Gubernur: Jika Memang Sulit Buat Embung Di Gantiwarno Untuk Obyek Wisata Dan Perikanan



Lahan sawah di Ganatiwarno yang berubah jadi Rawa
KLATEN MATTANEWS.COM - Gubernur Jawa Tengah Haji Ganjar Pranowo dan rombongan melakukan kunjungan kerja di desa Kerten kecamatan Gantiwarno Klaten, desa berdampak banjir yang mengakibatkan sekitar 76 hektar lahan sawah terendam air. . Rombongan diterima Pelaksana tugas (PLT) Bupati Klaten Hajah Sri Mulyani, didampingi Sekretaris Daerah (Sekda) Haji Jaka Sawaldi dan pejabat terkait para kepala desa dan puluhan petani pemilik lahan persawahan Dukuh Sangiran dan sekitarnya didesa Kerten  kecamatan Gantiwarno.

Dalam kunjungan tersebut Gubernur menaandaskan jaman dulu setiap desa di Jawa Tengah memiliki petugas yang mengatur air yang disebut Ulu-Ulu, namun saat ini petugas tersebut tidak ada lagi, sehingga air tidak bisa diatur dengan baik. Untuk itu guna mengatasi permasalahan desa Kerten, Pemprov Jateng, pemkab, dan Balai Besar Wilayah Bengawan Solo, akan menugaskan seseorang yang mengatur keluar masuknya pintu air.

Disamping itu kata Gubernur perlu adanya koordinasi antar warga desa terkait dalam pengelolaan air di wilayah Gantiwarno. Menurut gubernur tanpa dikelola oleh orang yang ahli dibidangnya, maka sulit mengatas permasalah air di wilayah tersebut.

“ Jika memang sulit mengatasi masalah air yang sudah berjalan puluhan tahun ini, mungkin bisa kita carikan solusi lain misalnya membuat embung di lahan tersebut dengan memanfaatkan dua sungai dan lahana yang ada, sehingga bisa dijadikan obyek wisata dan perikanan yang memiliki nilai ekonomis bagai warga sekitar. Dan tentunya harus disertai dengan adanya ganti rugi lahan dengan tanah kas desa”, ujar Gubernur.

Sementara kepala desa Kerten Saridi didampingi Tukimin salah seorang pemilik lahan yang kerendam mengemukakan, lahan persawahan di dukuh Sangiran Gebang dan Jatimulyo yang kerendam berkisar antara 76 hektar milik warga desa Kerten, dan puluhan hektar yang lain masuk desa Sengon. Kondisi yang demikian saat musim penghujan sudah berjalan sekitar 40 tahun.

Kondisi yang demikian, kata Tukimin lebih lanjut, berawal dengan adanya kebijakan dari pemerintah desa menutup saluran air yang mengarah ke sungai ke Dengkeng. Akibat kebijakan yanag diambil puluhan tahun lalu baru sekarang terasa akibatnya. Lahan menganggur dimusim penghujan tiba, hanya bisa ditanami tembakau sekali saat musim kemarau.(masnabe)
Share on Google Plus

Salam mattanes

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...