Pemberengusan PERS Terjadi di Pengadilan Negeri Klaten. Wartawan Dilarang Ambil Gambar..

Ilustrasi pemberengusan PERS ala Pengadilan Negeri Klaten
KLATEN MATTANEWS.COM Aksi pemberengusan pada kebebasan Pers di era pemerintahan Orde Baru kembali terjadi di Klaten. Tindakan melarang wartawan mengambil gambar dilakukan oleh sejumlah pejabat di Pengadilan negeri Klaten. Aksi sok kuasa dan arogansi para pejabat PN Klaten ini membuat sejumlah jurnalis di Klaten yang sering melakukan peliputan kecewa, karena sulit mendapatkan gambar dokumentasi layak tayang.

Banyak wartawan yang bertugas di PN Klaten terpaksa harus adu mulut dan adu argumentasi hanya untuk mendapatkan gambar saat sidang berlangsung. Namun beberapa pejabat PN dengan arogannya melarang semua wartawan tanpa terkecuali, untuk mengambil gambar di setiap persidangan yang sedang berjalan. Aksi pelarangan model pemerintahan otoriter ini akhirnya membuat banyak wartawan malas meliput acara di PN Klaten. Ketertutupan ini akhirnya memunculkan pertanyaan, Ada apa dibalik hasil keputusan sidang? Dan Mengapa tidak boleh difoto?.

Menurut salah satu wartawan yang terbiasa melakukan liputan diPN Klaten menjelaskan dia dan teman-temannya sering diperlakukan kasar, diusir oleh petugas PN saat akan mengambil gambar jalannya persidangan. Dengan dalih mengganggu jalannya persiadangan, mereka mengusir para wartawan dari ruangan.

“Saya dan teman-teman sering terintimidasi daan mendapat perlakuan kurang menyenangakan saat meliput acara di Pengadilan Klaten. Padahal kita bekerja sesuai kode etik jurnalistik dan berpegang pada UU pokok perss”, ujar salah satu wartawan.      

Sementara itu, Humas Pengadilan Negeri Klaten Wahyu Setyoadi, mengatakan sifatnya sidang terbuka sehingga masyarakat bisa menilai.  Jika terjadi kekecewaan  dan ada indikasi oknum perilaku hakim mungkin melakukan rekayasa, silahkan warga mengadukan ke komisi yudisial.

Terkait media yang  dibatasi saat mengambil foto itu kebijakan ketua majelis hakim, tetapi sebetulnya  bebas silahkan asal tidak mengganggu  (tidak ada blizt dan suara) ada batasannya mengambil dari depan. “Nanti akan kita sampaikan kepada ketua majelis,” tandasnya. (ono).  



Share on Google Plus

Salam mattanes

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...