Djie Liong Houw "Ho-Ho", Alias Edy Sulistyanto Bapak Ketoprak Klaten.

Bermain sebagai pak Tulus saat pentas di TV Yogyakarta tahun 1997
KLATEN MATTANEWS – Siapa yang tak kenal dengan tokoh yang satu ini. Pendiam, sederhana, ramah dan murah senyum namun sedikit pemalu. Itulah mas Edy Sulistyanto yang pernah punya nama asli Djie Liong Houw alia Ho-Ho. Walau memiliki darah ketuunan Cina, namun tak sedikitpun kita akan menemukan gaya, tampilan dan aksen atau bahasa Cina terlontar dan terbawa dalam kesehariannya. Budaya jawa, boso kromo inggil yang halus, serta tata cara tradisi sungkeman dan budaya jawa lainnya justru ada dan menyatu dalam kehidupan sehari-harinya bersama seluruh keluarga dan karyawannya.   

Jika di Jogyakarta ada Bondan Nusantara, ada SH Mintarja, Ada WD Widayat dan lainnya sebagai pemerhati dan pelestari budaya leluhur seperti ketoprak, maka tak berlebihan jika di Klaten kita menempatkan sosok komisaris Amigo Group ini sebagai tokoh pelestari budaya Jawa dan bapak Ketoprak Klaten. Karena hanya beliaulah satu satunya orang Klaten yang sejak dulu hingga kini begitu peduli nguri-uri semua kebudayaan Jawa seperti Ketoprak, kerawitan, wayang orang dan tari-tarian. Bahkan kecintaanya pada budaya ketoprak sudaah ada sejak kecil ketika di alon-alon Klaten masih megah berdiri tobong ketoprak milik group Siswo Budoyo ditahun 1970an.
Edy Sulistyanto beserta istri dan ketiga anak serta menantu di 40 tahun Amigo
Lelaki pemalu kelahiran 26 Agustus 1954 ini memang digadang-gadang oleh ayahnya sebagai pemain bola sehingga panggilannya diwaktu kecil Ho-Ho. Ho-ho adalah panggilan Liong Houw pemain Bola Nasional yang begitu moncer dan meleganda ditahun 1950an. Namun sayang cita cita sang Ayah (alex) tidak ada pada anaknya yang ke 4 dari 8 bersaudara ini. Anaknya justru senang wayang dan akrab dalam dunia budaya.

Sejak masih kecil Edy sudah suka membaca buku. Khususnya komik Mahabarata karangan RA Kosasih. Bahkan hingga kini ada sekitar 40 buku peninggalan neneknya masih tersimpan rapi di rak lemarinya. Sebuah jiwa Nasionalis yang begitu tingi dan hebat telah tertanam begitu kuat dihatinya, walau dirinya memiliki marga Cina.
Edy berpakaian angkatan laut bersama papah dan mamah tercinta dan suadara
Sejak itulah pupus sudah sang ayah memiliki cita-cita sang anak jadi pemain bola yang hebat. Karena sejak itulah sang ayah tahu jika telah mengalir darah seni di tubuh anaknya mewarisi darah kakek dan neneknya. Dan Edy pun mulai mencintai semua kesenian Jawa, mulai dari wayang, ketoprak, tari, kerawitan hingga pada budaya Jawa lainnya.

Waktu kecil tak pernah disia-siakan nonton ketoprak di alonalon Klaten. Karena di tempat ini dulu selalu ada tobong ketoprak yang megah, terbuat dari gedek dan rapak (daun tebu yang kering) sebagai atapnya. Tiap menjelang lebaran dua group Ketoprak yakni Siswo Buoyo dan Wahyu Budoyo selalu setiap mengibur masyarakat Klaten. Jika tidak dapat tempat dikursi dirinya terbiasa nonton di nggetek. Yakni tempat duduk paling belakang dengan alas batangan bambu yang ditata berjajar menyerupai tempat tidur.
Pintar acting ketoprak  sejak usia 5 tahun
Main ketoprak dilakoni sejak masih duduk dibangku SMP. Tahun 1991 main di Sriwedari Solo, Bahkan pada tahun 1997 dirinya sudah mulai tampil di Bentara Budaya Jakarta. Tahun 1998 main di TV Yogyakarta bersama-teman teman pengusaha Delanggu. Kecintaaanya pada ketoprak inilah yang akhirya membuat komisaris yang juga pemilik Amigo Group Klaten hingga kini punya tanggung jawab moral untuk tetap melestarikan semua budaya Jawa. Menganggumkan.   

Tahun 1997 merupakan toggak bagi keluarga besar Amigo menggeluti dan menggelar konser ketoprak. Sejak itu disetai event dan kesempatan Amigo selalu menampilkan kesenian tradisional yang nyaris punah ini. Bahkan tidak hanya sampai disitu. Penanaman dan pemahaman serta ajaran budaya Jawa diterapkan pula dalam dunia usaha yang dikelolanya. Maka tak heran jika ditahun 1989 muncul istilah, bakdomu, bakdoku bakdo mobil. Semua asesoris toko serta pakaian karyawan selalu bernuasa adat Jawa disetiap event kegiatan. Bahkan dalama kehidupan sehar-hari dalam keluarga keluarga ini mengunakan bahasa Jawa Kromo yang halus. Dan hebatnya lagi semua anak anaknya pandai membaca dan menulis huruf jawa ho-no-co-ro-ko, walau sekarang belajar dan kuliah di Australia.
Kerawitan SD Kristen I Juara Nasional adalah salah satu bimbingan Beliau
Bagaimana kesenian ketoprak, kerawitan, wayang dan tari tidak hilang dan selalu dicintai rakyat Klaten. Dari sinilah akhirnya beliau mulai menggarap kesenian Jawa pada anak usia dini. Sebagai langkah awal dirinya mengajak siswa TK,SD dan SMP Kristen I Klaten yang mana dulu sebagai tempat dirinya bersekolah untuk memberi pelajaran ektra kulikuler kesenian jawa, seperti ketoprak, tari, kerawitan sinden dan lainnya.
Sumunarring Surya pagelaran ketoprak kolosal di JEC Jogya Minggu 31 feb 2016
Pucuk dicinta ulam tiba. Apa yang jadi harapannya mendapat respon positip ai siswa dan guru sekolah. Dan ssejak itulah pertunjukan ketoprak, kerawitan bahkan tari yang dipentaskan anak anak dari TK,SD dan SMP Kristen I Klaten selalu mendapat juara ditingkat Nasional dan mendapat apluse luar biasa dari penonton.

Kini bekerja sama dengan dewan kesenian Klaten dan omah wayang serta sekolah, bapak dari 3 anak ini selalu memberi suport dan dukungan agar kesenian tradisional tetap eksis dan berkembang di Klaten. Hasilnyapun luar biasa, hampir tiap tahun sekolah di Klaten selalu enampilkan festival ketoprak atau loma krawitan. Dan hampir disetiap mengikuti lomba tingkat Nasonal Klaten selalu tampil sebagai Jawara.
Edy Sulistyanto Komisaris Utama Amigo Group Klaten
Itulah sosok pendiam namun sang pekerja keras yang ulet. Sudah sepantasnya sosok Edy Sulistyato menyandang predikat Bapak ketoprak Klaten dan plestari budaya jawa. Tak belebihan jika pemerintah Kabupaten Klaten nanti membei penghargaan pada beliau karena jasa dan penngabdiannya dibidang seni budaya tradisional. “Saya orang Jawa dan saya cinta betul dengan budaya leluhur dan  tanah kelahiran saya, Indonesia”,ungkapan seorang Edy. Selamat Pak Edy terima kasih karena panjenengan Ketoprak masih eksis di Klaten.(batavia)
Share on Google Plus

Salam mattanews com

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...