Minim Bangunan Bersejarah. Pemkab Klaten Harus "Selamatkan" Kantor Bupati Pertama Di Kanjengan..

Kantor Arsip Pemda Klaten. Konon disinilah kantor dan rumah dinas Bupati Klaten pertama
Klaten Mattanws.com28 Juli 2016 Klaten genap berusia 212 tahun. Bukan umur yang muda lagi bagi Kabupaten yang berpenduduk 1,3 juta jiwa ini. Kota yang terletak diantara dua  kota besar ini juga dikenal kota yang penuh dengan situs sejarah. Namun sayang banyaknya situs sejarah tak seiring dengan banyaknya peninggalan sejarah yang dapat kita jumpai.

Di Klaten banyak kita temui makam para tokoh kerajaan dan agama. Sebut saja Makam Ki Ageng Pandanaran Bayat yang dikenal sebagai Bupati Semarang yang pertama kali, makam Ki Ageng Gribik di Jatinom, makam Roggo Warsito di Palar Trucuk, Makam Panembahan Romo dan Panembahan Agung di Kajoran Klaten Selatan dan masih banyak lagi, seperti makam di Tanjung Desa Gempol, makam Bekonang serta makam syeh Dumbo di puncak gunung Jabalakat serta cikaal bakal kota Klaten Eyang Melati.

Namun sayang diantara banyak makam para leluhur tersebut di Klaten nyaris tidak ada bangunan peninggalan sejarah yang dapat diwariskan untuk generasi penerus. Hasil investigasi Mattanews, di Klaten hanya tinggal memiliki beberapa bangunan tua itupun status kepemilikanyapun “masih dipertanyakan”.  

Sebut Saja komplek pabrik gula Gondang Winangun, bekas pabrik gula Ceper Baru di Ceper, bangunan tua peninggalan VOC Belanda di Buntalan serta bekas kantor Bupati Klaten pertama di Kanjengan yang sempat menjadi kantor Kawedanan kota dan kini dijadikan kantor Arsip kabupaten Klaten.

Melihat kondisi ini, mungkin sudah saatnya Pemkab Klaten dibawah kepemimpinan Dua Srikandi yakni Bupati Hj Sri Hartini dan wakil Hj Sri Mulyani menyikapi hal tersebut. Inventarisasi tampaknya perlu dilakukan agar Klaten tidak kehilangan sejarah dan akar budaya.

Dimoment hari jadi Klaten ke 212, tak berlebihan jika Pemda melirik bekas kantor Bupati pertama yang sekarang digunakan untuk kantor Arsip menjadi skala perioritas untuk dilestarikan. Hal ini perlu dilakukan agar jangan sampai anak cucu kita generasi penerus “bingung” untuk mengetahui sejarah berdiri kotanya sendiri.

Melihat kondisi bekas kantor Bupati Klaten pertama yang juga kantor Kawedanan kota ditempo dulu ini, cukup memperihatinkan. Selain bangunan sekitarnya yang sudah rapuh, tampak perbaikan yang dilakukan tidak lagi mengindahkan keaslian bangunan. Sementara beberapa bangunan tua disekitarnyapun sudah berpindah tangan menjadi milik para konglomerat.

Saatnya Pemda turun tangan dan kita sebagai warga juga berhak dan berkewajiban ikut menjaga dan melestarikan cagar budaya yang ada. Jangan sampai situs sejarah yang memiliki nilai budaya yang tinggi berjatuhan kepada orang yang tidak berhak. Dan akhirnya Klaten yang kondang dengan kota sejuta situs dan penuh dengan peninggalaan hanya dapat dibaca lewat buku dan mbah gogel. Karena bangunan sejarahnya sudah beralih bentuk dan fungsi. (Batavia)

Share on Google Plus

Salam mattanes

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...