Masjid Majasem Masih Sakral. Air Sumurnya Dipercaya Mampu Sembuhkan Penyakit.



Bagian dalam masjid Majasem
KLATEN MATTANEWS.COMMajasem. Sebuah pedukuhan kecil di desa pakahan Kecamatan Wedi yang jaraknya sekitar 6 kilometer barat daya kota Klaten. Namun hingga kini masih banyak warga Klaten yang tidak tahu jika di dukuh tersebut berdiri sebuah bangunan masjid yang sudah berumur ribuan tahun silam. Berikut laporan wartawan MATTANEWS.Alfarought dan Neo Ramadhan.


Masjid Majasem hingga kini masih terawat “cukup baik”. Setiap hari masjid yang telah berumur ribuan tahun ini masih ramai digunakan untuk beribadah umat Islam dalam menjalankan sholat 5 waktu. Bahkan jika bulan puasa menjelang lebaran masjid ini harus dipasangi tenda guna menumpah jemaah yang akan sholat tarawih dan sholat idul fitri saat lebaran.

Arsitektur masjid Majasem dibuat sama persis dengan masjid keraton Surakarta yang berada di barat alun-alun keraton. Mulai dari bentuk bangunan bahan yang digunakan hingga atap dan menara masjid. Hal ini dapat dimaklumi karena masjid dibuat oleh pangeran Ngurawan atas perintah Sultan Pakubuwono I dimana pada jaman dulu wilayah Klaten masuk dalam wewengkon Kasunanan Surakarta.

Masjid yang memiliki ukuran sekitar 10 X 10 Meter dan tinggi tembok sekitar 2,5 meter, masih tampak kokoh karena dibuat dengan kontruksi cagak yang terbuat dari kayu jati sebanyak 16 buah. Ternit, reng dan usuk, semua terbuat dari kayu jati dan sampai sekarang belum ada yang diganti. Hanya sebuah jagak yang terpaksa diganti karena lapuk dimakan usia. Sedang atap yang dulu terbuat dari kayu sirap juga sudah diganti dengan genteng. 
Makam pangeran Ngurawan dan istri serta putranya
Sekitar tahun 1934 masjid ini pernah direnovasi oleh salah satu warga Wedi yakni almarhum ibu Imam Mukarom dari desa Tosadu. Saat itu almarhum membuat serambi masjid dan ruang pawastren yang terletak diselatan bangunan utama. Bersamaan itu pula kolam yang mengelilingi masjid yang saat itu berfungsi untuk membasuh kaki dan wudlu juga hilang karena diurug dengan tanah dan dibuatkan tempat wudu dari gentong.

Hingga saat ini masjid yang sudah masuk dalam perlindungan cagar budaya yanh dilindungi negara ini, masih dianggap sakral oleh beberapa yang masih mempercayai dan meyakini. Keberadaan makam pangeran Ngurawan dan istri dan beberapa santrinya serta sebuah sumur tua yang dibuat pangeran Ngurawan hingga kini diyakini masih memiliki kharomah dan nilai sakral tinggi. Ini bisa dilihat dengan banyaknya orang dari berbagai daerah yang datang untuk berziarah dan sholat dimasjid tersebut.  
Masjid yang menjadi aset budaya dan dilindungi
Selain makam, ada sebuah sumur tua yang konon dibuat oleh pangeran Ngurawan hanya dengan menancapkan tongkatnya hingga kini airnya diyakini memiliki kharomah dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Maka tak heran jika setiap jum”at pas adzan berkumandang banyak mereka yang punya sakit mandi gebyur disumur tersebut.

“ Jangan kaget mas jika sholat Jum’at disini, karena kadang anda mendengar ada anak menangis disumur. Karena pada saat adzan berkumandang adalah saat yang tepat untuk mandi gebyur disumur untuk memohon kesembuhan pada Sang Maha Pencipta”, ujar mbah Parijo. Dan buktinya lanjut mbah Parijo banyak mereka yang sembuh setelah mandi dengan air sumur masjid Majasem.

Karena masjid Majasem merupakan masjid yang dibangun atas perintah sultan Pakubuwono I, maka saat itu tidak semua orang bisa menjadi takmir atau pengurus masjid. Dulu petugas atau penjaga masjid Jasem diangkat dan digaji langsung dari keraton Solo dengan pangkat Bendoro. Petugas adzan dan pemukul beduk disebut Ndoro. Sedang imam khotib disebut Ndoro Bei. Kesemuanya diangkat dan digaji langsung dari keraton.

Tetenger dari Pakubuwono ke XII
Namun kini pengangkatan dan gaji dari keraton sudah tak ada lagi. Namun Masjid Majsem masih tetap kokoh berdiri dan belum banyaka mengalami renovasi kecuali lantai dan genteng masjid. Untuk tembok masih tampak utuh dan kokoh. Karena pada saat itu bangunan masjid dibuat dengan batu bata ukuran besar dengan perekat bahan dari tetes tebu.

Kini sudah selayaknya kita sebagai generasi penerus merawat dan memelihara masjid tersebut. Dan menjadi kewajiban Pemda Klaten untuk memberi perhatian lebih bagi masjid ini dan situs sejarah lainnya agar tidak tergerus dan tergusur dengan bangunan modern.(habis-red)
Share on Google Plus

Salam mattanes

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...