Demi 80 hektar Sawah, Warga 7 Desa Di Wedi Urunan Keruk Saluran Air Jurang Gantung.



Alat berat bego tengah mengeruk salaurana air di Wedi Klaten
KLATEN MATTANEWS.COM – Dalam rangka mencukupi ketersediaan air guna kebutuhan tanaman padi mereka, warga dan petani di tujuh dea di wilayah kecamatan Wed Klaten Tengah rela iuran guna melakukan normalisai saluran sungai Jurang Gantung sepanjang lebih dari 500 meter. Dengan normalisasi tersebut diharapkan sekitar 80 hektar lahan sawah petani akan tercukupi kebutuhan airnya disaat musim kemarau.

Tujuh desa di Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten yang melakaukan iuran antara lain  Desa Canan, Tanjungan, Pandes, Pasung, Birit, Brangkal, dan Gadungan. Sedang konsumsi untuk tenaga di lapangan ditanggung oleh Desa Kalitengah. Normaisasi dilakukan mulai teteg Setuman Kalitengah hingga depan kantor Puskemas Wedi.

Petugas lapangan Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Klaten Sukirno didampingi Bintara Pembina Desa (Babinsa) Kalitengah Joko Siswanto, Selasa (7/3) menjelaskan, normalisasi saluran Jurang Gantung ini dimulai sejak Sabtu (4/3). Normalisasi saluran ini dimaksudkan agar air yang mengalir di saluran tersebut dapat mengalir dengan lancar sampai ke sawah petani.

“Dengan normalisasi saluran ini, setidaknya bisa mengairi sekitar 80 hektar sawah di Desa Canan dan 15 hektar sawah di Desa Kalitengah. Sedang tustusan (limpahan) airnya bisa mengairi sawah di desa lain seperti Tanjungan, Birit, Pasung, dan Brangkal,” katanya.

Mantri pengairan Sukirno mengatakan, normalisasi saluran ini menggunakan satu unit back hoe, dan dibantu oleh 10 tenaga manual. Untuk back hoe dan operatornya dari Kodim Klaten. Sedang tenaga manual dari dari tenaga harian lepas  Bidang SDA DPU Klaten.

“Normalisasi saluran yang menggunakan back hoe diperkirakan membutuhkan waktu enam hari. Kemudian dilanjutkan pekerjaan manual dari THL. Tenaga manual ini untuk membersihkan endapan lumpur dan kotoran dalam salauran.

Normalisasi saluran Jurang Gantung ini disambut baik oleh para petani. Petani Desa Canan, Marsono mengaku gembira karena air telah mengalir sampai ke sawah di desanya.  “Kami bersyukur. Karena setelah 20 tahun berharap, baru kali ini terealisir. Air dapat mengalir sampai ke Canan. Dulu, airnya ya mengalir. Tetapi kecil, tidak lancar, sehingga kami harus menyedot air dengan diesel dengana beaya sekitar Rp 50  ribu sekalai pakai” ucapnya.

Kaur Pembangunan Desa Canan ini mengemukakan, areal sawah di Desa Canan sebenarnya merupakan sawah irigasi teknis. Tetapi karena air yang mengalir sangat kecil, terkadang tidak mengalir sama sekali, sehingga sawah di Desa Canan akhir akhir ini menjadi sawah tadah hujan.(laurent)

Share on Google Plus

Salam mattanes

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...