Pra Paskah Anak PAUD Theresia Wedi Klaten Diajak Mengikis Egoisme.

KLATEN MATTANEWS.COM - Anak-anak PAUD Santa Theresia Wedi, Kabupaten Klaten antusias mengikuti pertemuan Aksi Puasa Pembangunan (APP) yang diadakan setiap hari Jumat di sekolah setempat selama masa prapaskah ini. Anak-anak diajak merenungkan tema APP tahun 2017 yaitu “Aku pelopor peradaban kasih”.
 
Anak anak PAUD Theresia Wedi Klaten
Kepala PAUD Santa Theresia Wedi Suster M Margaretha AK menyampaikan, inti dari pertemuan selama lima kali itu yakni mengajak anak untuk menjadi pelopor peradaban kasih. Menurutnya, penyajian materi pertemuan APP untuk anak ini tidak semudah pertemuan orang dewasa atau umat di lingkungan.

“Materi pertemuan APP untuk anak-anak yang disusun oleh Panitia APP Keuskupan Agung Semarang (KAS) memang sangat membantu sebagai acuan. Tetapi untuk penyajiannya, para pendamping harus mendesain ulang sesuai usia anak,” katanya. 

Dalam pertemuan APP ini anak diajak mengikis egoisme pada diri anak, agar anak tergerak untuk berbagi dengan temannya, terlebih saat di sekolah. Dalam memberi pemahaman para pendamping mengajari pemahaman betapa Tuhan begitu mencintai kita semua lewat orang orang yang disekitar kita dan orang tua. Pemahaman dilakukan melalui gambar, video serta pengertian secara langsung.

Suster asal Muntilan, Magelang ini menyatakan, mengikis egoisme pada diri anak itu tidak mudah. Kalau di rumah, segala sesuatu milik sendiri dan dipakai sendiri. Bapak, ibu juga milik sendiri. Tetapi, anak–anak akan menemukan “permasalahan” saat di sekolah. Karena dalam satu kelas, hanya ada satu guru. Bahkan, dengan perbandingan satu guru untuk 20 anak.

Begitu pula pada alat permainan yang ada di sekolah. Di rumah, alat permainan bisa dipakai sendiri. Tetapi di sekolah, alat permainan dipakai bersama-sama. Demikian pula dalam hal berbaris saat mau mencuci tangan atau mau pulang. Hampir semua anak maunya minta paling depan atau didahulukan.

Dalam berteman, kadang anak-anak berebut teman, atau menjadi “provokator” kecil dengan mengajak temannya untuk tidak berteman dengan anak anak tertentu.
“Dari pengalaman ini guru mendapatkan masukan yang sangat beragam dari berbagai karakter anak yang mereka dampingi. Untuk bisa mendampingi anak, guru pendamping harus bisa berbagi kasih. Seperti yang sudah dilakukan oleh orangtua kita maupun Tuhan Yesus sendiri,” ujar Suster Marga. (laurent)


Share on Google Plus

Salam mattanews com

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...