Vio Jawara Mancing Yang tetep Eksis Moles Akik, Walau Tak Lagi Di Buru.

Vio Sabastian Vetel dengan salah satu karyawannya.
Klaten Mattanews.ComJaman Batu sudah lewat. Demam batu akik yang sempat membuat orang menjadi pemburu hantu memang sempat booming setahun lalu. Namun hampir sama nasibnya dengan demam bunga, isnis batu akik dan permata kini tak lagi bisa dijanjikan sebagai ladang bisnis yang bisa membuat asap dapur tetap ngebul. Penggemar batu tak lagi seramai dulu dan harga batupun banyak yang terjun bebas.

Di Klaten salah satu pengerajin batu akik yang masih tetap bertahan adalah Vio Sabastian Vetel, lelaki berdarah campuran Sumatera dan Vietnam ini mencoba untuk bertahan, demi mengisi kesibukan dan membiayai 3 anaknya yang masih sekolah.Buka pagi hari, bapak tiga anak ini dengan telaten menerima pelanggan yang ingin memebeli atau membuat batu akik. Alhasil dengan ketekunan yang luar biasa dirinya masih bisa menerima order pelanggan 10 hingga 12 orang per hari.

“Lumayan mas, daripada nganggur, selain bisa untuk membeayai sekolah anak dan bertahan hidup. Dan yang lebih penting ada kesibukan dan kegiatan dan banyak temen. Kata orang Jawa banyak temen banyak rejeki mas”, ujar Vio yang ternyata juga seorang pemancing handal pernah menggondol juara 1 lomba mancing di Jogyakarta dan membawa pulang satu unit sepeda motor.   
Vio Saat menggarap pesenan batu Kecubung dari pelanggan asal Jakarta
Dalam sehari dirinya mengaku bisa menggarap 5 hingga 12 batu akik, mulai dari bahan mentah hingga siap pakai. Beaya pembuatan relatif murah yakni Rp 20,000/perbatu dapat ditunggu. Selain membuat batu menjadi akik, dirinya juga menerima jasa selep akik yang sudah mulai pudar atau tidak mengkilap serta reparasi cincin yang rusak. Selain membuat batu akik, dirinya juga menyediakan berbagai batu mentahan mulai dari jenis Bacan, Pancawarna, Galih Kelor, Cubung, Pecah Seribu Badar Lumut dan lainnya.

Ketika ditanya keahliannya memoles batu akik, sang jawara mancing ini mengatakaan semua ilmu didapat saat masih menetap di Sumatera dan tinggal beberapa bulan di Vietnam. Disana dia mulai belajar mengenali semua jenis batu sekaligus membuat batu akik. “Sejak masih di Sumatera saya sudah bermain batu mas dan ini meneruskan keahlian eyang saya di Vietnam. Sehingga saat ada bomming batu, kesempatan saya untuk menekuni hobi lamanya selain mancing”, ujar Vio yang buka jasa pembuatan akik di jalan Prenjak, Mojorejo Klaten Utara ini.

Tentang dunia batu sendiri, Vio mengaku saat ini dunia bebatuan memang sedang mengalami massa surut. Hal ini disebabkan beberapa hal seperti, orang semakin pintar mencari batu sekaligus membuat sendiri, kualitas batu kurang baik dan perasaan bosan. “Jika nanti muncul jenis batu yang baik dengan harga jual yang tinggi saya yakin jaman batu akan hidup kembali seperti dulu”, ujarnya.(tulit-tulit)
Share on Google Plus

Salam mattanes

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...