Masjid Majasem Dibuat Tahun 1385 M. Peninggalan Budaya Yang "Nyaris Terlupakan"


Masjid Djasem dalam perlindungan Dinas Purbakala
KLATEN MATTANEWS.COMKlaten secara geografis terletak diantara dua bekas kerajaan besar yakni Kerajaan pajang Di Kartosuro Suarakaarta dan Kerajaan Mataram di Jogyakarta. Maka tak heran jika hingga kini di kota berpenduduk sekitar 1,3 juta jiwa ini peninggalan situs sejarah baik berupa makam atau bangunan petilasan kuno peninggalan nenek moyang. Berikut laporan budaya wartawan MATTANEWS H.Alfarought dan Neo Ramadhan.

Sebut saja Masjid Golo dan makam Ki Pandanaran di Tembayat, Makam Sunan Gribik di Jatinom, Makam Ronggo Warsito pujangga sakti dari keraton Solo di Palar Trucuk, Makam Panembahan Romo dan Panembahan Agung di Kajoran, Makam Eyang Melati, situs makam di puncak bukit Bekonang dan Bandungan Wedu, situs makam Eyang Melati dan masih banyak lagi.

Dari sekian peninggalan tersebut, warga Klaten pada umumnya masih banyak yang belum tahu atau memang sengaja melupakan sebuah situs peninggalan sejarah yang tak kalah penting yakni keberadaan “masjid tiban” Majasem, yang terletak di dukuh Majasem, Desa pakahan, Wedi Klaten, jawa Tengah. Padahal masjid ini tak kalah penting dalam sejarah penyebaran agama Islam di pulau jawa khususnya di wilayah Klaten.
Tetenger yang ada di tembok masjid Majasem
Dalam  prasasti yang terpasang di tembok masjid terpasang angka tahun 1385 M, yang mungkin dapat diyakini tahun dibuatnya masjid tersebut. Namun menurut perkiraan Haji Parijo Dwidjowiyoto BA salah satu sesepuh dan mantan pengurus masjid, dikatakan masjid jasem dibuat sekitar tahun 1785, setelah terjadi perjanjian babat Giyanti.

“Kalau menurut perkiraan saya masjid Jasem dibuat sekitar tahun 1785, setelah ada peristiwa babat Giyanti. Karena keberadaan masjid ini tak lepas dari bersatunya dua saudara putra Sultan Pajang  Hadiwijoyo yang saat itu rebutan kekuasaan. Karena meraka dapat rukun maka tak lama kemudian berdirilah masjid ini”, ujar Mbah pariyo cucu dari pengurus masjid Majasem terdahulu.   

Menurut Kakek kelahiran tahun 1932 dari 12 cucu ini, masjid Baithul Makmur yang kini lebih dikenal dengan nama masjid Majasem ini dibuat oleh Pangeran Ngurawan, sosok tokoh yang berhasil mendamaikan dua putra Sultan Hdiwijoyo Pajang. Dimana dalam perebutan kekeuasaan tersebut mereka mau berdamai. Untuk selanjutnya salah satu putra Sultan pajang diberi tanah di daerah Bringharjo dan mendirikan kerajaan dengan gelar Sultan Hamengkubowono I. Sedang Yang di Solo mendirikan kerajaan sendiri dan bergelar Sultan Pakubuwono I.  
Mbah Parijo Dwidjowijoto BA cucu pengurus masjid terdahulu
Pada Saat itu Sultan Hadiwijoyo pajang tak mampu mendamaikan kedua putraanya. Maka dibuatlah sayembara siapa yang bisa mendamaikan kedua putranya akan diberi hadiah berupa tanah perdikan. Maka munculnya pangeran Ngurawan yang mampu merukunkan keduanya, dikenal dengan istilah babat Giyanti. Dan atas keberhasilanya beliau diberi tanah perdikan di wilayah antara keraton Jogyakarta dan Surakarta. Dan sejak itu beliau menetap di tempat tersebut dan mendirikan sebuah Masjid yang kini dikenal dengan nama pedukuhan Majasem yang berasal dari kata Mojo dan Asem.

Mengapa di sebut Majasem, Konon saat pertama kali masuk ke wilayah tanah perdikan Pangeran Ngurawan dan keluarga hanya ditemani beberapa cantrik dan sanatrinya. Tanah yang masih hutan belukarpun lama lama ramai menjadi padukuhan. Seiring makin ramainya pedukuhan beliau bingung karena tempat tinggalnya belum punya nama. Kebetulan di sekitar tempat yang masih berujud hutan belukar tersebut banyak pohon Mojo dan Asem yang besar, maka sang pangeranpun berkata pada seluruh pengikut dan warganya jika padukuhan tersebut bernama dukuh Mojo Asem. Nama itu sendiri lama lama menjadi Mojasem (majasem) hingga sekarang.(1.bersambung)
Share on Google Plus

Salam mattanes

1 komentar:

  1. boleh koreksi? kalau babad giyanti setelah mataram ada di kartasura jadi bukan putera Sultan Hadiwijaya. namun saat paku buwono II. pembagian mataram menjadi surakarta dan yogya di tahun 1755. surakarta lalu di bawah Paku Buwono III sedang yogyakarta di bawah hamengku buwono I.

    ReplyDelete

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...