Dengan Mesin Jahit Butut. Penjahit Mas Min Kidul Palang Sepur Tetap Eksis Hingga Kini.


Mas Mis dibantu sang istri tercinta
Klaten Mattanews.com – Glamour dunia fashion setiap tahun terus mengalami perubahan model mengikuti trend jaman yang selalu up to date. Galeri fasion, toko busana, butik selalu menyediakan busana dengan berbagai corak dan harga bervariatif. Mulai dari kelas ratusan ribu hingga jutaan.

Namun tidak semua orang cocok dengan pakaian jadi made in toko. Selain harga yang lumayan mahal, terkadang model tidak sesuai dengan selera yang diinginkan. Maka tak sedikit mereka yang uangnya pas-pasan atau punya selera pribadi lebih suka “ndandake” atau membuat pakaian pada tukang jahit langganannya. 

Di Klaten salah satu penjahit yang sudah punya nama beken ialah penjahit H.Sukimin atau lebih dikenal dengan sebutan mas Min kios pojok kidul palang kereta api Tegal Sepur Klaten. Sosok lelaki 61 tahun ini sudah menekuni profesianya sejak tahun 1972. Dengan mesin jahit Singer butut pancal kaki, hingga kini masih menerima jahitan pelanggannya. Glamor busana di butik dan toko fashion tak pernah merupakan saingan bagi dirinya.

“Banyak penjahit sekarang gulung tikar karena kalah dengan munculnya toko pakaian atau butik dengan sejuta model busana. Namun bagi saya keberadaan mereka tidak begitu berpengaruh, karena tidak semua orang suka beli pakaian jadi. Bagi mereka yang memiliki selera tinggi justru lebih memilih tukang jahit seperti saya untuk membuat pakaiannya. Kebetulan semua pelanggan saya sampai sekarang masih setia, apalagi menjelang lebaran”. Ujar suami Hj Ngatini ini.

Walau masih mengandalkan mesin jahit butut merek Singer yang dipancal pakai kaki, hari – hari biasa atau menjelang lebaran order terus datang silih berganti. Dengan tarif hanya Rp 125.000/stel untuk pakaian biasa dan Rp 150.000/stel untuk pakaian seragam (polisi) penjahit pak Min seakan tak pernah lekang oleh pesatnya dunia fashion.
Mas Min 44 tahun sebagai penjahit tak pernah merasa lelah
44 tahun berprofesi sebagai penjahit tak pernah membuat jenuh bapak 4 anak ini. Dibantu istri dan dua tenaganya, saat ini dirinya masih mampu menjahit 8 stel pakaian dalam sehari. Jumlah ini berkurang jauh ketika dirinya masih muda, dimana saat ini sehari mampu melahap 15 hingga 20 stel pakaian dalam sehari.” Kalau saya sendiri sehari hanya mampu menggarap 2 stel pakaian, namun jika dibantu anak buah sehari bisa mencapai 8 hingga 10 stel”, ujarnya saat ditemui dirumahnya di Macanan Karanganom Klaten Utara.   

Membuat pakaian (ndadake) baju bisa diibaratkan orang merokok. Dimana harga tidak lagi jadi masalah yang penting cocok dan sesuai selera. Sama halnya dengan mas Min yang satu ini. Entah mengapa hingga saat ini garapan tak pernah sepi dari pelanggan. Bahkan beberapa instansi pemerintahan seperti Polres, LP, satpam atau perusahaan hingga kini masih mempercakan dirinya untuk menjahit seragam dinas.    

Lebaran memang menjadi masa panen para penjahit. Demikian pula yang dialami mas Min saat ini. Garapan yang halus, tepat waktu dan relatif murah, membuat penjahit mas Min hingga kini tetap menjadi pilihan utama sebagian masyarakat Klaten untuk “ndandakke” pakaian pribadinya. Mas Min memang tidak muda lagi seperti era tahun 80an. Namun kreatifitas selalu mengikuti trend mode, membuat kios penjahitnya selalu penuh order. ”Saya selalu mencoba mengikuti permintaan pelanggan dalam hal model dan corak pakaian. Makanya selain saya menyedikan bahan kain, biasanya pelanggan sudah membawa kain sendiri dari rumah”, ujar mas Min.(get/hug)  


Share on Google Plus

Salam Unknown

2 komentar:

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...