Kabinet Hartini dan Lingkaran "Para Sengkuni".

Tokoh Sengkuni dikenal licik dan berjiwa penjilat
Mattanews.com – Klaten telah memiliki pemimpin baru. Lima tahun kedepan mulai 2016 – 2021 . Sri Hartini – Sri Mulyani, dua wanita hebat Klaten ini akan menjadi Bupati dan wakil Bupati Klaten sekaligus mencatatkan dirinya dalam buku Guines Book karena baru pertama kali terjadi dalam sejarah, dua wanita berdampingan memimpin sebuah pemerintahan. Dua Srikandi ini mampu mematahkan dua rival politiknya dalam Pilkada Klaten 9 Desember lalu.

Banyak pihak meragukan kepemimpin wanita dalam sebuah pemerintahan, walaupun hal tersebut sering terbantahkan dengan banyaknya prestasi kaum hama dalam memegang cambuk pimpinan. Sebut Saja walikota Surabaya, mantan presiden Megawati dan puluhan tokoh dunia seperti Benazir Buttho, Qorazon Aquino, Margharet Teacher, Aung Shin,Suu Kyi dan masih banyak lagi. Bahkan kepemimpinan Wanita sudah diakui sejak jaman kerajaan, mulai dari keberadaan Putri Sima dari kerajaan kalingga, Sri Buana Tungga Dewi raja Majapahit, Retno Dumillah panglima dari Singosari, hingga Tjut Nya Dien pahlawan dari negeri serambi Mekah Aceh. Maka sebuah kemunduran berpolitik dan berfikir jika saat ini kita masih mempermasalahkan kepemimpinan wanita.

Duet Sri Hartini- Sri Mulyani memimpin Klaten kedepan memang tidak mudah. Terlepas “keterbatasannya” dalam memimpin sebuah birokrasi, munculnya dua Srikandi ini memang pada posisi kurang menguntungkan, dimana kondisi “pemerintahan” di Pemkab Klaten saat ini dalam posisi “terkotak-kotak”.
Kantor Pemkab Klaten Jawa Tengah.
Diakui atau tidak, mau tidak mau, saat ini jajaran birokrasi di Pemkab Klaten memang kurang kondusif. “Perang” antar pejabat dalam membangun pengaruh dan jaringan sudah begitu kentara. Di awal tahun 2000 an kondisi seperi ini masih bisa dinetralisir dan terakomodir. Saat itu ada kelompok 12, ada jaringan UGM, menyusul Klik Sarjono, klik Purnomo Hadi dan lainnya. Kini “perang” antar pejabat dengan klik-klik baru kembali terjadi dan lebih beringas.

Semua tampak jelas jelang pelaksanaan Pilkada. Banyak antar pejabat saling sikut dan “Bunuh”. Fenomena ini terjadi di tataran level atas. Ada yang tampil vulgar, ada yang diam, ada yang waton selamet dan ada juga yang bekerja dibawah tanah. Klik yang terjadi ini diikuti  jaringan kebawah demi mengamankan kepentingan “bisnis” proyeknya di Pemda.

Dalam Pemerintahan kedepan Dua Srikandi Klaten ini akan bekerja bersama mereka. Sebuah pertanyaan sederhana, Siapakah yang akan dipercaya masuk dalam “Kabinet” kerja Hartini nanti. Apakah “orang-orang” seperti itu yang selalu memakai “topeng kesetiaan” akan tetap dipakai. Apakah mereka yang berbondong-bondong datang dan mengucapkan  selamat sehari setelah pasangan Srikandi dipastikan uggul dalam penghitungan akhir, yang akan dipakai.

Dalam Pilkada kemarin, bagaimana sikap dan kesetiaan mereka sudah jelas. Bagaimana perolehan suara didaerah mereka, bisa dijadikan tolok ukur sejauh mana totalitas dan loyalitas mereka pertaruhkan. Apakah semua itu bisa dihapus hanya dengan datang paling depan dan mengucapkan “selamat dan sukses buk kita sudah menang”.
Dua Srikandi Bupati Klaten tahun 2016-2021
Semua masih samar, siapa yang akan duduk menjadi kabinet kerja Hartini di lima tahun pemerintahanya. Yang jelas sudah saatnya Hartini bisa membersihkan kabinetnya dari orang-orang bermental seperti itu. Sudah saatnya Pemda Klaten bebas dari pejabat yang bermental pejabat Asal Ibu Senang. Bupati harus berani menolak segala intervensi “kelompok” atau “klik” yang mencoba “mendekat” demi mengamankan kepentingan kelompok dan pribadinya. Kedepan Ibu Hartini harus pandai dan cermat memilih para pembantunya yang benar benar mau bekerja dan teruji totalitas dan loyalitasnya.

Kita yakin 5 tahun menjadi wakil  Bupati dan 10 tahun mendampingi Bupati, dua Srikandi Klaten ini sudah cukup paham dan tahu, apa yang harus dilakukan. Dan tahu betul barisan mana saja yang hanya bisa berbunyi “ Asal Bapak ibu Senang”. Semua hak prerogatif Bupati. Kita semua berharap Ibu Hartini mampu memilih kabinetnya dengan baik, cermat dan cerdas. Demi kemajuan dan kesejahteraan rakyat Klaten Ibu Hartini harus berani menindak dan membuang “manusia-manusia bertopeng”, yang selama ini bebas berkeliaran menari-nari memporak porandakan aturan dan tatanan pemerintahan. Jangan sampai pemerintahan kedepan banyak “sengkuni” mengelilingi Srikandi. Klaten harus berubah. Saatnya Klaten berbenah. Bukan pejabat yang setiap hari keluar masuk rumah dinas yang kita cari. Tapi Klaten butuh sosok pekerja bukan penjilat.( red )    
   
Share on Google Plus

Salam mattanes

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan dengan menyertakan identitas tentu akan lebih berharga...