Opini: Amesti Politik Halal Bi Halal Dan Pergerakan Gerbong SOT Klaten.

Kursi Jabatan yang sebentar lagi jadi rebutan
Mattanews.com – Halal bi halal sebuah tradisi silahturohmi dan saling memaafkan yang sudah ada sejak jaman nenek moyang kita. Diajang inilah kita bisa saling memaafkan semua kesalahan kita pada orang tua, anak, saudara teman dan tetangga.

Di Klaten eforia halal bi halal yang hingga hari ini masih dilakukan di beberapa instansi walau lebaran sudah berlalu, tampaknya akan bermakna ganda ketika sebentar lagi Klaten akan menggelar kegiatan yang sangat “sakral” dan istimewa, yang lazim disebut dengan istilah SOT atau mutasi jabatan. Halal bi halal bisa dijadikan mereka sebagai alat amesthi politik bagai para “pengkhianat” guna menyelamatkan kursi yang kini didudukinya.    

Pergantian pucuk pimpinan yang dilanjutkan dengan pembentukan kabinet baru adalah hal yang lumrah dilakukan dalam setiap pergantian pemerintahan. Demikian pula dengan apa yang akan terjadi di Klaten, dimana Kabupaten yang berpenduduk 1,3 juta ini baru saja melaksanakan Pilkada dan menghasilkan Sri Hartini dan Sri Mulyani sebagai Bupati Klaten priode tahun 2016 – 2021.
Halal Bi Halal Bupati mereka berharap ada pengampunan politik disini
Sama halnya dengan yang akan terjadi di Klaten dalam beberapa hari kedepan. Sesuai tugas dan kewenangannya orang nomor satu di Klaten Bupati Sri Hartini tidak bisa lagi  menunda terjadinya Reshulfe kabinet yang memang harus segera dilakukan secepatnya. Maka tak heran jika moment Idul Fitri dan halal bi halal diharapkan bisa jadikan mereka sebagai alat amesthi politik khususnya mereka para “pengkhianat” loyalitas yang kemarin nyata-nyata tidak mendukungnya.

Bukan pekerjaan mudah bagi Bupati melakukan reshulfe kabinet, mengingat kualitas dan kuantitas pejabat yang ada di Klaten memang sangat terbatas atau dengan kata lain orangnya hanya itu itu saja. Dibutuhkan kejelian, ketelitian dan kearifan yang jernih. Apalagi jika melihat sejarah kelam pada Pilkada kemarin, dimana hampir bisa dikatakan lebih dari 80 persen birokrasi khususnya pejabat di tataran eselon II dan III diduga kuat dan terindikasi “mbalelo” alias tidak mendukung dan tidak menginginkan kepemimpinan Beliau.

Berkaca peristiwa ini, seharusnya tidak mudah bagi Bupati untuk “memaafkan” mereka dalam dosa politik yang telah mereka tikamkan pada Pilkada lalu. Bukan berarti kita seorang pendendam. Namun hendaknya Bupati harus bisa memilah antara “dosa” politik dan kesalahan kita sebagai manusia. Karena jika dosa politik hanya termaafkan dengan moment halal bi halal di hari Idul Fitri maka, akan semakin mudah bagi mereka untuk menikamkan belati pengkhiatan kedalam tubuh yang lebih dalam lagi.  
Manusia bertopeng yang saat ini mengelilingi kekuasaan
Saat ini eforia mencari muka, bermuka manis, setor rai, sok loyal dan saling sikut memojokkan lawan dan kawan demi meraih posisi mereka lakukan yang penting “etuk kursi” masih terus berlangsung. Mereka rela setiap hari “sowan” dan Nderekke kemana saja beliau pergi walau terkadang apa yang dilakukan bukan tupoksinya. Yang penting selamat dari pergerakan gerbong mutasi mendatang. Sementara mereka yang setia dan bekerja tanpa pamrih, justru hilang bagai ditelan bumi.

Menuju Klaten  Yang Maju Mandiri Dan Berdaya Saing bukan sebuah pekerjaan mudah. Ketika semboyan dan slogan itu berani dicanangkan tentunya harus diibangi dengan kwalitas dan kwantitas perangkat di birokrasi yang handal, cakap, profesional, loyal dan memiliki dedikasi tinggi dalam membangun Klaten.Klaten tidak butuh sosok "penjilat" yang hanya bisa sendiko dawuh.

Maka sebuah PR bagi Bupati untuk mencari sosok pejabat yang memiliki kreteria diatas guna mewujudkan cita citanya dalam membawa Klaten kedepan lebih baik lagi, maju mandiri dan berdaya saing. Dituntut keberanian,ketegasan beliau agar tidak mudah hanyut dalam “rayuan dan pujian” para “pembangkang”. 

Karena hanya itu kunci utama menuju sukses 5 tahun kedepan pemerintahannya. Sebaliknya, sekali Bupati salah memilih pendamping maka ambang kehancuran seperti yang diramalkan banyak pihak selama ini tinggal menunggu sangat (waktu). Karena yang mereka lakukan tidak hanya sekedar bertahan, namun menyusun kekuatan didalam dan diluar birokrasi guna melakukan “Kudeta” pada lima tahun kedepan itulah tujuan mereka. Ini yang harus diwaspadai.

Akhirnya ketika kita bicara SOT Klaten kedepan maka semua kembali pada cara pandang Bupati dalam bersikap dan menyikapi apa yang terjadi selama ini. Kita hanya berharap mereka yang terbaiklah yang akan terpilih dalam mengisi kabinet kerja beliau. Masih banyak putra daerah yang pandai, baik, jujur serta memiliki kemampuan dan loyalitas tinggi. Hendaknya merekalah yang terpilih dan dipilih. Bersihkan Klaten dari wajah wajah bertopeng dan orang-orang yang justru berpotensi “membunuh” dari dalam, demi menuju Klaten yang maju mandiri dan berdaya saing. (*)

Share on Google Plus

Salam mattanes

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...