"Emas Hitam" Kemalang Hasilkan Rp 1 Millir Sehari. Setor PAD Hanya Rp 2,1 Mlliar Per Tahun.

Penambangan pasir di Kemalang (foto ilus istw)
Klaten Mattanews.ComPenambangan pasir atau “Emas Hitam” diwilayah Kecamatan Kemalang dan Manisrenggo Klaten Jawa Tengah sudah ada sejak dulu kala. Namun kali ini penambangan dilakukan secara besar – besaran “tanpa ijin” dengan menggunakan alat berat bego. Akibatnya ekosistim alam rusak berat. lereng Merapi selatan yang seharusnya menjadi daerah resapan air bagi warga Klaten kini tak dapat diharapkan lagi. Lahan yang dulu subur dan hijau kini berubah gersang dan menjadi kubangan raksasa.

Ironisnya disaat Klaten “panen” emas hitam yang ditambang tanpa ijin ini, Pemda Klaten tak bisa menikmati hasilnya. Dari sektor ini Pemda Klaten hanya menerima PAD sebesar Rp 2,1 milliar/tahun berasal dari penarikan tarif ristribusi sebesar Rp 25.000/karcis. Padahal jika dikalkulasi dengan hitungan kotor bisnis emas hitam ini menghasilkan omset sekitar Rp 1 milliar/hari, atau Rp 30 milliar sebulan.

Dalam sehari diperkirakan 900 truk keluar masuk wilayah Kemalang dan Manisrenggo untuk mengambil pasir. Harga pasir ditempat berkisar Rp 650.000 hingga Rp 700.000/rit. Jumlah ini belum terhitung matrial lain seperti batu, kricak, urug sirtu dan lainnya. Lantas kemanakah dana milliaran rupiah itu dan siapakah yang bermain dan diuntungkan dengan bisnis ilegal ini.
Sidorejo, bukan tidak mungkin 30 tahun lagi menjadi gersang
Sungai Woro dulu memang dikenal sebagai penghasil pasir dengan kualitas baik. Namun seiring perkembangan jaman para pencari pasir tradisional (ngelo) mati suri tergeser munculnya alat berat bego. Walau akhirnya begopun dilarang karena merusak lingkungan dan eko sistim. Namun entah siapa yang memulai kini “tangan-tangan” mesin raksasa ini beroprasi kembali.

Larangan penambangan bego dengan latar belakang merusak lingkungan dan eko sistim alam tak lagi digubris. Berbagai “permainan” akhirnya ditempuh mereka yang punya modal besar dan para cukong. Akhirnya walau dilarang bego masih beroprasi di bumi Kemalang dan Manisrenggo. Mereka mengoprasikan alat beratnya dimalam hari.    

Kong kalingkong dan main mata itu sudah pasti. Dan siapa dibalik bego sudah menjadi rahasia umum. Karena bermain di bisnis ini memang sangat menguntungkan dan menjanjikan. Setoran tiap rit truk dan bermain bahan bakar bersubsidi untuk bego besarnya luar biasa. Maka walau ada seribu larangan menambang dengan bego dari pemerintah mereka tidaka menggubris dan tetap saja eksis karena ada beking dibelakang bego.

Sekarang sudah saatnya dengan pemimpin baru, Klaten berani menutup penambangan liar atau mengatur tata kelola penambangan pasir di bumi Kemalang dan Manisrenggo dengan benar dan sesuai Perda yang ada. Karena jika tidak dikelola dengan benar, 20 tahun lagi bumi Kemalang dan Manisrenggo akan tandus dan gersang. penambang lokal akan mati dan warga kehilangan mata pencahariannya. Dengan tata kelola yang baik dan benar  Pemda bisa menyelamatkan asset kekayaan sekaligus mengoptimalkan PADnya. Itu langkah tepat dari pada uang hilang percuma hanya untuk  “menggendutkan” para beking penambang liar. 

Kasus tewasnya aktivis lingkungan di salah satu kota di Jawa Timur beberapa waktu lalu karena menantang penambangan pasir liar, memang membuat banyak orang takut dan berpikir lima kali  untuuk mengungkap siapa beking dibalik maraknya Bego di bumi Kemalang dan Manisrenggo. Mereka tak mau mati konyol karena mencoba melawan “penguasa”. (get/now)
Share on Google Plus

Salam mattanes

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...