Festival Ketoprak Pelajar Dalam Upaya Menuju Klaten Kota Lahirnya Ketoprak Dan Dalang.

Edy Sulistyanto pemilik Amigo group bersama keluarga dan karyawan
Klaten mattanews.ComKlaten kota Ketorprak dan dalang. Itulah obsesi para pelaku seni dan budayawan di Klaten yang berharap Klaten memiliki trade mark budaya yang paten dan monumental. Apa yang menjadi gagasan dan harapan para pelaku budaya di Klaten dan masyarakat Klaten tidak berlebihan dan bukan tanpa dasar. Mengingat sejak dulu Klaten dikenal sebagai kota penghasil dalang kondang. Sementara dari catatan budaya, pentas ketoprak pertama kali digelar di alun – alun Klaten sekitar tahun 1600 yang saat itu dikenal dengan istilah ketoprak lesung, karena semua gamelan masih sangat sederhana menggunakan lesung, kentongan, kepyak, gong, kendang dan lainnya.

Adalah Edy Sulistyanto adalah Salah satu tokoh masyarakat Klaten yang begitu terobsesi untuk menjadikan Ketoprak dan dalang sebagai ikon budaya Klaten. Lelaki paruh baya ( 61) yang memiliki nama asli Djie Liong Hauw begitu getul dan peduli atas kelestarian semua budaya Jawa khususnya Ketoprak dan kerawitan. Berbagai pagelaran seni berlatar budaya Jawa terus digelar dalam setiap kesempatan, dengan maksud menanamkan kecintaan budaya leluhur pada generasi penerus.
Ketoprak pelajar gairah baru menghidupkan kesenian tradisional
Totalitas tokoh yang urung menjadi pemain bola saat itu,terhadap seni budaya Jawa di Klaten memang tak perlu diragukan lagi. Disetiap kesempatan dan kegiatan, kerawitan, ketoprak atau wayang seakan sudah menjadi sebuah tontonan yang wajib yang harus dipentaskan. Maka jangan heran jika hampir semua karyawan Amigo group yang berjumlah ratusan, semua piawai bermain musik gamelan dan memerankan setiap tokoh ketoprak. Maka tak berlebihan dengan kecintaan dan kepeduliannya yang luar biasa dan tanpa batas beliau dijuluki bapak ketoprak Klaten.

Demikian pula dengan sekolah atau yayasan yang dikelolanya. Seperti omah wayang, TK hingga SMP Kristen Klaten, semua memiliki prestasi membanggakan di dunia seni budaya ketoprak, kerawitan atau wayang. Tak terhitung berapa banyak medali dan trophi kejuaraan dalang, kerawitan serta ketoprak telah diraih  TK, SD dan SMP Kristen Klaten dalam setiap mengikuti event kejuaraan, baik tingkat regional maupun nasional.

Apa yang telah dilakukan selama ini oleh pemilik Amigo group ini hendaknya bisa segera ditangkap Pemerintah Kabupaten Klaten, sebagai asset seni budaya yang harus didukung sepenuhnya. Obsesi sosok Edy yang sudah punya rasa cinta pada ketoprak dan kesenian Jawa lainnya sejak masih duduk dibangku kelas 5 SD ini bukan tanpa alasan.

Hampir semua dalang kondang berasal dari Klaten. Sebut saja almarhum narto Sabdo, Warseno Slenk, Anom Suroto dan masih banyak lagi. Demikian pula keberadaan ketoprak yang diyakini betul, pertama kali dimainkan di alun-alun Klaten sekitar tahun 1600 yang saat itu populer disebut ketoprak lesung.

Maka tak heran jika sejak tahun 60an setiap tahun pagelaran seni ketoprak selalu tampil dialun-alun Klaten. Saat itu gedung pementasan masih menggunakan gedek serta tiang bambu beratap daun tebu (rapak), sementara kursi bagian belakang hanya berupa bambu utuh yang ditata seperti bale-bale (amben) atau lazim disebut kelas nggetek. Rombongan ini bermain di Klaten dalam batas waktu yang lama.

Berbulan-bulan bahkan tahunan tobong ketoprak gagah berdiri ditengah alun-alun Klaten dengan asesoris pasar malamnya. Siswo Budoyo, wahyu Budoyo, Sari Budoyo, wargo Utomo, adalah nama – nama padepokan ketoprak saat itu yang selalu mengisi rutinitas di tobong ketoprak guna menghibur rakyat Klaten. Jika anda sekarang melihat los tembakau, kira kira begitulah properti dan bentuk gedung ketoprak (tobong) saat itu.   
Edy Sulistyanto alias Ho-Ho
Jika seorang Edy Sulistyanto atau Djie Liong Hauw yang akrab dipanggil dengan sebutan Ho – Ho saja begitu total dan peduli terhadap kesenian Jawa mengapa kita yang mengaku orang Jawa justru memandang sebelah mata dengan budaya kita sendiri. Tak ada keraguan sedikitpun dalam benak pemilik Amigo Group Klaten ini dalam mencintai budaya Jawa, walau dalam darahnya mengalir kental darah Tionghoa atau dalam bahasa jawanya “singkek”.      

Beliau saja begitu peduli. Malu rasanya kita yang mengaku orang Jawa justru  mengagung-agungkan budaya asing. Seolah budaya akan mengganti kesenian leluhur dengan budaya barat atau Arab. Cambuk peringatan bagi kita untuk lebih mencintai kesenian kita sendiri. Dan menjadi tanggung jawab Pemda Klaten menangkap fenomena serta peluang ini guna melestarikannya menuju kota Klaten yang berciri khas seni budaya dalang dan ketoprak. (get)   
Share on Google Plus

Salam mattanes

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...