Murnikah Demo Sampah? Siapa Bermain Dibalik Menggunungnya Sampah Di Klaten.

Pengangkutan sampah di pasar gede Klaten
Klaten Mattanews.com – Hampir sebulan Klaten didera masalah sampah yang hingga kini belum mendapatkan jalan keluar. Tumpukan sampah ada dimana-mana. Petugas kebersihanpun bingung harus dibuang keman limbah rumah tangga tersebut. Saking jengkelnya hampir semua handphone petugas kebersihan PU Klaten dimatikan karena tak tahan mendengar dering HP sehari bisa lebih dari 26 kali yang intinya komplain tentang sampah.

Demo penolakan sampah ada dimana-mana. Di Troketon tempat akan didirikannya TPA, kini berhenti sementara karena di demo oleh warga yang justru bukan warga Troketon. Padahal tempat ini dipilih sudah sesuai prosedur yang benar. Mulai dari masalah perijinan, amdal, studi kelayakan, geografis, serta kajian lain dan sudah ditetapkan melalui Paripurna dan di Perdakan. Tempat lainpun juga mengalami hal sama, entah dari mana asalnya setiap Pemda mencari lahan baru, dapat dipastikan tak lama kemudian akan ditandingi dengan aksi demo penolakan TPA atau TPS sampah.

Pertanyaanya kenapa masalah sampah dengan aksi demonya baru muncul di era pemerintahan Hj Sri Hartini sebagai Bupati Klaten priode tahun 2016-2021. Kenapa tahun sebelumnya sampah adem ayem. Ada apa dibalik semua ini. Siapa yang bermain dan apakah ada oknum yang bermain dibalik menggunungnya sampah di Klaten. Dan apakah suasana seperti ini sengaja diciptakan guna melegitimasi pemerintahan Sri Hartini bercitra buruk. Atau malah ini bagian dari “gerakan laten” upaya “menggerogoti” pemerintahan Sri Hartini agar cepat lengser. Jika benar siapa yang bermian dan siapa sutradara yang membuat grand scenario ini.
Warga saat diterima Bupati Klaten Hj Sri Hartini
Memang Terlalu berlebihan dan mengada ada jika masalah sampah kita kaitkan dengan upaya pelengseran Bupati Klaten yang baru menjabat 3 bulan ini. Namun jika kita lihat dan kita simak dari gerakan yang ada dilapangan, sulit dikatakan ini bukan sebuah gerakan terkoordinir. Entah sebuah kebetulan atau memang skenario, penolakan sampah yang begitu sistimatis dan terarah selalu muncul disaat Pemda akan mencari lahan pembuangan. Boleh dikata tak ada lagi ruang atau celah bagi Pemda untuk berkoordinasi. Seakan telah di bai’at dengan doktrin “Tolak”, maka setiap audensi tentang sampah selalu mentah menemui jalan buntu.

Dan yang lebih aneh lagi, para pendemo penolakan sampah kebanyakan malah bukan warga dekat lokasi TPA. Seperti yang terjadi di TPA Troketon dan aksi penolakan yang terjadi di Gantiwarno. Setelah melalui beberapa penelusuran, ternyata kebanyakan mereka bukan penduduk setempat. Seakan ada kekuatan besar bernuansa politis menggerakan aksi mereka. Anda bisa bayangkan puluhan nenek nenek ikut demo di depan kantor Pemda Klaten. Sementara dipinggir jalan dua mobil pikup disulap menjadi dapur umum. Dengan lauk dan minum cukup mewah seperti daging, ayam telur dan sayuran. Apakah mungkin mereka membiayai sendiri aksi tersebut.

Maaf sangat mustahil jika warga melakukan itu secara mandiri tanpa ada yang “ngompori”. Apalagi mereka harus kehilangan waktu dan tenaga. Lantas siapa yang dengan suka rela mau menanggung beaya demo warga.  Akhirnya timbul pertanyaan siapa aktor dibalik semua gerakan demo penolakan sampah di Klaten.

Masalah sampah semakin komplek ketika muncul gerakan bersih-bersih, dengan sasaran sungai dan waduk rowo jombor. Gerakan atau kebijakan yang sama sekali tidak diketahui Bupati ini semakin membuat masalah menjadi komplek. Gerakan bersih-bersih justru menimbulkan masalah baru. Dimana kotoran sampah sungai hanya ditumpuk ditepi sungai dan ini sebuah persoalan.

Apa yang ada dibenak mereka. Apakah “poro –poro” yang terlibat dalam gerakan bersih bersih sungai tidak tahu kalau Klaten dalam kondisi “darurat sampah”. Sehingga tidak seharusnya melakukan gerakan tersebut disaat seperti ini. Karena akibat gerakan tersebut justru menghasilkan tumpukan sampah.

Apakah gerakan ini juga gerakan politis atau disengaja?. Wallahualam.Tapi yang jelas gerakan bersih-bersih sungai yang digalakkan ketika Klaten sedang dilanda krisis sampah kurang pas waktunya. Apakah mungkin mereka justru bagian dari sistim atau jaringan dibalik menggunungnya sampah di Klaten, semua belum jelas dan masih samar. Namun jika kita lihat dari pola gerakan semua berjalan begitu sistimatis dan saling melengkapi.

Benarkah masalah sampah merupakan aksi “sabotase” yang sengaja diciptakan untuk mendongkel pemerintahan Bu Hartini. Dan mungkinkan sampah mampu menurunkan Hj Sri Hartini dari kursi AD 1. Jika analisa perkiraan atau praduga ini benar, maka rumor adanya scenario, upaya melengserkan Bupati yang dilakukan oleh kekuatan luar yang berkolaborasi dengan orang dalam bukan lagi sebuah isapan jempol.

Namun terlepas dari semua analisa dan praduga diatas. Masalah sampah adalah masalah kita bersama yang harus segera dicari solusi jalan keluar yang terbaik. Dan saya yakin dalam hal Bupati tidak tinggal diam. Belajar dari kasus TPA Bantar Gebang di Bekasi yang akhirnya wargapun bisa menerima, saya yakin Bu Hartinipun sudah punya cara dan solusi tersendiri mengatasi sampah di Klaten. Mari kita tunggu olah kridaning Srikandi Klaten dalam upaya menuju Klaten yang maju mandiri dan berdaya saing. (red)
      
Share on Google Plus

Salam mattanes

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...