Menuju Klaten Maju Mandiri Dan Berdaya Saing Bersama Lurik Yang Sudah Go Internasional.

ATBM Alat Tenun Bukan Mesin andalan produk lurik alami berkualitas (pengerajin lurik)
Klaten Mattanews.Com - Hampir satu tahun Bupati Klaten Hj Sri Hartini memimpin Klaten. Belum tampak dan belum terasa kemajuan yang diraih selama satu tahun kepeimpinannya. Namun jika kita amati telah banyak perubahan serta prestasi yang diraih dalam waktu sesingkat itu. Seperti sektor perpajakan, layanan publik, serta yang lain. Memasuki tahun 2017 atau tahun ke dua kepemimpinannya banyak sektor yang akan digarap dan menjadi sentra unggulan Klaten. Salah satunya kain lurik yang dulu sempat mencapai jaman keemasanya di tahun 80an. Diharpakan Lurik Klaten akan memiliki daya saing di dunia mode internasional.  Berikut laporan seputar batik bersama wartawan MATTANEWS Abah Hilal Alfarouq ditulis secara bersambung.

Keberagaman budaya merupakan identitas bangsa Indonesia, dari setiap daerah yang ada di Indonesia masing-masing memiliki ciri kas, mulai dari pakaian hingga tata cara dalam berkehidupan masyarakatnya. Berbicara masalah pakaian, masing-masing daerah memiliki model dan betuk yang berbeda sebagai ciri satu daerah .

Dari sekian banyak jenis kain dan model pakian yang di miliki setiap daerah di indonesia, Klaten juga memiliki satu jenis kain yang menjadi identitas bagi masyarakatnya. Kain tersebut di kenal dengan nama kain lurik. Penamaan kain menurut sejarah berasal dari motif yang ada pada kain,motif dasar kain lurik adalah garis-garis horisontal, atau oleh orang jawa di sebut lorik.

Namun pakaian atau kain dengan motif lorek tidak dapat secara langsung disebut lurik, karena lurik harus memenuhi persyaratan yang berkaitan dengan bahan tertentu dan diolah melalui proses tertentu pula, mulai dari pewarnaan, pencelupan, pengkelosarf, pemaletan, peghanian, pencucukan, penyetelan, sampai pada penenunan, hingga nantinya menjadi kain yang siap dipakai.
Bupati Sri Hartini memakai lurik Pedan saat Klaten Lurik Carnival
Dalam Ensiklopedi Nasional Indonesia (1997) disebutkan bahwa lurik diperkirakan berasal dari daerah pedesaan di Jawa, tetapi kemudian berkembang, tidak hanya menjadi milik rakyat, tetapi juga dipakai di lingkungan keraton. Pada mulanya, lurik dibuat dalam bentuk sehelai selendang yang berfungsi sebagai kemben (penutup dada bagi wanita) dan sebagai alat untuk menggendong sesuatu dengan cara mengikatkannya pada tubuh, sehingga kemudian lahirlah sebutan lurik gendong. Dan beberapa situs peninggalan sejarah, dapat diketahui bahwa pada masa Kerajaan Majapahit, lurik sudah dikenal sebagai karya tenun waktu itu.

Pada awalnya, motif lurik masih sangat sederhana, dibuat dalam warna yang terbatas, yaitu hitam, putih atau kombinasal antarkeduanya. Pada jaman dahulu proses pembuatan tenun lurik ini dimulai dari menyiapkan bahan yaitu benang (lawe). Benang ini berasal dari tumbuhan perdu dengan warna dominan hitam dan putih. Selanjutnya, benang tadi diberi warna dengan menggunakan pewarna tradisional, yaitu yang bernama Tarum) dan dari kulit batang mahoni. Hasil rendaman daun pohon Tom menghasilkan warna nila, biru tua, dan hitam, sedangkan kulit batang mahoni menghasilkan warna coklat.

Kini motif kain lurik pun berkembang dengan beragam corak namun tidak meninggalkan esinsi dasar dari lurik itu sendiri. Dan daerah yang kini dikenal sebagai penghasil lurik berkualitas baik ialah Klaten. Klaten memiliki dua wilayah yang hingga kini masih memproduksi lurik yakni. Di desa Mlese, Karangasem dan Balak. Dari desa inilah lurik berkualitas eksport tersebar ke berbagai negara didunia.(hilal bersambung)
Share on Google Plus

Salam mattanes

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...