100 Ribu Pengunjung Rebutan 5 Ton Apem Jatinom Di Acara Saparan Yaa-Qowiyu.

Detik detik penyebaran apem dari dua menara setinggi lebih dari 8 meter
Klaten Mattanews.Com5 ton lebih kue apem di lapangan oro-oro ombo dekat sendang Plampeyan yang berada persis dibawah makam Ki Ageng Gribig Jatinom, Klaten Jawa Tengah dalam acara ritual tahunan perayaan Yaa – Qowiyu atau biasa disebut saparan. Sekitar 100 ribu pengunjung dari berbagai penjuru kota di Jawa Tengah dan Klaten tumplek blek memadati oro – oro ombo dan lereng lapangan untuk berebut “apem bertuah” yang konon dipercaya memiliki manfaat bagi yang mereka yang mempercayai.

Acara sebar apem didahului dengan sholat jum’at berjamaah di masjid besar jatinom dimana disamping masjid sudah ada dua gunungan apem yang sehari sebelumnya sudah disemayamkan ditempat tersebut. Dua gunungan apem yang sudah didoakan inilah yang nantinya djadikan sebagai pembuka acara secara apem yang dilakukan dari atas menara setinggi lebih dari 9 meter.

Usai sholat Jum’at dua gunungan apem setinggi kurang lebih 2 meter diarak dari bangsal masjid menuju oro – oro ombo dekat sendang Pelampeyan, lokasi dimana apem buatan warga Jatinom ini akan disebar. Usai diarak oleh pasukan dari keraton Surakarta Hadiningrat, dua gunungan apem diletakkan untuk didoakan. Penyebaran apempun dimulai, setelah Bupati Klaten Hj Sri Hartini melakukan sebaran apem yang pertama.
Sebelum disebar apem disemayamkan sehari di aula masjid Besar Jatinom
Saparan Yaa-Qowiyu sebuah budaya tradisi religi di Jatinom yang kini masih hidup dan bertahan. Walau tidak seramai 30 tahun yang lalu, namun antusias warga pada tradisi saparan masih cukup tinggi. Hal ini bisa dilihat dari jumlah pengunjung yang mencapai angka lebih dari seratus ribu orang.

Tradisi Saparan sendiri berawal dari kepergian Ki Ageng Gribik ke tanah suci Mekkah untuk melakaukan sholat Jum’at berjamaah. Sebagai sosok sakti mandra guna Ki Ageng Gribik hanya memerlukan waktu sekejap saja untuk berpergian ke Mekah yang jaraknya dari Jatinom beribu - ribu mil jauhnya.

Setiap dari sholat Jum’at di Mekah Ki Ageng selalu membawa oleh oleh apem yang masih hangat dan lezat. Maka tak heran setiap dari Mekah Ki Agegng Gribik selalu membagikan kue apem yang dibawanya para para santrinya  dan warga sekitar. Dari sinilah akhirnya budaya tradisi saparan atau Yaa-Qowiyu di Jatinom dimulai dan berkembang turun temurun hingga sekarang. Sementara 5 ton apem yang disebar pada perayaan Yaa-Qowiyu Jum’at (18/11) dibuat oleh seluruh warga kecamatan Jatinom dengan suka rela.
Lautan manusia tumplek blek di oro-oro ombo mengais keberuntungan apem bertuah
Sementara Bupati Klaten yang hadir dalam acara tersebut berharap agar tradisi budaya religi Saparan yang masih berlangsung di Jatinom tersebut dapat dipertahankan bahkan jika memungkinkan dapat dikembangkan sebagai paket wisata religi di Klaten seperti makam Ki Pandanaran Bayat.

“Saparan adalah aset wisata religi di Klaten yang masih memiliki daya tarik tersendiri dan banyak dimintai pengunjung. Untuk itu kedepan perayaan ini bisa lebih dikembangkan. Inovasi dan kreasi harus terus dilakukan agar perayaan Saparan tetap memiliki daya tarik bagi maasyarakat sekitar dan para wisatan”, harapnya. (red)
  
Share on Google Plus

Salam mattanes

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...