Klaten Selalu "Gagal" Dalam Mengelola Terminal. Banyak Terminal Mangkrak Tak Berfungsi maksimal.

KLATEN MATTANEWS.COM“Pemaksaan” Dinas perhubungan Klaten dalam menjalankan aturan terhadap para agen bus yang ada di Klaten Jawa Tengah untuk tidak menaikan dan menurunkan penumpang di agen mereka, tampanya tak lepas dari sepinya terminal bus Ir Soekarno yang baru satu tahun diresmikan. Hasil pantauan dilapangan terminal seharga milliaran rupiah ini memang sepi dari kegiatan naik turun penumpang. Disamping itu pemkab Klaten tampak “trauma” dengan sering “gagalnya” membangun terminal sehingga banyak terminal di Klaten “tak berfungsi” maksimal.
Terminal Bus Ir Soekarno sepi kegiatan naik turun penumpang

Hingga saat ini sedikitnya ada 4 terminal di Klaten yang boleh dibilang mangkrak karena tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Ke empat terminal tersebut antara lain terminal bus Delanggu, terminal bus Teloyo, terminal angkot kota dan Cawas. Sementara satu terminal bus ditutup dan dibongkar karena sepi yakni terminal bus pedesaan di Manisrenggo.

Terminal bus Delanggu yang dibangun sekiar sepuluh tahun lalu dan diharapkan mampu mengurai kemacetan didalam kota delanggu ternyata juga tak berfungsi seperti yang diharapkan. Sehingga terminal yang dibangun dengan dana milliaran rupaih tersebut kini banyak beralih fungsi untuk kegiatan lain.

Sedang terminal bus Teloyo, Cawas dan terminal bus Manisrenggo yang akhirnya mati, tidak berfungsi karena matinya angkutan pedesaan yang dulu sempat mengalami kejayaan di era tahun 1980an. Sementara terminal angkot yang berada di tengah kota kini hanya diisi taka lebih dari 4 armada angkutan perkotaan.

Kini terminal bus Ir Soekarno yang baru dibangun setahun lalu nyaris mengalami hal sama. Sejak dibangun hingga kini tak banyak aktivitas naik turun penumpang. Terminal sangat sepi dan gersang. Sementara jika sore hari menjelang malam justru digunakan untuk tepat kencan.
Suasan terminal sekitar pukul 12.00 siang, sepi nyenyet
Kondisi inilah yang akhirnya membuat Pemkab Klaten “memaksakan” kehendak aturan agar para gen bus yang ada di berbagai pelosok Klaten “dilarang” melakukan aktivitas menaikkan atau menurunkan penumpang. Hal ini langsung diprotes keras oleh semua pengusaha agen bus karena diangap mematikan ladang kehidupan mereka.

“Sejak dulu yang namanya agen bus entah yang ada di Bayat, Cawas, Delanggu Prambanan, Ceper dan lainnya biasa melayani penumpang ke berbagai jurusan. Dan ditempat itu berkembang ekonomi rakyat karena ada warung, kios dan lainnya. Lho kalau sekarang semua kegiatan harus dilakukan di terminal Ir. Soekarno, bagaimana nasib mereka. Dimana letak pemerataan ekonomi kerakyatan. Apa usaha yang sudah puluhan tahun dikelola harus dikorbankan hanya demi “menghidupkan” terminal bus baru”, ujar sala satu agen bus asal Delanggu.

Harusnya Pemkab bisa mencari solusi yang baik untuk “menghidupkan” terminal tanpa harus mengorbankan usaha rakyat kecil. Biarkan para agen yang ada sekarang tetap hidup dan melakukan aktivitas kegiatan seperti biasa, sehingga ekonomi rakyat bisa merata pembangunan bisa berkembang.”Wong arep ngurip urip terminal anyar kok dadak mateni usahane wong cilik. Iki aturan apo pemerintahan diktator, dupeh kuoso njur sak kepenake dewe karo rakyat cilik”, tegasnya. (alfarought neo)

Share on Google Plus

Salam mattanews com

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...