42 Sekolah di Klaten Ikuti Lomba Tari Memperebutkan Piala Bupati



Salah satu peserta lomba tari di gedung RSPD Klaten
KLATEN MATTANEWS.COM - Dengan angun dan lemah gemulai tiga penari dari salah satu SMP di Klaten menarikan tari “Roro Ngansu” di atas panggung di hadapan tiga juri yang menilai mereka. Tari tersebut bercerita tentang prosesi gadis-gadis desa yang sedang mengambil air dari sumber mata air dengan membawa klenting atau tempat air yang terbuat dari Gerabah.

Gelaran tari Roro Ngangsu itu di lakukan dalam rangka lomba tari tingkat SD hingga SMU yang di selenggarakan oleh sanggar tari Kusumo Aji Pada kamis (23/3/17).  Sebanyak 42 sekolah mengikuti lomba tari yang memperebutkan piala Bupati. Kegiatan tersebut di lakukan di kompleks RSPD Klaten.
Menurut Tejo Sulistyo, selaku ketua panitia, lomba tari di laksanakan dengan tujuan untuk memperkenalkan tari tradisional kepada generasi muda agar tidak terjebak dalam budaya hendonisme.

“Di harapkan generasi muda kedepan masih ada yang ngleluri budaya dan sehingga tari tradisional tidak punah ” kata Tejo Sulistio yang juga selaku ketua panitia yang juga pencipta tari Roro Ngangsu.

Dalam tari tradisional lanjut Tejo, masih terdapat nilai-nilai karakter budaya yang mengandung unsur tepo sliro dan tata krama yang akan membentuk mental penari sehingga memiliki karakter jawa. Dari kacamata Tejo Sulistyo, saat ini sopan santun di kalangan anak muda mulai luntur, hal itu terlihat dengan makin hilangnya rasa hormat dari anak muda  kepada yang lebih tua. Semua itu akibat pengaruh budaya luar.

lomba tari Roro Ngangsu di ikuti 47 peserta, yaitu 25 peserta perwakilan SD, 12 peserta Perwakilan SMP, dan 5 peserta perwakilan SMU. Dengan tiga juri dari universitas yang ada di solo dan Jogya.
Salah satu pemerhati seni di Klaten, Supriyadi atau yang akrab di sapa Jimbeling mengapresiasi adanya lomba tari ini. Dan di harapkan menjadi satu embrio kebangkitan seni di Klaten yang cukup kaya dengan berbagai potensi kesenian tradisional.

“apa pemerintah tidak malu, banyak orang luar daerah Klaten belajar seni asal Klaten dan dan di kembangkan di daerahnya, masak di sini hanya anteng-anteng saja” Ujar Jimbeling.

“Roro Ngangsu “ sebuah karya tari yang  terinpirasi dari prosesi pengabilan air yang di lakukan oleh gadis-gadis desa pada jaman dahulu. Adapun selain itu, tari roro Ngangsu juga memperkenalkan potensi Klaten yang terkenal dengan banyaknya umbul atau belik. Dan produk asli Klaten yang berasal dari bayat berupa gerabah sebagai properti dan jarik dari batik jarum Bayat.

Dan Secara filosofi tari “Roro Ngangsu” merupakan simbol hubungan manusia dengan lingkungan di mana manusia tak bisa lepas dari air dan tanah, karena tanpa dua hal tersebut manusia tak bisa hidup kataTejo Sulistyo penata dan pencipta tari dari Klaten di sela-sela lomba tari. (alfarought)


Share on Google Plus

Salam mattanes

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...