Warung Apung Rowo Jombor Klaten Terancam Gulung Tikar. Sepi Pengunjung Warong Nggelondang.

Suasana warung apung di Rowo Jombor di hari Minggu. Sepi.
Klaten Mattanews.ComPuluhan warung apung yang berjajar hampir disetiap tepi waduk Rowo Jombor terancam gulung tikar. Sepinya pengunjung membuat para pemilik warung yang banting setir mencari pekerjaan lain. Berbagai penyebab membuat wisata kuliner yang sempat moncer diawal tahun 2000an ini kini tinggal bangunan kosong mirip rakit raksasa yang bersandar ditepi rawa.

Sepinya pengunjung warung apung sebenarnya sudah terasa sejak setahun terakhir ini. Kesempatan hari lebaran serta perayaan syawalan keamrinpun tak mampu menjadi “infus” bagi warung apung untuk bangkit kembali seperti semula. Pengujung tetap sepi, sehingga banyak pengusaha yang mengalami kerugian karena sudah terlanjur stok bahan baku berupa ikan segar dan lainnya.  

Pada hari hari biasa lebih dari 15 warung apung yang kosong mlompong tanpa pengunjung. Hari minggu yang selama ini dijadikan massa panen mengais rejekipun tak mampu membantu. Dihari minggu paling banter hanya ada 5 sampai 20 pengunjung sepanjang hari. Sementara dihari biasa pengunjung rata- rata mencapai 3 sampai 10 orang perhari.

Kondisi yang memperihatinkan ini akhirnya banyaka pemilik warung banting setir mencari pekerjan lain. Sedang bagi yang masih memeiliki modal mereka merubah warung apung menjadi arena pancingan harian, kiloan  atau arisan. Sehingga warung apung kini lebih banyak didatangi para pemancing ketimbang mereka yang ingin wisata kuliner.
Waduk Rowo Jombor diambil dari puncak touris
“ Kalau tidak disiasati dengan cara ini, kita mau makan apa mas. Jika masih mengandalkan warung apung, bisa-bisa kita tak makan dan tak bisa bayar karyawan. Tapi dengan bukak pancingan sedikit ada pemasukan. Dulu sehari kita bisa meraup untung belasan juta mas. Sekarang sehari kedatangan satu tamu saja sudah istimewa”, ujar Tukul salah satu pengusaha warung apung asal Kaliyoso Solo.

Hasil investigasi lapangan terungkap beberapa hal yang membuat warung apung di Roowo Jombor mengalami masa surut antara lain, kesan kumuh limbah hasil cucin dapur yang menimbulkan aroma tak sedap dan terkesan jorok, ikan yang disajikan relatif kecil, kecil, alam dan faktor penunjang yang monoton, ada kesan memaksa calon pelanggan dengan cara menyetop mobil pelanggan yang sedang melintas. Serta semakin banyaknya pesaing mereka yakni munculnya ratusan kuliner di Klaten dengan sejuta menu masakan yang lebih lezat. (neo onette)
Share on Google Plus

Salam mattanes

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...