Dewi Cahyaningsih Gadis Tangguh. Sejak Kelas I SD Sudah Mengurus Ibunya Yang Lumpuh Seorang Diri.

Dewi Cahyaningsih (tengah) gadis cilik tangguh dengan sejuta beban dipundaknya
Klaten Mattanews.ComMemasak, mencuci, memandikan sekaligus mengurus ibunya yang lumpuh dilakukannya sendiri, sejak dirinya masih duduk dibangku kelas I SD. Tak hanya itu dirinya juga dituntut harus berusaha bagaimana dia dan ibunya bisa makan dan harus bertahan hidup, sementara dia masih harus pergi kesekolah demi menggapai cita cita.

Itulah penderitaan yang dialami gadis kecil yang kini tinggal di Desa Miri Kecamatan Tulung Kabupaten Klaten Jawa Tengah. Putra semata wayang pasangan Rejo dan Bibit ini harus menanggung semua beban keluarga sejak kedua orang tuanya berpisah. Sejak masih bayi gadis malang namun tangguh ini hanya hidup berdua dengan ibunya dengan segala keterbatasan. Sementara sang ayah hingga kini pergi tak pernah pulang entah kemana.
Bupati Klaten Hj Sri Hartini memberi semangat Ny Bibit ibunda Dewi
Ibunya kini sakit – sakitan dan harus memakai kursi roda jika ingin berjalan. Kondisi ini terjadi setelah sang suami yang tak bermoral sering menyiksanya. Sementara Dewi yang kala iu masih berusia 4 tahun tak bisa berbuat banyak. Beruntung warga yang melihat kondisi tetangganya yang menyedihkan segera menjemput dan memulangkan ibu dan anak ini ke kampung halamannya sendiri. Dan sejak itu keberlangsungan hidup Dewi dan ibunya menjadi tanggung jawab warga desa Miri dan para donatur.

Secara gotong royong dan bergiliran warga tak pernah behenti untuk memberi bantuan kepada keluarga malang ini. Entah sekdar untuk makan sehari hari atau mencukupi kebutuhan sekolah Dewi. Demikian pula sarana penerangan listrik dan air, dengan sukarela dan suka cita warga terdekat memberi suplai penerangan dan air. Selain itu tak sedikit pula para hamba Allah dan donatur yang datang untuk memberi sesuatu demi meringankan keluarga ini dari segala keterbatasan.
Dewi bersama guru wali kelas dan teman sekelasnya
Hal ini diakui oleh asisten II Sekda Slamet Widodo yang kebetulan rumahnya tak begitu jauh dari rumah Dewi. “ Kita sering melakukan kegiatan yang sifatnya membantu meringankan beban mereka. Terutama disaat – saat mereka membutuhkan seperti lebaran, atau jika ada kegiatan di sekolahnya”, ujarnya.

Dewi sebenarnya anak yang cerdas. Namun karena beban berat yang harus dipikul setiap hari, membuat gadis kecil ini cukup tertekan dan sedikit mengalami dipresi. Hal ini diakui oleh wali kelas 6 SD dimana dia menuntut ilmu.” Anak ini sebenarnya cerdas dan periang. Namun karena kondisi keluarga dan ekonomi yang seperti itu, membuat dia kendur dalam belajar dan sedikit mengalami dipresi atau tekanan jiwa. Sehingga anak ini minder takut pada orang dan tidak mau bergaul”, ujar Sri Maryuni wali kelasnya.
Bupati masuk rumah langsung memerintahkan stafnya untuk segera memperbaiki.
Menempati rumah sangat tidak layak huni dengan ukuran 3 X 5 meter memang membuat kondisi dalam rumah tidak sehat. Apalagi antara tempat tidur, tempat mandi dan masak menjadi satu tanpa sekat. Sementara dirumah setinggi 2,5 meter itupun hanya ada satu jendela. Sehingga suasana dalam rumah tampak pengap dan bau. Tidak ada TV atau Radio apalagi kulkas atau AC.

Tapi itulah kenyataan yang harus dialami Dewi gadis kecil yang tangguh dan bertanggung jawa. Dengan segara keterbatasan dan kekurangan, dirinya tak penah mengeluh mengurus ibunya yang lumpuh dan tetap bersekolah. Memasak, mencucui, memandikan ibunya serta bekerja dan sekolah adalah kegiatan sehari-hari yang tak pernah dikeluhkan. Semangat dan kecintaan pada orang tua menjadikan dirinya sosok gadis tangguh, cekatan dan tabah dalam menghadapi semua rintangan.

Namun sekuat dan setabah apapun guncangan juga sempat dialami oleh Dewi. Itu diakui oleh beberapa tetangga terdekat melihat perubahan sikap dan perilaku Dewi sejak dirinya duduk di kelas 5 SD.
“Anak ini sedikit mengalami dipresi dan tekanan jiwa, karena trauma dengan kejadian beberapa tahun silam, dimana dulu dia pernah mau dijual oleh ayah kandungnya sendiri dan akan dititipkan di panti asuhan secara paksa”, ujar warga.

Namun usaha ayahnya gagal, karena Dewi berhasil lari dan mencari perlidungan pada warga. Dan sejak itu warga bernisiatif melindungi. merawat dan sekaligus menanggung semua keperluan dewi dan ibunya. 

Dewi foto bersama Bupati dan temen sekelasnya
Dewi sibocah malang ini dulu pernah mau dijual oleh ayahnya. Gagal menjual anak sang ayah berusaha memasukan anak ke salah satu panti asuhan. Namun usaha tersebut tak pernah membuahkan hasil. Dewi bersikukuh tetap berada disisi ibunya dan bertekad akan terus merawat dan menjaga ibunya dalam kondisi apapun.

Kedatangan Bupati Klaten Hj Si Hartini cukup bisa membuat hati Dewi sedikit bahagia dan percaya diri. Walau tidak banyak memberi bantuan, namun kepedulian orang nomor satu di Klaten ini diharapkan mampu mengembalikan semangat dan kepercayaan diri Dewi agar bisa kembali tumbuh seperti gadis kecil lainnya.

Pembebasan semua beaya pendididkan, kesehatan serta rehab rumah yang segera dilakukan sesuai intruksi Bupati diharapkan mampu menjadi semangat baru bagi Dewi dan ibunya untuk menyongsong masa depan yang lebih baik. Dan menjadi tanaggung jawab pemerintah Klaten untuk terus memberi binaan serta perhatian bagi rakyatnya, khususnya mereka yang membutuhkan agar tidak ada lagi Dewi Dewi yang lain di Klaten. (batavia)


Share on Google Plus

Salam mattanes

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...