Bripda Imam Gilang Adinata Warga Srago Gede Klaten Korban Bom Kampung Melayu



Almarhum Bripda Gilang
KLATEN MATTANEWS.COMLedakan bom bunuh diri di terminal Kampung Melayu Jakarta Timur Rabu malam sekitar pukul 21.00 malam, ternyata membawa duka bagi keluarga M.Sri Sarjono dan Ening Wiyarti warga RT 5/RW 07, Srago Gede, Desa Mojayan, Kecamatan Tengah, Klaten Jawa Tengah, karena salah satu korban yang meninggal dalam peristiwa tersebut adalah putra pertamanya. Bripda Imam Gilang Adinata (25) anggota kepolisian yang gugur dalam peristiwa tersebut adalah putra pertama pasangan tersebut dari dua bersaudara.


Rencananya almarhum Gilang dimakamkan hari Kamis (25/5) dipemakaman umum Desa Srago Gede yanag berjarak sekitar 100 meter dari rumahnya dengan upacara penghormatan secara  militer. Rencana jenasah baru akan diterbangkan dari jakarta dengan pesawat terbang menuju Bandara Adisucipto Jogjakarta atau bandara Adi Sumarno Solo. Menurut salah satu keluarga pemakaman akan dilakukan sekitar pukul 16.00.


Isnani Suci Rahayu bude yang merawat almarhum sejak kecil mengaku kaget dan shok setelah mendengar kabar keponakan yang sudah dianggap anaknya sendiri menjadi salah satu korban bom bunuh diri di terminal kampung Melayu. Dirinya mengaku tidak punya firasat apa-apa karena saat pulang 4 hari yang lalu, almarhum tidak menunjukkan hal yang aneh-aneh.
Isnani Suci Rahayu bude yang merawat almarhuh sejak bayi
Hal sama disampaikan Rahmad Sugiyanto (44) paman korban yang tidak menyangka jika keponakannya akan pergi secepat itu dan dengan cara yang tragis. Dirinyapun tidak punya firasat apa-apa selain melihat wajah korban tampak kusut dan sedikit sayu saat pulang Sadranan 4 hari lalu. Namun firasat tersebut tidak begitu dipikirkan karena menganggap almarhum kecapekan dalam perjalanan.

“Tidak ada firasat apa-apa dalam keluarga sebelum Gilang pergi meninggalkan kita semua. Saya hanya merasakan hal aneh, dimana almarhum tampak lesu dan kuyu tidak ceria saat pulang Sadaranan beberapa hari lalu. Namun hal itu saya anggap biasa karena mungkin dia kecapekan”, ujarnya.

Terkait kepergian almarhum dalam peristiwa tersebut Rahmat mengaku mengutuk keras perbuatan biadab yang dilakukan pelaku bunuh diri tersebut. Menurut Rahmat perbuatan tersebut bukan lagi sebuah ajaran agama yang benar namun sebuah pembunuhan dengan alasan Jihad.
Suasana rumah almarhum di Srago Gede Klaten
”Kami seluruh keluarga mengutuk keras pelaku bom bunuh diri dan semua jaringannya yang telah melakukan perbatan biadab dengan atas nama perjuangan Jihad. Ini bukan Jihad tapi perbuatan biadab orang orang yang tidak punya agama”, tegasnya.(farought)  
Share on Google Plus

Salam mattanes

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...