dr Dinar R. Specialist THT RSUD Bagas Waras Klaten.Selamatkan Anak Dari Ketulian.

dr Dinar R. diruang praktek poly THT RSUD Bagas Waras Klaten.
KLATEN MATTANEWS – RSUD Bagas waras Klaten terus berbenah dan semakin berkembang itu pasti. Sejak diresmikan sekitar 6 bulan lalu rumah sakit kebanggaan warga Klaten ini semakin mendapat kepercayaan dari masyarakat. Hal itu terlihat dari jumlah kunjungan tiap bulan yang naik secara signifikan. Mulai dari 6 pasien di hari pertama pengoprasian kini tiap bulan sekitar 1600 pasien berkunjung di RSUD.

Fasilitas, peralatan yang modern serta layanan yang baik dan ramah serta ketepatan kecepatan dalam menangani pasien menjadi kunci mengapa RSUD Bagas Waras Buntalan Klaten kini menjadai pilihan utama rakyat Klaten dan sekitarnya untuk berobat.

Salah satu layanan yang kini menjadi andalan dan primadona RSUD ialah keberadaan poly THT. Layanan ini hampir setiap hari penuh pengunjung yang ingin berobat. Ditangani dokter yang profesional dibidangnya yakni dr Dinar R, tampaknya banyak pasien yang merasa cocok dan mengakui ketepatan kecepataan dan keakuratan menganalisa dalam menangani penyakit. Sehingga sejak dibuka pukul 08.00 poly ini selalu penuh pasien.

“Sebenarnya saya tidak punya mimpi ingin menjadi seorang dokter spesialis THT. Namun pengalaman dan perjalan waktu mengharuskan saya fokus menggeluti jenis penyakit yang erat kaitannya dengan THT. Dan Alhamdullilah sejak menjadi dokter spesialis THT telah banyak pasien yang terbantu”, ujarnya saat menerima Mattanews di ruang kerjanya.  

Saat itu ketika masih menjadi dokter di Puskesmas Kota Klaten, dirinya sering melihat pasien yang terpaksa harus dirujuk ke RS Tegalyoso karena suatu penyakit. Padahal banyak saat itu tenaga medis di Puskesmas mampu menanganinya. Tapi karena semua masih doker biasa, maka secara etik kedokteran hal terus kurang pas dilakukan. Sehingga pasien yang seharusnya bisa ditangani dibawa ke RS Tegalyoso. Dari sinilah akhirnya dirinya berani mengambil spesialis THT.  
dr Dinar rileks sebentar disaat jam istirahat.
Menjadi dokterpun sebenarnya bukan pilihan hidupnya. Menurut ibu dua anak ini cita-cita awal sejak masih kecil ialah menjadi seoarang guru. Namun entah mengapa saat kuliah dirinya mulai tertarik dunia kedokteran. Yang jelas jiwa sosialnya dalam membantu sesama menjadi pondasi utama dirinya total menjadi dokter. ”Jiwa dan hati ini tak pernah bisa diam saat melihat orang dalam kesusahan karena menderita penyakit. Disinilah timbul jiwa kemanusiaan saya, bagaimana dan dengan cara apa saya bisa meringankan beban penderitaan mereka. Maka sejak itulah terbesit dalam pikiran, saya harus menjadi seorang dokter demi menolong nyawa sesama”, ujarnya.

Satu hal tak terlupakan hingga kini menurut dr Dinar saat dirinya mampu menyembuhkan seorang gadis kecil yang masih berusia 10 tahun dari ancaman ketulian. Gadis kecil asal Purwodadi tersebut kini sudah tumbuh normal dengan pendengaran yang sempurna, setelah 3 bulan menjadi pasien utamanya. Sat itu lanjut dokter yang sempat bertugas di Puskesmas kota ini, Dewi nama sang anak datang kerumah prakteknya dalam kondisi menderita penyakit kuping kronis nyaris mengalami ketulian (budek). Namun berkat ketelatenan sang berobat dan dirinya yang terus berupaya beriktiar membantu kesembuhan gadis kecil tersebut kini sembuh total.

“ Ini pengalaman saya yang tak terlupakan sejak 2 tahun menjadi dokter THT. Telah terjadi hubungan istimewa antara saya dengan anak itu. Dan kini kita sering SMSan untuk saling mengabarkan keadaan dan kesehatan. Dia telah menjadi anak saya dan saya berterima kasih pada Tuhan karena telah membantu menyembuhkan dia”, ujarnya.(get)

Share on Google Plus

Salam mattanes

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...