Dicari Pejabat Yang Berani Tutup Penambangan "Liar" Bukit Kapur Yang "Dibekingi" Oknum Petugas.

Alat berat bego siang malam bekerja meratakan menghabisi gunung kapur
Klaten Mattanews.Com  - Penambangan liar bukit kapur di dukuh Koplak, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat Klaten Jawa Tengah hingga kini masih terus berlangsung. Penambangan yang diduga ilegal dan sudah berjalan hampir satu tahun ini, tidak pernah tersentuh tindakan aparat penegak hukum karena diduga dibekingi oleh oknum petugas. Akhirnya warga yang selama ini terganggu suara bising mesin bego hanya diam tak berani melaporkan pada aparat berwenang.

Saat Mattanews melihat langsung dilokasi Minggu (27/11), tampak beberapa tenaga proyek sedang memperbaiki sebuah bego (eskavator), sementara dibelakangya nampak gundukan bukit kapur seluas kurang lebih 2000 meter dengan ketinggian lebih dari 5 meter ini tinggal separo. Tampak jelas guratan guratan didinding bukit bekas cengkeraman tangan bego yang mengeruknya siang dan malam.

Menurut beberapa sumber menyebutkan, sebenarnya warga sangat terganggu dengan aktivitas proyek tersebut. Walau itu tanah perseorangan namun suara bising mesin bego siang dan malam dan lalu lalang truk yang memuat matrial untuk dijual mengganggu ketengan warga saat istirahat. Apalagi melalui jalan kampung yang akhirnya membuat jalan menjadi rusak.
Cagar Budaya Alam geologi Bayat merana dan tinggal kenangan
“Sebenarnya warga resah dan merasa terganggu mas. Tapi apa boleh buat, walau kemungkinan tanpa ijin, proyek ini tetap jalan terus, tidak ada yang berani melarang, karena ada dugaan kuat ada oknum petugas yang menjadi bekingnya”, ujar salah satu warga.

Pegunungan kapur di wilayah Bayat, selama ini telah ditetapkan sebagai kawasan hutan lindung dan cagar alam Geologi yang dilindungi. Hal ini karena bebatuan yang ada didalamnya memiliki tekstur keunikan tersendiri yang sudah dikenal dunia. Sehingga keberadaanya harus dilindungi. Bahkan UGM Jogyakartapun harus membangun laboratorium geologi di Bayat guna penelitian.

Luasan gunung kapur di Bayat mencakup beberapa desa dan tempat termasuk yang ada di desa Krakitan dan pegunungan kapur di dukuh Koplak, Krakitan. Di pegunungan kapur ini sejak dulu memang diambil batunya untuk diolah menjadi kapur bahan bangunan namun dilakukan secara manual. Penambangan itu sendiri tutup beberapa tahun silam karena keberadaan kapur gamping sudah kalah dengan bahan yang lain.  

Namun sayang kawasan yang termasuk cagar alam geologi ini kini ditambang secara besar besaran dengan menggunakan alat berat bego. Hasil tambah yang mencapai ratusan truk setiap hari dijual untuk urug ke berbagai daerah hingga luar kota.

Sementara menurut Kepala seksi Geologi bidang ESDM dinas PU dan ESDM Klaten Sumarno, areal penambangan galian C hanya ada di wilayah Kemalang. Sedang wilayah bayat sesuai Perda nomer 11, tahun 2011 merupakan telah ditetapkan sebagai sebagai kawasan hutan lindung dan cagar budaya alam geologi.

Kini semua sangat jelas, baik masalah perijinan dan keperuntukan apa yang terjadi didukuh Koplak, Desa Krakitan bisa dikatakan sebuah pelanggaran dan penambangan liar. Tinggal siapa pejabat dan penegak hukum di Klaten yang berani menutup kawasan tersebut, karena dibalik semua itu diduga dibekingi oknum petugas. (now)


Share on Google Plus

Salam mattanes

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...