Kekuasaan Jadi Magnet Bagi Para "Penari Topeng".

Topeng Selalu menutup wajah asli pelaku
Demokrasi yang kini bergulir sejak reformasi puluhan tahun lalu menjadi pilihan bagi bangsa kita seiring dengan keberhasilan reformasi. Tentu  saja demokrasi sebagai alat untuk mengatur penyelenggaraan pemerintahaan. Demokrasi menjadi idiom yang mutlak diperlukan untuk mengatur kekuasaan. Pelaksaan pemilihan langsung yang dilakukan Indonesia sejak 1999 berikut Pemilihan Presiden menjadi pilihan yang dilakukan.

Tapi hasil pemilu yang demokratis bukan perkara yang mudah. Pemilihan preside secara langsung diikuti dengan pemilihan gubernur serta kepala daerah atau walikota secara langsung merupakan pernik pernik dalam mengggapai kekuasaan. Tantu saja kekuasaan yang demokratis menjadi nubuat bagi kesejahteraan atau dalam soal lain demokrasi menjadi pararel pembrentasan kemiskinan.

Kredeo seorang obelisk ekonomi 2000, Amartya Sen mengatakan demokrasi berbanding lurus dengan kemiskinan. Semakin tinggi derajat domokrasi, tingkat kemiskinan semakin kecil. Dalam kontek kekuasan daerah yang dimanifestasikan melalui Pilkada langsung, pemilihan langsung menjadi menjadi pangkal utama.

Seiring dengan munculnya tokoh tokoh lokal, semacam Pemilihan Bupati menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka yang gandrung terhadap kekuasaan. Apakah itu partai pendukung ataupun sekadar sukarelawan atau tim sukses sorang bupati.

 Ketika seorang calon bupati tampil tentu pendukung atau simpatisannya berada di belakang untuk menyukseskan calonnya. Mereka ada yang berperilaku mendukung sepenuh hati, ada yang pura pura mendukung dan ada yang ‘berani mati’ sebagai martir calonnya. Namun di balik dukungannya tentu ada “hitungan” tersendiri dengan kata amsal, “jika calonku terpilih menjadi bupati, aku harus tagih janji terhadap pengorbananku.” Tentu politik balas budi jadi hitungan yang utama. Bukan sesuatu yang haram jika kita bicara balas budi.

Namun para pendukung semula berantipati terhadap calon terpilih, tentu segera berubah haluan ketika calonnya kalah. Mereka tidak tinggal diam dan menyerah begitu saja. Dengan berbagai tipu muslihat dan caranya mereka mremo mremo mendekat dan taampil seolah menjadi loyalis yang pertama di mata calon terpilih.  Wajah wajah lusuh yang dulu berseberangan justru selalu tampil digarda terdepan. Mereka memakai topeng yang bisa menyulap dirinya seolah olah menjadi pendukung yang sangat loyalis, demi menyingkirkan pendukung awal bupati terpilih yang setia.

Kini ‘topeng topeng’ itu mulai berkeliaran dan menari-nari dihadapan Bupati terpilih. Padahal kemanakah diri mereka saat kampanye jelang Pilkada Desember lalu..? Dan apakah para penari topeng itu akan mendelik dan beringsut dengan pertanyaan itu? Tentu tidak, para pemaki topeng itu justru makin beringas. Mereka semakin gila memainkan ritme tariannya. Dan akhirnya Bupati terpilih harus tetap hati hati dan selalu wapada. Karena  “Dimana Angin Bertiup Aku Ikut” itulah semboyan mereka.

Topeng topeng yang kini mulai terlihati, tidak hanya dari para pendukung yang semu.  Tapi juga tumbuh subur di kalangan PNS dan pejabat. Sikap PNS yang kini cepat beralih haluan tentu punya maksud penyelematan diri. Tentu pula untuk masa depan karier dan jabatannya. Dan semua itu kini amat sangat jelas sekali. Yang dulu berada di seberang jalan kini mulai mendekat. Bahkan merekapun tak segan untuk memfitnah pendukung setia Bupati terpilih.

Kemana akan lari..? ya tentu akan menempel pada kekuasaan. Kekusaan memang magnet tersendiri. Dan berharap Bupati terpilih  tetaplah waspasda. Mereka hanya ovunturir yang bias berubah setiap saat ini. Ini terbukti ketika Pilkada selesai. Selamat bekerja Bupati-Wakil Bupati terpilih. Jangan terpengaruh para opurtunis. Bahaya. Selamat menenuaikan tugas lima tahun mendatang.
 (penulis adalah wartawan senior dan pemerhati politik)
Share on Google Plus

Salam mattanes

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...