Prestasi Olah raga Terpuruk.Saatnya Klaten Punya Sport Centre.

Ketua KONI Klaten H.Otto Saksono.ST bersama ketua DPD Golkar Klaten H.Anang Widayaka
KLATEN MATTANEWS.COM – Dunia olah raga Klaten terpuruk dan terjun bebas dari raihan prestasi. Kabupaten berpenduduk 1,3 juta yang dulu menempati rangking 3 se jawa Tengah dalam hal olah raga kini puas menempati posisi juru kunci diantara Kabupaten yang ada. Tak ada perhatian serus dari Pemda membuat banyak atlet berbakat lari membela daerah lain karena Pemda Klaten sendiri tak mampu “ngragadi” mereka. Sementara dana dari APBD yang dikucurkan ke KONI hanya berkisar Rp 25 juta/tahun untuk satu cabang olah raga.

“Dana dari Pemda untuk pembinaan oralah raga di Klaten sebesar Rp 1 milliar per tahun mas. Namun jika dibagi untuk 33 cabang olah raga yang dipihaki per cabor hanya kebagian sekitar Rp 25 juta percabor untuk satu tahun. Maka jangan heran jika prestasi olah raga di Klaten sekarang menempati poisisi juru kunci dan banyak atlet dengana prestasi nasional membela daerah lain”, demikian ditegaskan Ketua KONI Klaten H. Otto Saksoso.ST diruang kerjanya.

Menurut Otto solusi terbaik mengatasi masalah tersebut, sudah saatnya Pemda dengan pemimpin yang baru memperhatikan dan memihaki sarana dan prasarana atlet termasuk kesejahteraanya. Tanpa dua hal tersebut mustahil Klaten mampu berprestasi disegala cabang olaha raga. Padahal Klaten selama ini dikenala sebagai gudangnya atlet Nasional diberbagai cabang olah raga seperti, panahan, sepak takraw, pencak silat, Bulu tangkis, tenis meja, tenis dan lainnya.

Pertama lanjut mantan ketua Gapensi dan Kadin Klaten ini ialah Pemda harus berani membuat saran olah raga dalam bentuk sport center. Selama ini tidak ada sataaupun sarana olah raga di Klaten yang memiliki standar Nasional, sehingga prestasi atlet selalu gagal jika sampai ditingkat Nasional.

“Ditingkat daerah atlet kita baik. Tapi begitu tampil di level Nasional pasti KO. Mengapa ini terjadi, karena semua sarana dan prasarana yang kita miliki tak ada yang bertaraf Nasional, jadi fisik dan stamina pasti kedodoran”, jelasnya.

Kedua masalah kesejahteraan atlet. Hal ini perlu diperhatikan dengan menggandeng semua potensi yang ada seperti para pengusaha dan swasta yang ada di Klaten. Selama ini banyak atlet tingkat Nasional Klaten “dibeli” Kabupaten lain. Mereka terpaksa membela daerah lain karena mendapat jaminan kesejahteraan yang layak serta pekerajaan. Sementara jika tetap di Klaten tak sedikit atlet kita yang nyambi jadi laden tukang. Terakir 3 atlet panahan Nasional kita dibeli oleh Kabupaten lain. Saya nggak bisa berbuat banyak karena disana dia diberi pekerjaan dan kesejahteraan yang layak”, tandas Otto. (ulasan lebih lengkap baca tabloid mattanews.tev)
Share on Google Plus

Salam mattanes

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...