kepala Desa Mendak Bandel Harsono menjelaskan budaya Sadranan di wilayahnya akan terus dipertahankan dan lestarikan. Sebagai orang yang dituakan, dirinya merasa terpanggil untuk nguri-uri budaya nenek  moyang agar tidak punah tergantikan oleh budaya asing.

“Tradisi Sadranan sangat kaya makna dan penuh filosofi tinggi mengadung ajaran ajaran baik yang bernilai tinggi. Sangat sayang jika Sadranan dihilangkan dari kehidupan budaya orang Jawa. Maka menjadi tugas kita semua untuk tetap  melestarikan tradisi Sadranan, dan memberi pemahaman yang benar pada apara generasi penerus agar bisa membedakan antara ajaran agama dan seni budaya”, ujarnya.
Khusuk mendoakan keluarga yang telah tiada
Tradisi Sadaranan jelang memasuki bulan puasa ini memang sangat mengasyikkan dan menyenangkan, karena ditempat ini kerukunan, kebersamaan begitu tampak. Warga begitu guyub rukun dalam bermasyarakat tanpa ada sekat dan strata diantara mereka . selain itu saat sadranan banyak perantau pulang kampung untuk “nyekar” keluarganya yang sudah meninggal.

Kini Tradisi Budaya nenek moyang yang kaya makna dan sarat filosofi ini sudah tidak bisa ditemui di semua daerah seperti dulu lagi. Karena saat ini ada sebagian warga yang menolak dan menentang kenduri Sadranan karena dianggap musrik dan tidak ada dalam ajaran agama. Padahal jaman dulu dalam setiap tradisi sadranan dibarengi tradisi rasulan dengan perhelatan pertunjukan wayang kulit semalam suntuk.(ajipamungkas)

Share on Google Plus

Salam mattanews com

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...