Tidak Mampu Mbayar "uang Tebusan". Jenasah Painem Penjual Abu Gosok Ditahan RS. Suradji Tirtonegoro.



Keluarga almarhum Painem hanya bisa pasrah
KLATEN MATTANEWS.COM – “Jangan Sakit jika kamu melarat Dan Jangan mau mati kalau belum punya harta banyak”. Dijaman orang bisa mendapat jaminan kesehatan melalui KIS, tampaknya pepatah tersebut masih berlaku juga di Klaten. Buktinya keluarga almarhum Painem warga Karanglo, Klaten Selatan, Klaten Jawa Tengah ini kesulitan saat akan membawa jenasah keluarganya. Jasad Painem pedagang abu gosok dan garam di pasar Gede Klaten tersebut tetap dibiarkan membujur kaku di RS Suradji Tirtommegoro (Tegalyoso) Klaten karena keluarga tak mampu membayar uang tagihan menebus jenasah sebesar Rp 900.000.

Almarhum Painem sendiri ditemukan sudah membujur kaku di tempat dagangannya di pasar Gede Klaten pada Jum’at lalu. Karena saat itu tidak ada keluarga yang mengetahui oleh kepolisian dan warga setempat jenasah di bawa ke rumah sakit untuk mendapatkan visum.

Sementara keluarga yang mengetahui berita tersebut langsung mendatangi pihak rumah sakit untuk mengambil jenasah almarhum. Namun yang terjadi saat sampai di rumah sakit pihak RS Suradji Tirtonegoro tidak mau melepas jenasah tersebut sebelum keluarga almarhum membayar uang biaya pengeluaran jenasah sebesar Rp 900.000.

Hingga Sabtu siang jenasah almarhum akhirya tetap dibiarkan membujur kaku dirumah sakit. Pihak keluarga sendiri merasa keberatan dengan uang tebusan sebesar Rp 900.000, mengingat almarhum semasa hidupnya hanya sebatang kara tak punya tempat tinggal.

Beberapa warga setempat dan tokoh masyarakat  sangat menyayangkan sikap arogansi rumah sakit. Sebagai rumah sakit pemerintah seharusnya pihak rumah sakit punya market sosial, tidak mencari keuntungan semata, apalagi almarhum seorang janda yang hidup sebatang kara.

“Almarhum selama ini hidup sebatang kara tidak punya tempat tinggal. 2 tahun lalu suaminya meninggal dunia. Untuk itu saya meminta agar pihak rumah sakit punya kebijakan dan nurani untuk memberi keringanan biaya dan memberikan jenasah pada pihak keluarga”, ujar salah satu warga.

Sementara itu pihak rumah sakit menjelaskan tindakan yang dilakukan bukan semata untuk menahan jenasah almarhum, karena saat menerima jenasah pihak rumah sakit, tidak ada pihak keluarga yang datang dan mengakui. Sementara terkait dengan biaya pihak rumah sakit sendiri akan menyerahkan kepada Dinas sosial.  Dan jika keluarga menghendaki pemakanan secepatnya pihak keluarga harus menyelesaikan beberapa perasyaratan.

“Pihak rumah sakit tidak mempersulit pengeluaran jenasah, kami hanya meminta pihak keluarga menyelesaikan persyaratan administrasi seperti surat hasil visum dari kepolisian, serta memberikan jaminan pada rumah sakit. Terkait biaya akan kami serahkan pada Dinas Sosial terkait”, ujar Martha Cristauli bagian administrasi RS Suradji Tirtonegoro. (sin/red)


Share on Google Plus

Salam mattanes

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...